Eduteater

Keberadaan Tata Panggung Dalam Pementasan Teater (4)

Oleh: Eko Santosa

4. Tata Panggung dan Elemen Artistik Lainnya

Koneksi antara tata panggung dengan tata artistik lain sangat erat dan saling mempengaruhi terutama dengan tata busana dan tata cahaya. Secara umum, antara tata busana dan tata panggung terkait soal warna dan gaya. Dalam konteks teater realis, gaya bangunan pada zaman tertentu seolah-olah satu paket dengan gaya tata busana. Di dalam pementasan teater berlatar belakang tahun-tahun tertentu ketika dua elemen artistik ini benar-benar padu perlu mendapatkan perhatikan serius. Kesalahan-kesalahan dari segi tata panggung maupun tata busana membuat pementasan menjadi kehilangan logikanya. Umum terjadi di dalam sinema televisi berseri berdasarkan sejarah misalnya, dua elemen ini kurang padu di mana gaya bangunan dan busana tidak menggambarkan satu zaman. Di dalam teater seringkali terjadi hal semacam ini. Penelisikan sejarah yang kurang cermat biasanya yang menjadi sebab utamanya. Belum lagi jika kedua elemen ini dikaitkan dengan musim yang sedang berjalan. Misalnya saja, musim dingin di lingkungan pegunungan tidak memungkinkan pemeran tampil dalam balutan busana musim panas. Demikian pula dengan bentuk bangunan yang ditampilkan. Masyarakat gunung yang hidup sederhana membangun rumahnya dengan atap yang tidak tinggi demi melindungi dari hawa dingin ini. Jadi, tidak logis kiranya membangun set dengan latar masyarakat gunung tapi bangunannya menjulang tinggi. Secara jeli, hal ini mesti ditelisik.

baca juga : Keberadaan Tata Panggung Dalam Pementasan Teater (3)

Terkait soal warna, pemaduan konsep panggung dan busana perlu memperhatikan aspek budaya. Misalnya saya masyarakat pantai yang lebih menyukai  warna-warna cerah berbeda dengan masyarakat pertanian. Demikian pula dengan kota, kampung, area di satu lingkup budaya tertentu berbeda dengan lainnya. Untuk memperdalam hal ini, naskah lakon tidaklah cukup memberikan informasi. Oleh karena itulah, telisik pustaka atau semacam riset perlu dilakukan agar tata panggung dan busana yang tersaji dalam pementasan benar-benark menggambarkan makna lakon. Kekeliruan yang seringkali terjadi dan dilakukan oleh penata artistik yaitu seringkali mengabaikan detail tata panggung dan busana serta kesesuainnya dengan konsep pertunjukan. Artinya, semua apa yang dijelaskan di atas dapat berlaku sebagaimana konsep pertunjukan itu disusun. Namun yang seringkali terjadi ada jarak atau pemisahan tidak sengaja antara konsep pertunjukan dengan konsep tata panggung dan tata busana. Masing-masing penata kemudian menginterpretasi sendiri lakon yang akan dipentaskan. Semuanya seolah sudah saling mengait padahal perbedaan interpretasi artistik dapat merancukan makna keseluruhan lakon. Jika kondisi semacam ini terjadi, maka pertunjukan hanya tinggal mengharapkan kepiawaian para aktor untuk memberi makna lakon melalui aksinya.

Selain gaya tampilan dan warna, hal yang tidak boleh dilupakan oleh penata panggung dalam kaitannya dengan tata busana adalah teknik pembuatan set. Teknik perlu diperhatikan karena secara langsung menyangkut material yang digunakan. Misalnya saya, dalam satu adegan seseorang berada di teras sebuah rumah dengan pakaian basah kuyup karena kehujanan dan langsung duduk di bangku yang ada. Jika cat yang digunakan untuk mewarnai bangku tidak berbahan akrilik dan tidak benar-benar kering bisa jadi cat itu akan menempel pada busana pemeran. Untuk menjaga hal-hal semacam ini tidak terjadi, latihan teknik antara tata panggung dan busana harus dilakukan dengan baik. Seringkali hal ini tidak dilakukan di dalam pertunjukan teater amatir sehingga kemungkinan pemeran melakukan kesalahan terkait tata busana dan panggung jauh lebih besar. Belum lagi ketika bahan-bahan atau peranti khusus digunakan dalam pementasan misalnya penggunaan api, air dan lain sebagainya.

Sementara itu dalam kaitannya dengan tata cahaya, penyesuaian mesti dilakukan secara intensif. Seperti umum diketahui bahwa teori warna cahaya dan warna cat berbeda. Selain itu pantulan cahaya yang dihasilkan atas warna cahaya di atas benda berwana juga berbeda-beda. Juga material yang digunakan pada tata panggung akan menghasilkan pendar cahaya berbeda-beda. Perbedaan warna ini jika tidak dipahami dengan baik akan melenyapkan benda panggung yang ada. Misalnya saja, warna cahaya hijau tertentu akan menghapus benda dengan warna hijau tertentu. Oleh karena itulah di belakang panggung terdapat ruang khusus untuk pemeran rehat sekaligus menghindar dari orang lain yang disebut green room (ruang hijau). Teori dasar semacam ini mesti dipahami oleh penata panggung sehingga ia bisa bekerja sama secara kualitatif dengan penata cahaya.

Secara khusus, cahaya merupakan penerangan yang membuat semua benda panggung terlihat. Dengan pengaturan cahaya yang tepat, dimensi ruang yang ada akan terlihat atau terasakan. Di bagian mana ruang dibuat gelap, di bagian mana dibuat lebih terang, dan lain sebagainya memerlukan kerja bersama penata panggung dan cahaya. Belum lagi ketika peletakan lampu di atas panggung perlu dilakukan untuk menghasilka efek cahaya tertentu, maka penata panggung harus mengakomodasinya dengan membuat ruang khusus untuk lampu tersebut.

Di dalam latihan teknik, soal-soal semacam ini perlu diperbincangkan. Perubahan tata panggung dari ruang satu menuju ruang laind dalam pergantian adegan harus dipahami sepenuhnya oleh penata cahaya. Jangan sampai cahaya sudah menyorot ke atas panggung di saat kru panggung masih menata perubahan set. Demikian pula dengan area khusus yang perlu mendapatkan cahaya, penata panggung harus benar-benar memahaminya. Jangan sampai ketika perubahan set sudah dilakukan namun justru meleset dari titik lampu yang disediakan. Segala penyesuaian dan perubahan ini selayaknya dibicarakan dengan penuh ketelitian antara para penata.

Penyesuaian dan perubahan ketika latihan teknik diselenggarakan dapat menyangkut semua elemen artistik. Seperti halnya dalam kasus tata cahaya misalnya, sutradara menghendaki suara tertentu dari sebuah spkear sehingga mengharuskan speaker tersebut diletakkan di atas panggung, maka penata panggung segera menyediakan ruang untuk keperluan itu tanpa mengganggu penataan set yang sudah ada. Latihan teknik merupakan proses nyata bagi para penata artistik untuk saling berdiskusi terkait pementasan. Dalam konteks ini, penata panggung harus menyediakan dirinya untuk menerima pendapat penata artistik lain dan menyediakan banyak solusi teknis atas problem yang muncul. Solusi untuk memecahkan masalah yang ada dan memudahkan kerja artistik secara kolaboratif.

===bersambung===

One thought on “Keberadaan Tata Panggung Dalam Pementasan Teater (4)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.