Eduteater

Keberadaan Tata Panggung Dalam Pementasan Teater (5)

Oleh: Eko Santosa

5. Proses Produksi

Pekerjaan penata panggung dimulai sejak naskah lakon  atau diberikan. Pada saat ini, studi mengenai lakon dilakukan. Semua hal yang menyangkut tata panggung sudah ada di dalam pikiran (imajinasi) penata panggung. Penataan set dipetakan mulai dari adegan awal sampai akhir. Dari studi awal ini, penata panggung sudah mendapatkan gambaran dasar tata panggung berdasarkan kebutuhan lakon tersebut. Ia bisa membuat catatan atau coretan (desain) berdasarkan naskah lakon tersebut. Dalam tahap ini, ia menginterpretasikan lakon itu sesuai dengan nalar artistiknya.

Berdasarkan tata kerja produksi, penata panggung tentu tidak bisa langsung mengeksekusi apa yang telah menjadi rancangannya tersebut. Ia harus mengikuti serangkaian diskusi (dan presentasi) tentang konsep artistik secara keseluruhan. Pertama adalah kehendak artistik dari produser yang akan mengurai sisi menarik lakon untuk ditampilkan sehingga produk laik jual. Selanjutnya adalah pandangan atau konsep direktur (sutradara) artistik yang lebih mengarah pada presentasi artistik lakon secara keseluruhan. Yang terakhir adalah pandangan sutradara yang lebih pada mekanisme tata artistik pementasan terkait dengan setiap adegan yang ditampilkan di mana aktor-aktor melakukan aksinya.

baca juga : Keberadaan Tata Panggung Dalam Pementasan Teater (4)

Diskusi ini tentu saja tidak bisa dikerjakan dalam satu kali pertemuan. Masing-masing penata artistik termasuk penata panggung harus menyiapkan serangkaian desain berdasarkan konsep atau pandangan produser, direktur artistik, dan sutradara sebelum akhirnya desain tersebut dieksekusi. Proses produksi teater profesional memang cenderung ribet karena melibatkan banyak tenaga ahli sesuai bidangnya dan tidak saling merangkap. Berbeda dengan teater amatir yang terkadang jabatan produser, direktur artistik dan sutradara yang dirangkap. Namun, keribetan dalam teater profesional sangat beralasan karena mereka hendak menjual produknya kepada khalayak sehingga hanya hasil terbaiklah yang ditampilkan.

Ketika desain tata panggung yang dibuat disetujui, penata panggung mulai membagi kerja kepada para stafnya. Tahap terpenting dari proses pembuatan tata panggung adalah skala atau ukuran objek panggung berbanding dengan luasan panggung. Oleh karena itulah ukuran luas panggung yang hendak digunakan mesti diketahui secara pasti. Berikutnya, jadwal kerja mulai disusun beserta target yang mesti dicapai sesuai skala produksi. Daftar belanja material dibuat dan workshop disiapkan. Pengerjaan tata panggung secara garis besar dapat dibuat dengan 2 macam teknik yaitu, permanen dan knock-down. Teknik permanen lebih mudah diterapkan karena objek panggung dibuat langsung jadi sehingga tinggal dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain jika ingin digunakan. Namun sayangnya teknik ini sedikit menyulitkan ketika lokasi workhsop dan panggung pertunjukan sangat jauh, terutama ketika objek yang dibuat berukuran besar. Sementara itu teknik knock-down merupakan teknik bongkar pasang. Teknik ini sedikit menyulitkan dalam pembuatan karena membutuhkan perancangan dan hitungan matang sehingga objek mudah untuk dibongkar dan dipasang. Namun teknik ini memiliki keluwesan ketika objek harus dipindahkan dalam jarak jauh.

Selama pekerjaan berlangsung, penata panggung juga musti menghadiri rapat produksi bidang artistik. Selain untuk mengecek ketercapaian target sesuai jadwal, rapat ini juga penting artinya bagi semua penata artistik untuk mengakomodasi penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan. Di dalam rapat ini penata panggung dapat mempertimbangkan masukan dan memberikan masukan kepada seluruh pekerja artistik yang hadir dalam rangka menjaga keterlaksanaan konsep produksi. Selain rapat artistik, penata panggung juga perlu hadir pada saat latihan-latihan tertentu sebelum latihan teknik dilakukan.  Dalam setiap kali latihan, tugas penata panggung sudah diwakili oleh stage manager atau asistennya yang memang bertugas menyediakan tempat serta segala keperluan latihan. Artinya, segala objek panggung yang dibutuhkan pada saat pementasan nantinya disediakan penggantinya oleh stage manager. Misalnya dalam pementasan seorang aktor mempergunakan pedang, stage manager atau asistennya menyediakan tongkat rotan sebagai gantinya. Pada saat latihan tertentu di mana penata panggung hadir, kesulitan atau kerumitan aktor dalam berperan terkait dengan objek panggung dapat diobservasi untuk kemudian dicarikan solusi terbaik.

Selain berkaitan dengan laku aksi aktor dalam permainannya, penata panggung juga harus memperhatikan teknik pergantian set untuk adegan atau babak tertentu. Selama latihan dilakukan, mungkin pergantian set ini tidak dihitung waktunya atau bukan menjadi bagian dari durasi. Namun pada saat pementasan, waktu yang diperlukan untuk membongkar dan memasang set dalam perpindahan adegan atau babak merupakan bagian dari durasi. Oleh karena itu, penata panggung perlu memperhatikan dengan seksama teknik pergantian atau  perpindahan set ini. Panggung yang terlihat kosong dan gelap tanpa alasan tertentu pasti akan memotong emosi penonton. Dengan demikian, pergantian set harus dilakukan secara cepat, rapi, dan bersih sehingga penonton tidak merasakan waktu tersita.

Setelah semua pekerjaan selesai, tugas berikutnya adalah memindahkan set dari workshop ke panggung atau tempat pertunjukan. Penata panggung perlu berkoordinasi dengan panitia produksi dan stage manager. Ia harus mengatur penempatan dan penyimpanan barang di panggung sesuai peruntukannya dengan pertimbangan teknis. Jadwal teknis penataan dan pembongkaran didapat diatur oleh stage manager. Pada saat latihan teknik mandiri atau khusus untuk set tata panggung segala hal mengenai teknik dan mekanisme pemasangan, pergantian, dan lain sebagaianya dicobakan. Penata panggung mulai membagi stafnya ke dalam kelompok kerja tertentu untuk memperlancar penataan, perpindahan, dan pembongkaran set. Pada saat ini kemungkinan besar ia mendapatkan bantuan dari staf panggung sehingga perlu waktu khusus untuk koordinasi dan rehearsal. Di dalam pelaksanaan latihan ini, penata panggung mengikuti tata aturan atau jadwal yang ditetapkan oleh stage manager. Kapan set bisa dipasang dan kapan mesti dibongkar harus sepengetahuan stage manager.

Latihan khusus set ini dilakukan sesuai dengan agenda produksi yang ada. Jika mendapatkan jadwal untuk latihan mandiri, hanya penataan set saja dan waktunya cukup, sangatlah menguntungkan. Namun jika tidak, maka ketika penataan set dan hal-hal teknis yang dianggap penting dianggap selesai langsung digunakan untuk bermain. Dalam kondisi semacam ini, penata panggung harus benar-benar menyiapkan strategi kerja yang baik. Ia harus mampu mengarahkan stafnya untuk bekerja dengan cepat, tepat, dan rapi. Di dalam latihan teknik, tata panggung memang harus mengalami pasang-bongkar, karena pada jadwal latihan teknik untuk tata cahaya misalnya, panggung harus dalam keadaan clear. Atau bisa juga panggung tempat pertunjukan memang belum diperkenankan untuk dipasangi set secara permanen sebelum gladi bersih. Intinya dalam kerja produksi, penata panggung harus memahami tata aturan produksi yang berlaku. Antara produksi satu dengan produksi yang lain bisa jadi berbeda, namun secara umum sama di mana penata panggung harus mengikuti arahan stage manager ketika sudah berada di panggung. Bahkan pada saat rangkaian pertunjukan selesai, penata panggung masih harus mengawasi pembongkaran dan mengikuti arahan panitia produksi untuk memilah objek yang dapat dijadikan inventaris oleh grup atau kelompok teater bersangkutan. Kerja produksi memang kerja berdasarkan organisasi. Satu pekerjaan akan mengait pekerjaan lain. Satu bidang akan mengait bidang lain. Keterkaitan ini perlu dipahami dengan baik sehingga saling bisa mengapresiasi demi capaian artistik seperti yang telah ditentukan.

==== bersambung====

One thought on “Keberadaan Tata Panggung Dalam Pementasan Teater (5)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.