Eduteater

Keberadaan Tata Panggung Dalam Pementasan Teater (6)

Oleh: Eko Santosa

7. Gaya Pementasan

Tata panggung dan gaya pementasan seolah-olah tidak bisa dipisahkan. Keduanya dalam perkembangan teater saling memberikan pengaruh. Pada awal kemunculannya jelas tata panggung menyediakan gambaran atau perwujudan lokasi cerita. Tampilan ini dapat dipresentasikan sesuai dengan kondisi aslinya (baca: seolah-olah seperti) atau dengan mewakilkan set dengan perwujudan tertentu. Ketika teater tampil di panggung para bangsawan, perwujudan tata panggungnya jelas berbeda dengan ketika tampil di depan masyarakat awam meskipun cerita yang ditampilkan sama. Namun pada masa ini, tugas tata panggung adalah menghadirkan gambaran lokasi di mana cerita berlangsung. Konsep ini terus diyakini hingga sampai meredupnya pesona teater presentasional. Meski demikian, kreasi tata panggung dengan konsep ini bisa dikatakan sangat kaya. Panggung yang berbeda-beda dengan penonton yang berbeda-beda membutuhkan kepiawaian kerja penata panggung. Bahkan dalam pertunjukan keliling di depan-depan rumah dengan menggunakan panggung kereta (mobil) membutuhkan kecerdasan luar biasa. Penata panggung yang kemungkinan besar sekaligus sebagai pemeran harus mampu mengolah ruang kecil menjadi pertunjukan teater lengkap dengan pergantian set dan ruang pergantian busana pemainnya. Sementara itu, pertunjukan di lapangan tidak kalah serunya dalam menghadirkan tata panggung yang mudah ditata-susun, bongkar-pasang, dan dipindah-pindah serta memiliki beragam fungsi.

baca juga : Keberadaan Tata Panggung Dalam Pementasan Teater (5)

Puncak dari penghadiran lokasi terjadinya peristiwa dalam tata panggung adalah ketika realisme begitu memesona. Konsep realisme benar-benar mempertemukan kenyataan tata panggung dan naturalitas permainan para pemeran. Pertunjukan benar-benar menjadi representasi kenyataan. Pada masa ini tentu saja ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang termasuk dalam hal penggunaan material dan teknik pembuatan set. Detail set benar-benar diperhatikan karena semua yang tersaji di atas panggung haruslah sama persis dengan kenyataan. Kematangan dalam seni rupa, desain interior dan eksterior serta arsitektur sangat dibutuhkan. Set realisme berkembang menjadi sangat detail dan mengagumi kesempurnaan karya semirip mungkin dengan kenyataan dalam gaya naturalis. Panggung menjadi lokasi peristiwa yang sesungguhnya. Berkebalikan dari itu, realisme selektif dan realisme sugestis hanya menghadirkan lokasi atau bagian tertentu dari set yang dibuat mirip dengan aslinya. Pada saat gaya ini berkembang, konsep ruang sebagai sebuah kenyataan menjadi primadona.

Berbeda dengan realisme yang menghadirkan kenyataan, teater epik justru menafikan kenyataan hadir di atas pentas. Peristiwa nyata akan membuat penonton hanyut sehingga justru lupa akan keadaan/kenyaatan hidup yang sesungguhnya sedang mereka alami. Pada gaya ini, set dibuat dengan sengaja agar nampak seperti set di atas panggung dan bukan sebagai lokasi nyata tempat berlangsungnya peristiwa. Bahkan ketika set itu masih terlihat nyata, maka diperlukan sentuhan atau tambahan agar tak tampak nyata. Hal ini diperlukan agar penonton datang untuk mengobservasi atau menyelidiki pertunjukan bukan untuk menikmatinya. Intinya, tata panggung teater epik juga menjadi bagian integral dari konsep teater pembelajaran. Pamflet atau poster berupa agitasi dan propaganda menjadi bagian penting karena memang tujuan utama dari pertunjukan adalah memberikan kesadaran kepada penonton akan situasi sosial dan politik yang sedang terjadi.

Perkembangan teater modern yang pesat terutama sejak realisme membuahkan karya tata panggung yang semakin berani. Tata panggung tidak lagi ada untuk sekedar mewujudkan lokasi tempat terjadinya peristiwa, namun juga memiliki nilai seni dan pembelajaran tersendiri. Pada teater epik hal ini tampak sekali terlihat. Tata panggung menjadi bagian penting dari proses pembelajaran terhadap penonton. Tata panggung tidak hadir wantah dan diam, namun juga sudah berbicara dengan sendirinya. Pun demikian pada saat konsruktivisme diperkenalkan sebagai tanggapan atas konstruksi sosial masyarakat yang terjadi bersamaan berkembangnya modernise. Tata panggung hadir dengan sangat berani dalam memberikan gambaran atau simbol konstruksi tersebut. Pemeran dalam hal ini justru harus mengikuti konstruksi tata panggung yang ada sehingga pola dan gaya permainan mereka pun harus disesuaikan. Kedalaman visi tata panggung dalam konstruktivisme benar-benar dimunculkan, bahkan wujud tata panggung itu sendiri sudah cukup menggambarkan gaya teater konstruktif tersebut.

Pengembangan fungsi tata panggung hingga mencapai nilai artistik tertentu begitu terbuka kemudian. Seniman seni teater bisa menghadirkan tata panggung sebagai subjek yang patut untuk dicermati secara mandiri. Kerja kolaborasi tata panggung dengan elemen tata artistik serta pemain dan sutradara menjadi semakin kental. Artinya, seseorang yang hendak merancang sebuah pertunjukan sesederhana apapun mesti melibatkan tata panggung yang mana pelibatan ini bukan sekedarnya saja. Hitungan-hitungan tertentu digunakan untuk mencapai tujuan artistik pementasan dan salah satu faktor utama dalam hitungan itu adalah tata panggung. Makna simbolis, satire, religius, filosofis dan lain sebagainya dapat ditampilkan melalui tata panggung.

Asosiasi bebas ataupun percampuran kisah hidup antara imajinasi dan kenyataan dalam teater surealis dapat dikuatkan dengan kehadiran tata panggung. Area panggung pada pementasan teater modern semacam ini sudah tidak lagi dibagi secara merata menjadi sembilan bagian, namun juga dapat dibagi ke dalam area atas, tengah, bawah, dan area-area lain yang mungkin bisa disediakan oleh tata panggung. Kemungkinan-kemungkinan dan atas dukungan teknologi membuat tata panggung mampu mewujdukan gagasan seniman seni teater. Dari surealisme yang menyajikan dunia yang melampaui kenyataan sampai ke simbolisme yang menggunakan semua media yang ada di atas panggung untuk menyampaikan makna pementasan tata panggung dapat memberikan sokongan. Dari absurdisme yang menyajikan irasionalitas komunikasi antarmanusia sampai dengan teatrikalisme yang menyajikan kepiawaian semua unsur pementasan, tata panggung mampu hadir dan memberikan landasan esensial akan makna pertunjukan. Tata panggung dalam konteks kekaryaan seni teater tidak bisa dilepaskan dari gaya pementasan. Masing-masing saling memberikan kekuatan dalam menyampaikan pesan pertunjukan.

==== bersambung===

One thought on “Keberadaan Tata Panggung Dalam Pementasan Teater (6)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.