Eduteater

Keberadaan Tata Panggung Dalam Pementasan Teater (7)

Oleh: Eko Santosa

7. Ruang Yang Berbicara

Tata panggung dalam perkembangan paling mutakhir bukan lagi sekedar berperan menyedikan lokasi atau sebagai penguat gaya, namun justru menjadi karya seni tersendiri yang mampu berbicara. Keterlibatan tata panggung dalam hal ini tidak hanya bisa dilihat secara kolaboratif namun juga bisa dinikmati dengan tanpa melibatkan pemeran. Bahkan, sejarah kelahiran konstruktivisme mensyaratkan penyesuaian yang mesti dilakukan oleh pemain terkait tata panggung yang ada. Dalam maknanya kini, tata panggung adalah skenografi yang berarti gambaran perspektif seni seperti dalam penggunaan rancangan dan lukisan pemandangan di panggung (KBBI V, apps). Kata ini merupakan pengembangan dari skeneri yang secara harfiah berarti beragam papan, kain, dan lembaran-lembaran panggung yang digunakan untuk mewujudkan lokasi dan konteks tertentu di atas panggung (KBBI V, apps). Kata kunci skenografi dengan demikian bukan hanya mewujudkan lokasi namun juga konteks. Terkait dengan konteks inilah, tata panggung atau skenografi harus mampu berbicara.

Posisi baru skenografi ini memerlukan pemahaman dan kerja artistik yang lebih hebat. Konsepsi tata panggung yang ditawarkan skenografer bisa saja mengubah laku organisasi permainan di atas panggung. Karena pengaruhnya yang begitu besar, maka tidak semua pekerja tata panggung dapat menempati posisi skenografer ini. Proses kerjanya masih tetap sama namun keluaran yang dihasilkan berbeda. Dalam proses interpretasi, skenografer tidak hanya menginterpretasikan lokasi kejadian peristiwa sehingga cerita yang disajikan memiliki daya pikat. Interpretasi skenografer menusuk ke dalam hingga sampai pada makna atau pesan utama yang hendak disampaikan oleh lakon. Dalam hal ini kerjasama yang baik dengan produser, direktur artistik, dan sutradara perlu dilakukan secara intensif karena skenografer bisa menawarkan konsepnya. Artinya, ketika konsep ini kuat dan dengan demikian diterima, maka akan memperngaruhi proses produksi terkait dengan penyutradaraan dan unsur tata artistik lain. Tata panggung yang hadir mungkin saja tidak sama persis dengan kehidupan nyata namun mampu memberikan kesan yang kuat sehingga pesan lakon sudah terutarakan secara tampak mata.

baca juga :Keberadaan Tata Panggung Dalam Pementasan Teater (6)

Konsep ruang yang berbicara dalam skenografi berada di luar wujud fisik tata panggung itu sendiri. Artinya, ketika skenografer memutuskan untuk membuat tata panggung dengan objek panggung minimal itu bukan berarti ia memiliki gagasan yang miskin. Bisa jadi, justru peletakan benda panggung minimalis itu akan menghidupkan permainan. Sering kita saksikan dalam pertunjukan teater amatir yang berusaha menyajikan tata panggung “wah” namun justru kehilangan suara ketika pemeran beraksi di dalamnya. Maksudnya, sebelum pemeran muncul di panggung, tata panggung sudah terlihat berbicara dan menyajikan satu karya artistik memukau. Namun ketika pemeran mulai bermain, tata panggung yang ada menjadi tidak berarti atau justru menenggelamkan permainan para pemeran. Dalam hal ini karya seni skenografi menjadi absen justru ketika pementasan dilangsungkan. Tata panggung atau set yang ditampilkan hanya indah sebagai sebuah karya mandiri namun tidak dalam kolaborasi.

Ruang yang berbicara bahkan tidak mengharuskan ruang yang ada diisi oleh benda panggung beraneka warna. Bisa saja ia dibiarkan kosong, namun dengan kehadiran pemeran, tata rias dan busana serta cahaya lampu yang menerangi bagian-bagian area panggung dengan berbagai bentuk dan warna cahaya justru membuat pertunjukan itu lebih bermakna. Keputusan untuk mengosongkan ruang tanpa set ini pun bukan sebagai sebuah putusan putus asa karena kehabisan imajinasi atau gagasan melainkan keputusan yang diambil berdasar perhitungan-perhitungan artistik yang matang. Membuat ruang dapat berbicara secara mandiri dan kolaboratif selalu melibatkan kedalaman pemaknaan atas lakon atau ide cerita yang akan disajikan. Persis seperti apa yang dikehendaki oleh teater epik di mana penonton datang untuk menyelidiki pementasan, maka ruang yang hadir dengan sendirinya telah menyuarakan kehendak itu.  Dengan cara sederhana, ruang yang berbicara dalam skenografi merupakan ruang yang melampui dirinya sendiri. Pada tahap ini, tata panggung telah benar-benar hadir sebagai seni.

Keniscayaan tata panggung dalam pementasan teater tak lagi bisa dipungkiri. Sebagai bagian dari tata artistik, tata panggung yang maknanya menjurus dalam skenografi memperdalam makna pesan yang hendak disampaikan dalam pertunjukan. Ia bagaikan pemeran yang turut bermain meskipun senyata benda. Ia menghidupkan lakon meski tanpa gerak. Tata panggung menjadikan pertunjukan teater memiliki ruang alternatif untuk berekspresi dalam aspek rupa. Posisi sejajar dalam konteks kekaryaan menjadikan kerja tata panggung sebagai bagian pokok seni pertunjukan. Pekerja tata panggung dengan demikian tak lagi bisa dikecilkan maknanya hanya sebagai kuli atau pekerja kasar. Pekerja tata panggung adalah aktor dalam bentuk lain. Tanpanya pertunjukan menjadi kehilangan makna. (**)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.