Monolog

Keluarga Berencana Monolog Whani Darmawan

TOKOH KITA SEDANG MERANCANG SEBUAH BANGUNAN. MELALUI POTONGAN-POTONGAN KAYU. SUDAH MEMBENTUK SUATU RANCANG BANGUN SEBUAH RUMAH, MESKIPUN BELUM UTUH.

Ya, saya arsitek. Berawal dari hobi. Tapi ketika kemudian saya kecanduan membuat miniatur rumah, saya mulai bertanya-tanya kenapa saya suka membuat konstruksi miniatur rumah? Bukan cita-cita saya jadi arsitek, tetapi kalau itu …………Ya, begitulah akhirnya, saya tak bisa melepas hobi ini. Ini sudah bukan hobi, tetapi ini semacam penyaluran. Setiap kali saya dilanda resah oleh pekerjaan, rumah tangga, soal anak, keadaan sosial  tertentu, saya baru bisa berpikir setelah saya membuat konstruksi rumah. Aneh, kan? Tapi itulah kenyataannya. Saya merasa menemukan ketenangan ketika merekatkan potongan demi potongan kayu hingga membentuk konstruksi yang kemudian kokoh. Saya meerasa tenang, napas saya teratur, dan pikiran-pikiran positif itu pun kembali lagi. (JEDA) ya, saya bukan arsitek, tapi saya harus berpikir untuk membuat konstruksi rumah. Karena itu adalah soul saya.

MENDADAK MENILINGKAN TELINGANYA SEOLAH MENDENGAR SUARA DARI LUAR DAN MERESPONNYA

Ya sayang? …………ooh iya, terimakasiihh. Tidak perlu mengkhawatirkan aku……sudahlah, apa yang ada nanti aku masak sendiri. …………………..yaaa? ……………………….jangankan sore, malam, tengah malam, kapan sih aku melarangmu? ……………………..i love you too!……………..hati-hati!

Hehehe, buat orang lain mungkin ini artifisial, tetapi bagi saya penting. Hanya saja saya heran, kenapa orang-orang kita selalu menampilkan kemesraan dengan isteri atau rumah tangganya? Apakah kemesraan itu identik dengan kelemahan? Kecengengan? Kebodohan? Ah, tidak mengerti saya. (JEDA) Aaa, yaa……inilah, mungkin, yang membuat masyarakat kita hipokrit! Padahal — yang lebih parah — seolah menjadi kepala keluarga yang berwibawa dan berkuasa, padahal sesungguhnya ia takut pada isterinya? Nah, yang lebih parah lagi ada ; seseorang takut kalau ia takut pada isterinya! (JEDA, SEPERTI MINTA KONFIRMASI KEPADA PENTONTON) Hahahaha…..apa-apaan ini! Biasa sajalah, ungkapkan segala sesuatu ganjalan Anda, kalau kalian memang menghormati komunikasi dan memang pribadi atau watak yang baik, tak akan terjadi malapetaka rumah tangga! Hahaha, aneh-aneh saja!

SAMBIL KEMBALI MENGUTAK-ATIK KONSTRUKSI MINIATUR RUMAH YANG DIBUATNYA…………………..

Konstruksi. Ya, konstruksi. Itulah yang terpenting dalam sebuah system……..eh………maksud saya rumah. (JEDA) Dari pekerjaan mengkonstruksi rumah ini, saya banyak menjelajah ruang-ruang presentasi. Dari mereka masyarakat yang kurang diuntungkan secara ekonomi……(BERBISIK) miskin…………sampai rumah budaya, museum, hingga gedung-gedung pemerintah. Akhirnya…..hehehe….maaf, bukan sombong, akhirnya predikat saya meningkat menjadi ahli. Setelah ahli, saya dikaruniai gelar baru ; filsuf rancang bangun. Filsuf konstruksi. Hahahaha……..aneh-aneh saja. Tapi itu sungguh! Ya, sudahlah, daripada saya sibuk menolak, lebih baik saya nikmati saja.

JEDA. BERJALAN HILIR MUDIK BEBERAPA SAAT. KEMUDIAN BICARA DENGAN MASYGUL

Tapi, yaaah…begitulah. Para Tuan besar itu memang banyak ulah. Anda tahu, arsitek bukan saja bekerja dalam ranah seni dan artistik,  tapi juga fungsi. Atau kebalikannya, tidak saja fungsi, tapi juga artistik. Tapi Para Tuan Besar itu  tidak memperhatikan ini. Mereka ingin yang………………yang……..yang sesuai dengan harapan mereka. Anda tahu, gedung parlemen lama itu kan sudah aus. Menampung ratusan demonstran saja sudah tidak muat, tetapi mereka ingin saya mempertahankan bangunan lamanya. Padahal bangunan itu juga bukan heritage, dan konstruksinya juga sudah rapuh. Sangat membahayakan. Mereka ingin sesuatu yang simpel, indah dan murah. (TERTAWA HAMBAR) Hahahaha….murah! orientasi kok murah. Untuk kehidupan sebuah keluarga…..eh, maksud saya negara……kenapa harus murah? Orang sering terbalik-balik memahami murah dan mahal. Kalau sebuah konstruksi rumah dibangun dengan konstruksi yang kuat dan menghabiskan biaya banyak, itu bisa berarti murah untuk keselamatan banyak orang. Tapi kalau Anda menginginkan yang murah, dijamin Anda akan cepat menyengsarakan banyak orang! Begitulah maunya para Tuan Besar itu. Inilah hal yang menyengsarakan saya dalam bekerja! mereka minta murah! Huh, dasar orang-orang berkelas tapi murahan! Sudah berulangkali saya sampaikan kepada mereka, tidak mungkin membangun konstruksi murah! Tidak ada konstruksi yang murah! Itu akan menyengsarakan rakyat!

MEMANDANGI KONSTRUKSI MINIATUR RUMAH KARYANYA.

Lama-lama saya bosan juga.  Ini jelas pengkhianatan bagi soul saya. saya  tidak bahagia jika membangun rumah tangga dengan konstruksi asal-asalan. Ini hanya rumah, bagaimana dengan sebuah negara? Bukankah pemerintah, rakyat, sumber daya alam dan  strategi kebudayaan adalah kesatuan yang utuh mustinya dimiliki oleh negara? Dan untuk itu dierlukan kekompakan, rasa menerima secara bersama, demi tujuan bersama?

Saudara-saudara, saya arsitek. Jika sebuah keluarga memesan konstruksi dari saya, prosedur pertama yang harus saya lakukan adalah bertemu dengan seluruh anggota keluarga, full team! Saya ingin mendengar visi bersama mereka! Bukan demi ayahnya, ibunya, anak-anaknya, bahkan pembantunya! Membangun sebuah rumah itu musti terencana, karenanya dibutuhkan suatu keluarga yang punya rencana! Keluarga yang berencana! Keluarga yang hanya dimiliki diktator bernama ayah, atau hipokritas kekuasaan ayah padahal yang berkuasa adalah ibu, wooo……itu bukan keluarga. Itu perebutan kekuasaan. Dan terhadap keluarga yang seperti itu, biasanya saya menolak dengan tegas menerima job mereka! Dikiranya saya ini cuma pesuruh! Saya ahli konstruksi!

MENILINGKAN TELINGA DAN MENOLEH KE SUATU ARAH SEOLAH SEDANG DIAJAK BICARA SESEORANG

Yaaaa?………yaa, ya, yaaaa….(MENENGOK JAM TANGANNYA)……..ya aku tahu. Sebentar lagi aku siap dan berangkaat!

JEDA. MURUNG.

Sekarang saya akan berangkat untuk rapat. Saya berharap ini rapat yang terakhir kali, apakah saya akan terus atau mengundurkan diri. Bagaimana tidak, mereka memaksa saya untuk membuat konstruksi tidak masuk akal ; konstruksi kebudayaan! Hadeeeehh, apa maksudnya! Ini akibat anugerah dan gelar yang diberikan kepada saya sebagai filsuf konstruksi. Ini kerja yang tidak mudah dan jelas …..abstrak! Bagaimana seorang pembuat rumah seperti saya bisa mengkonstruksi masyarakat? Itu tugas pemerintah, bukan saya! (JEDA) yang paling menjengkelkan, mereka selalu mengatasnamakan rakyat, mengatasnamakan sebuah keluarga, negara, yang terencana. Tapi kenyataanya ini cuma perkara aliran dana. Anggaran! Sialan! (MENOLEH KE SUATU ARAH)…..Sayaaaaang! aku tidak berangkaaaatt! Aku tidaak bisaaaaa!!…………………..ya iyalaaaah…………….sudahlaaah! kalau kamu masih sayang aku jangan suruh aku untuk mengerjakan pekerjaan tidak masuk akal ini! Dan karena aku sayang dengan kalian, maka aku tidak mau mengerjakan pekerjaan sialan iniii!

JEDA. TOKOH KITA TAMPAK GUNDAH. IA MENGAMBIL PEMUKUL BISBOL YANG ADA DI RUANGAN ITU, MENGANGKATNYA DAN HENDAK MENGHANTAMHANCURKAN KONSTRUKSI MINIATUR RUMAH KARYANYA SENDIRI, TETAPI SESAAT KEMUDIAN TIDAK JADI

Oh tidak. Bukan begini! Tidak ada yang salah dengan karyaku, tetapi aku tak cukup mampu mengerjakannya. Dengan kata lain, pesanan muskil itu bukan tanggungjawabku. Aku tak harus mengerjakannya! (JEDA) Ah, daripada berpikir konstruksi negara yang mustahil ini, kenapa saya tak mengurusi keluarga saya saja? Gila. Saya sampai lupa  tidak bercinta dengan isteri saya.

KE SUATU ARAH

Sayaaaaaang………..eee…..apa ada waktu  tidur siaaaang?……………..hahaha……memang kenapa? Kamu kan perempuanku yang saaaahh!…………..mauu? ookeeeeeeee! (BERUBAH RIANG) Nikmati keluarga Anda selagi Anda bisa betapapun keadaannya, tak perlu Anda memikirkan konstruksi besar di luaran sana yang sedang mengalami dekonstruksi! Tatanan masyarakat tanggungjawab pemerintah, bukan tanggung jawab saya! ……………….. yaaaaa, aku datang, sayaaaaaang!!

LARI KE SUATU ARAH, LAMPU PADAM.

Omahkebon, sahur, Minggu 26 Juni 2016

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.