Eduteater

Kemuliaan Dalam Teater (2)

Oleh: Eko Santosa

2.Dari Dewa Kepada Raja

Teater masih saja menjadi penghantar nilai-nilai kemanusiaan ketika jagad dewa diambil alih oleh raja-raja dengan norma umum bahwa mereka adalah keturunan para dewa. Di kalangan masyarakat menengah ke atas, sajian teater penuh nilai digelar dengan segala kemewahannya. Para bangsawan datang untuk menyaksikan dengan penuh semangat atau hanya sekedar untuk memenuhi adab sosio-kultur saat itu di kalangan mereka. Panggung-panggung teater tetap menjadi arena fiksi yang penuh gengsi. Artistik teater hadir dalam balutan kebagsawanan karena cerita yang disajikan tidak lepas dari soal-soal aristokrasi. Kepahlawanan dan segala kebaikan dewa benar-benar diambil alih oleh para raja dengan segenap upaya.

Tidak mudah kiranya mewujudkan kuasa dewa di alam nyata,namun para raja itu senyatanya memang bisa. Nilai baik yang diturunkan daridewa menjadi dasar segala tindakan yang menuntut permakluman segenap khalayakdi dalamnya. Semua tatanan dibuat sedemikian rupa dan diinterpretasi demikeuntungan mereka. Pada saat ini, kebaikan atau keburukan diwakili oleh tatananyang dibuat itu dan tidak semua wilayah sama tergantung siapa yang berkuasa.Nilai di dalam tatanan inilah yang mesti ditampilkan secara gagah dipanggung-panggung teater. Pada masa ini pula, dunia fiksi teater berubahmenjadi corong penguasa. Sama seperti masa sebelumnya di mana semua tiruankebaikan harus sempurna. Di masa ini semua nilai seturut interpretasi penguasaharus ditampilkan untuk kemudian dijadikan anutan.

baca juga : Kemuliaan Dalam Teater (1)

Namun demikian, kemeriahan panggung fiksi yang sudah berlangsung cukup lama memiliki akternatifnya sendiri. Masyarakat umum memiliki jenis teaternya sendiri. Fiksi di sini bisa hadir sebagai peniruan nilai atas interpretasi para bangsawan, sebagai sindirian yang hadir malu-malu dan dalam waktu yang sama juga takut untuk diberangus atapun secara terang-terangan menolak interpretasi akan kebaikan yang didoktrinkan. Masyarakat selalu memiliki dunia bersahaja yang lebih luas dibanding bangsawan. Namun bangsawan memiliki segala kepelikan masalah dunia yang dapat ia gunakan untuk menguasai masyarakat. Dari sisi ini lah sumber fiksi mengalami keterbelahan terutama ketika penguasa mencoba mengubah mora tak baik menjadi kewajaran bangsawan. Dari sini pula teater berkembang ke dalam bentuk-bentuk yang lebih bebasa dan terbuka. Teater bahkan berubah menjadi hiburan para raja dalam berbagai suasana. Dalam taraf tertentu, fiksi tak lagi tersemat filosfis namun menjadi replikasi tindak kepahlawanan di mana fiksi hadir dalam kerangka “seolah-olah” seperti pada pertunjukan gladiator.

Kebelbagaian tingkat pertunjukan pun juga berjangkit di tengah masyarakat. Para penentang akan menyajikan pertunjukan yang lebih verbal dengan model replikasi tokoh sebagai gamitan awal fiksi. Kemudian cerita berjalan sebagaimana adanya tokoh dalam kehidupan sehari-harinya namun konflik dan ending bisa jadi lain sebagai bentuk sindiran atau olok-olok. Tindakan memperlawankan kenyataan (tampak luar, yang ditampilkan oleh bangsawan) dengan kesejatian (nilai yang semestinya dipatuhi) yang dilakukan oleh para bangsawan melahirkan kemeriahan tersendiri. Seni teater semacam ini bertumbuh meski selalu berada di bawah ancaman.

Dalam tingkatan yang lebih tinggi, tokoh masyarakat, yang memiliki intelejensia dan keberpihakan, menyusupkan nilai-nilai tertentu ke dalam lakon yang tidak sepenuhnya disadari oleh para bangsawan bahwa itu menyindirnya. Sindiran ini selalu saja menghasilkan tawa karena diungkapkan dengan gaya komedi. Jika seniman teater yang menulis lakon dan menyutradari serta memainkannya pandai, maka sindiran ini tidak nampak sebagai sindiran sehingga menghasilkan tawa saja. Namun demikian, bagi orang yang paham, tawa yang dihasilkan merupakan tamparan bagi bangsawan yang disindir sekaligus membukakan mata bagi hadirin. Akan tetapi tidak jarang pula, pertunjukan semacam ini berakhir dengan pembubaran dan pelarangan karena makna sindiran diketahui oleh penguasa.

Pada saat kebenaran dibelenggu dalam makna tunggal kekuasaan, teater tetap bisa hadir menyurakan nilai sejati. Pada saat ini pula penyampaian nilai benar itu menjadi perjuangan tersendiri, bahkan jika perlu mengacak konvensi yang ada sebelumnya. Karena itu pula, kebenaran atau kemuliaa bukanlah sesuatu yang mutlak. Semua sangat tergantung model di mana kemuliaan itu bersumber dan aksi sang model dalam menjalankan kehidupannya. Tokoh yang menjadi panutan bisa hadir sebagai penyampai pesan kebenaran bisa pula menjadi olok-olok ketika lakunya tak sesuai nilai yang diundangkan. Dari situasi ini dapat diketahui bahwa kekuatan fiksi tidak bisa direduksi ke dalam makna tunggal. Fiksi akan menemukan jalannya sendiri dalam menyampaikan pesan moral mengenai kemuliaan manusia meski ia dikurung oleh kekuasaan. Pada masa di mana kemuliaan dewa-dewa dialihkan kepada manusia, teatertetap bisa hadir untuk tidak semata-mata tundukmenjadi brosur penguasa.

===== bersambung =====

One thought on “Kemuliaan Dalam Teater (2)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.