Eduteater

Kemuliaan Dalam Teater (3)

Oleh: EkoSantosa

3. Kepercayaan

Kebermanfaatan teater dalam menyampaikan pesan mulia secara lebih mudah diterima ini menjadikannya sebagai salah satu media utama keagamaan. Teater menjadi media artisik yang dianggap paling mampu memberikan pencerahan secara total mengenai ajaran-ajaran kemuliaan di dalam agama. Fenomena ini terasasekali di dunia Barat di mana teater tumbuh berkembang secara pesat.  Bahkan pada satu era, teater menjadi mediapenyuluhan keagamaan yang dianggap memiliki dampak paling signifikan.

Keluwesan teater dalam menampilkan fiksi memang merupakan daya tarik utamayang tidak bisa dihindari. Dengan daya ini, teater mampu menjelma sebagai apasaja berkaitan dengan perkembangan pemahaman masyarakat akan nilai benar kehidupan. Kreasi teater pada masa di mana kebenaran agama mesti disampaikan diupayakan dapat menjangkau semua kalangan. Bentuk-bentuk teater yang umumnya disajikan di kalangan bangsawan mesti mengalami rekreasi atau reinterpretasuartistik agar bisa disajikan di semua kalangan.

baca juga : Kemuliaan Dalam Teater (2)

Untuk keperluan menyampaikan pesan itu, teater mengalami banyak perubahanmulai dari panggung pertunjukan hingga sampi ke ruang-ruang domestik. Dalam masa puncaknya di belahan dunia Barat, teater bahkan menciptakan panggung bergerak yang bisa menghadirkan pertunjukan di teras rumah atau halaman kompleks perumahan. Panggung bergerak yang mudah berpindah ini meskipun tidak lahir pada masa merekahnya kepercayaan baru namun penggunaannya begitu masif pada saat penyebaran kebenaran pesan keagamaan ini mesti tersampaikan pada semua kalangan. Kepercayaan pada teater untuk menyampaikan kemuliaan agama ini tak lepas dari kelit-kelindan etos, patos, dan logos. Aktor-aktor mumpuni selalu bisa hadir sebagai pembawa pesan handal sehingga pesan yang disampaikan benar-benar terpercaya.

Sangat menarik tentunya melihat bagaimana seni teater terlibat atau melibatkan dirinya secara serius di dalam soal kepercayaan atau keagamaan ini.  Mungkin saja di masa sekarang, hal-hal semacam ini dianggap sebagai seni bertujuan sehingga berjarak dengan seni murni. Namun, tidak demikian kiranya anggapan pada masa itu di mana kebenaran sejati musti disampaikan melalui medium seni. Tujuan untuk menjangkau segala lapisan menjadi mulia dan dengan demikian merupakan bagian integral seni dimaksud. Persis seperti pada masa di mana kemuliaan adalah milik Dewa, maka jiwa seni menjadi jiwa persembahan atau penyucian diri yang nilainya melampaui dunia. Patut di catat dalam sejarah danterbukti secara fisik bahwa seni berwawasan persembahan atau pembawa kemuliaan transendental ini begitu awet. Ia tidak bisa digoyahkan bahkan oleh konsepkontemporer yang menawarkan kemerdekaan segala hal.

Eksistensi seni teater di mana pesan kemuliaan adalah pesan keagamaan tidak terletak pada gagasan akan kedirian, namun pada ketersampaian pesan suci itu dengan baik sehingga tindak yang dilakukan pun membawa akibat penyucianbagi pelakunya. Kondisi maha dahsyat ini selalu terselip dengan aman dan nyaman dalam nadi kepercayaan. Bahkan ketika untuk menyampaikan hal ini diperlukan perjuangan maha berat. Pada era memuncaknya kepercayaan akan keagamaan diwilayah Barat, seni teater menjadi bagian penting dalam sebuah misi penyebaran.  Hikayat penyebaran tentu saja tidak selalu berjalan mulus, baik ketika itudititipkan dalam nalar ekonomi perdagangan, pencarian benua ataupun pasar baru.Namun perjuangan yang dapat dikatakan penuh darah ini tidak bisa menghentikan kemuliaanyang dibawakan melalui teater. Ia telah hadir menjadi satu bagian utama dalamupacara suci dan tidak peduli lagi akan label seni atau bukan. Ia telahmenjelma menjadi artefak budaya baru yang senantiasa menjaga nilai kemuliaan manusia dalam visi ketuhanan. Sampai di sini, teater memetamorfosikan dirinya dalam ukuran-ukuran yang tak lagi bersandar pada artistika melainkan keruhanian.

==== bersambung ====

One thought on “Kemuliaan Dalam Teater (3)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.