Eduteater

Kemuliaan Dalam Teater (4)

Oleh: Eko Santosa

4. Keseharian Manusia

Kemuliaan teater, bagaimanapun juga harus dan musti berurusan dengan politik. Tumbuh kembang seni berbasis budaya tidak pernah lepas dari interpretasi kekuasaan atasnya. Interpretasi ini mempengaruhi citarasa seni yang ada. Dari sinilah keberbadaan artistika seni itu muncul dan merekahkan pengaruhnya. Ketika pesona agama begitu memikat sehingga membuat kekuasaan perlu mendekat atau menariknya, citraan seni pun mengalami perubahan siginifikan ke arah itu. Peneguhan kekuasaan musti dibarengi dengan kepatuhan religius dan seni teater adalah medium paling tepat untuk menggelorakan semangat itu. Akan tetapi, keterlibatan agama dan istana yang senantiasa bersanding menjalankan kekuasaan pada satu waktu tak kuasa membendung berontak massa ketika persoalan faktual tak lagi bisa diselesaikan dalam bait-bait puja atau kepercayaan total dalam religiositas yang kadung melembaga.

baca juga : Kemuliaan Dalam Teater (3)

Kehendak untuk menyampaikan pesan keseharian kehidupan di atas panggung muncul karena ketidakcukupan cerita tersedia yang mampu mewakili soal-soal nyata. Kehidupan manusia yang senantiasa bertumbuh itu menghadapi pelik persoalan yang hampir tidak cukup untuk dibukukan. Namun pada masa dewa, raja, dan agama memuliakan dirinya ini, seolah-olah semua persoalan yang ada mendapatkan pemecahan masalahnya. Atau sudah menjadi pemahaman bahwa soal-soal nyata itu tak lebih dari remeh-remeh keseharian yang tak perlu untuk dibicarakan lebih lanjut. Semua soal yang terjadi seolah-olah telah memiliki patron penyelesaiannya. Karena sejak awal laku hidup manusia hanyalah cerminan (sehingga jelas tak asli) dari kehidupan para Dewa, maka demikian seterusnya. Jadi, soal manusia itu merupakan foto copy dari soal aslinya dan semua dengan demikian sudah ada jawabannya.

Ketika pertama kali cerita faktual ditampilkan di atas pentas atau di teater jalanan (keliling) rupa-rupa penolakan didapatkan. Cerita justru dianggap mengada-ada dan tak pantas untuk ditampilkan karena cerita sejati sebagai patokan laku kehidupan itu sudah ada. Penolakan juga menyangkut soal penyimpangan atas kemuliaan yang semestinya disampaikan. Persis seperti kelahiran seorang anak kidal yang dianggap melawan kodrat alam sehingga kehadirannya diangga aib dan memalukan. Alasan-alasan konyol semacam ini merupakan buah pikiran publik yang sejak lama menyakini bahwa kebenaran sejati tidak akan pernah ada di dalam diri manusia karena semuanya mengacu pada kebenaran sejati yang ada di atas langit.

Namun sumber utama keberanan sejati rupanya terbendakan dan dalam banyak hal tidak bisa menampung problematika nyata manusia dalam perjalanan hidupnya. Selain itu, pelaksanaan nilai-nilai kebenaran oleh para pemangku kepentingan tidak semuanya sesuai dengan harapan masyarakat (seperti yang terjadi pada masa raja-raja). Atas dasar kondisi semacam ini tuntutan untuk menyuarakan kenyataan di atas panggung teater menyeruak. Tuntutan itu menjadi nilai kemuliaan baru yang mesti didengar dan ditanggapi. Jadi bukan nilai yang harus dipatuhi melainkan nilai kemuliaan yang ditawarkan untuk dibicarakan, didebatkan dan dicarikan solusinya. Tawaran semacam ini tentu saja menggoyahkan kekuasaan yang ada. Pernyataan-pernyataan di atas panggung melalui laku dramatik nan artistik itu tidak bisa menyembunyikan daya dobraknya sehingga dianggap mengganggu.

Gangguan  yang mulanya berskala kecil ini lama kelamaan menjadi kekuatan baru dan memiliki kekuatan besar. Cerita tentang problematika keseharian yang tentu saja menyinggung peran kekuasaan semakin digemari. Masyarakat merasa terwakili. Kepedihan, derita, ketidakadilan dan segala soal lain yang dahulu tidak mungkin disuarakan telah menemukan medianya. Pesan kemuilaan baru ini benar-benar mengubah cara pandang atas nilai yang selama ini didoktrinkan. Pesan kemuliaan ini tidak bisa dibendung sejalan dengan laku sejarah di mana masyarakat ingin membebaskan dirinya dari belenggu kekuasaan feodal yang semakin menancapkan kukunya dengan menggandeng penyuara kebenaran religius.

Ketika pada akhirnya problem sosial dapat muncul dengan leluasa di panggung-pangung teater yang tentu saja perjuangan untuk ini mendapat bantuan hebat dari aspek politik, segala hal yang tadinya tersembunyi mulai menampakkan dirinya. Orang-orang disadarkan pada ketidakbenaran dan kebenaran yang terjadi ada di depan mata dan luput dari segala perwujudan nilai terdahulu. Persis pada masa di mana konsep fiksi diutarakan yang akhirnya membuat setiap orang boleh memiliki kebenaran personal (interpretasi) atas apa yang tersaji di atas panggung tanpa perlu hiruk-pikuk tentang hegemoni keberanan. Cerita berdasar kenyataan sehari-hari itu seperti itu kiranya. Hadir dengan bersahaja tanpa perlu risau perkara pantas tak pantasnya cerita itu diumculkan. Orang-orang dapat memaknai sendiri problem di atas panggung seperti problem yang menimpa dirinya. Orang-orang dapat menyaksikan kejadian nyata sehari-hari di atas panggung. Mereka diajak untuk menyaksikan penggal kehidupan di mana permasalahan keseharian digelar, dibicarakan dan ditemukan penyelesaiannya.

Pada masa ini, pelaku teater harus memampukan dirinya untuk tampil senyata mungkin. Kemuliaan yang dihadirkan adalah kenyataan dengan segala macam perasaan yang ada di lingkungan masyarakat di mana teater itu tumbuh. Aktor dapat berperan sebagai tuan tanah yang kejam, pekerja sosial yang menderita atau sebagai keluarga raja yang jatuh miskin tapi masih malu-malu mengakuinya dan berlaku bak orang kaya di dalam kehidupan bermasyarakat. Para penulis cerita bersuka cita menampilkan kisah-kisah yang bersumber langsung dari kehidupan sesungguhnya. Mereka tidak perlu repot dengan dengan mitos, nilai-nilai luruh tak nyata namun perlu dijunjung, dan bahkan tidak pula musti pusing dengan pranata religiositas. Kemuliaan teater berubah sepenuhnya menjadi kemuliaan kemanusiaan dan para pelaku teater harus menyatakan hal itu senyata mungkin di atas pentas. Realisme yang semula adalah tabu karena dianggap tidak membawa kebenaran langit berubah menjadi perwujudan akan nilai kebenaran yang semestinya berlaku di dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Keseharian manusia adalah kemuliaan ketika problematikanya ditampilkan secara nyata, apa adanya di atas pentas.

==== bersambung= ==

One thought on “Kemuliaan Dalam Teater (4)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.