Eduteater

Kemuliaan Dalam Teater (5)

Oleh: Eko Santosa

5. Upaya-upaya Pencarian

Kisah sehari-hari yang pada mulanya merupakan media penyalur keluh kesah masyarakat sehingga mendapatkan dukungan begitu luas mereda seiring leburnya nilai estetika ke dalam karya. Pada saat kisah nyata disampaikan, semua suara gelisah dapat ditampung dan orang-orang tidak perduli pada ukuran estetik yang musti diemban dalam menyajikan sebuah karya. Intinya, suara rakyat yang lebih banyak berisi perlawanan (sarkasme, satire) itu dapat dikumandangkan. Bukan perkara kebenaran istana atau ilahiah, melainkan kebenaran nyata yang dialami manusia dalam menjalankan kehidupannyalah yang mesti diungkapkan.  Pada tahap ini, persona realisme begitu menggoda. Namun ketika pada akhirnya semua telah terwadahi persoan itu meredup karena justru balutan estetika yang ada di dalamnya tidak mampu menyuarakan kebenaran nyata atas apa yang benar-benar sedang terjadi. Penonton diberi jarak pemisah sehingga hanya menyaksikan dan tidak bisa berbuat hal lainnya. Kekuatan aksi berubah menjadi kekuatan cerita yang pada puncaknya tidak lagi mampu melahirkan aksi.

baca juga : Kemuliaan Dalam Teater (4)

Bagi sebagian pelaku teater, kondisi ini justru meninabobokkan masyarakat pada sajian seni yang mana dilahirkan dari masyarakat namun justru tak tersentuh. Persona realisme yang maha dahsyat itu hanya bertengger sebagai sajian seni yang sama sekali tidak bisa menggerakkan. Jika sudah demikian, apa bedanya ia dengan nilai-nilai terdahulu yang entah benar atau salah mesti diakui sebagai kebenaran dan oleh karena itu perlu diindahkan. Nilai-nilai itu pada akhirnya berada dalam posisi yang sama yaitu berada di luar masyarakat. Realisme terlalu terpaku pada kenyataan yang mesti disajikan di atas panggung, dan itu adalah seni yang hebat, namun pada saat yang sama kenyataan dalam kehidupan sebenarnya malah tidak tersentuh. Progresifitas persoalan yang muncul dalam kehidupan tak segera bisa disajikan di atas panggung. Akhirnya, satu cerita, satu persoalan disajikan secara berulang dalam panggung-panggung yang berlangsung menahun. Orang-orang hanya bisa menarik relevansinya namun secara fisik dan budaya tetap saja berbeda dengan kenyataan sesungguhnya.

Oleh karena itulah usaha-usaha untuk mengembalikan kenyataan di atas pentas mesti dilakukan. Masyarakat harus ditarik kembali ke dalam forum yang disebut pementasan teater sehingga nilai kebenaran itu dapat diperdebatkan secara langsung. Kia emuliaan teater sebagai penyuara kebenaran nyata mesti kembali ditegaskan. Ia tidak boleh sekedar menjadi mitos atau nilai yang hanya “katanya” atau nilai berdasar pemahaman tunggal. Ia meti ditawarkan kepada khayalak untuk dicermati dan diuji sebelum akhirnya diyakini secara bersama. Proses pengembalian ini tidak bisa berjalan begitu saja. Estetika realisme yang telah mengakar perlu dibongkar terutama kultur para pelakunya. Akting tak lagi bisa menghadirkan tindakan seolah nyata namun tak tersentuh. Pentas bukan sekedar sajian cerita yang tak bisa dikomentari secara langsung. Peristiwa teater bukanlah peristiwa wicara searah melainkan diskusi berbantah yang hidup. Kisah yang disajikan bukan lagi kisah yang tak bisa disanggah. Penonton bukan lagi sekedar menyaksikan namun ikut serta menelisik apa yang terjadi sehingga mampu mengubah pesan cerita menjadi kesadaran sebagai basis tindakan dalam kehidupan nyata.

Usaha-usaha yang dilakukan tidak hanya menggamit sekitaran ilmu seni namun juga sosial, politik, dan bahkan psikologi. Para pelaku teater mulai membebaskan dirinya untuk mengungkapkan kemuliaan manusia dari berbagai sisi. Kesadaran adalah ujung dari semua usaha. Kesadaran yang diharapkan muncul dari diri penonton selepas menyaksikan pertunjukan. Teater dengan tujuan penyadaran semacam ini menjadi primadona karena dianggap mampu mewakili situasi dan kondisi kini yang dihadapi masyarakat. Untuk mendobrak kebiasaan yang ada bahkan teater memaksa dirinya hadir dalam bentuk agitasi dan propaganda. Teater dengan sengaja melibatkan pasal perpolitikan untuk menarik perhatian masyarakat akan kondisi yang sebenarnya mereka alami. Pada saat inilah teater menghadirkan kecerdasan yang nampak jelas dilihat, dirasakan, dan dilibati oleh penontonnya. Suka cita atas kesadaran yang dilahirkan tak ayal menjadikan teater ke dalam posisi semula sebagai medium kemuliaa yang membanggakan.

Gairah akan kesadaran ini membuka pintu lebar bagi sudut pandang lain atas manusia dan perilakunya. Pencarian nilai-nilai yang mungkin digaungkan dalam pementasan dilakukan sedemikian rupa. Berbagai sudut pandang perihal manusia dan laku hidupnya diungkapkan dengan nalar artistik berbeda-beda. Pada masa ini perayaan pencarian benar-benar dilakukan. Ada yang bertahan karena memang apa yang disampaikan memiliki kekuatan untuk bertahan dalam waktu lama, namun ada pula yang lahir untuk kemudian tenggelam. Hikayat pencari nilai-nilai kemanusiaan melalui teater ini tidak pernah berhenti. Teater yang menempatkan dirinya untuk merefleksikan kehidupan manusia selalu akan memiliki kebaruan selama hidup manusia terus berjalan.

Apa yang digelorakan oleh para pelaku teater yang memutus rantai dari para Dewa dan Raja sebagai satu-satunya sumber cerita dan rujukan estetik adalah langkah besar. Sebuah langkah yang akan melahirkan ribuan langkah lain tanpa mematikan langkah terdahulu. Kelahiran cara pandang baru dalam berteater meskipun bertentangan dengan pendahulunya namun tidak bersemangat untuk menghancurkannya. Cara pandang baru adalah kekayaan tak terperi bagi seni teater dan bagi kesadaran kemanusiaan para pelaku dan penonton teater. Selalu ada makna yang hendak disampaikan dalam satu konsep pertunjukan teater yang dikerjakan secara suntuk dan dedikatif itu. Ketika sumber utama kisah teater adalah manusia dan segala yang melingkupinya, maka rupa teater begitu beraneka. Semua orang, semua persoalan, semua laku bisa jadi terwakili dalam rupa-rupa teater itu. Bahkan kemungkinan tak berbatas pun dapat disajikan karena memang tidak ada sesuatu yang mampu membatasi pikiran. Kemuliaan teater pada masa ini adalah kemuliaan pikiran.

====bersambung===

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.