Eduteater

Kemuliaan Dalam Teater (6)

Oleh: Eko Santosa

Kemuliaan Manusia

Kemuliaan teater dalam menyuarakan kebaikan manusia pada masa seni sebagai bagian integral persembahan meniadakan figur yang bekerja di dalamnya. Artinya, semua pelaku teater seolah-olah menjadi tidak penting ketika peristiwa teater disampaikan. Semua orang akan menyaksikan rangkaian peristiwa dan menyerap nilai yang disampaikan. Akan tetapi, seturut sifatnya yang organik, seni teater tumbuh berkembang bersama para pelakunya. Tidak ada teater tanpa orang yang menciptakannya. Geseran ini membawa dampak luar biasa bagi teater, karena para pelaku teater kemudian bisa mengungkapkan pikirannya berdasar pengalaman yang ia alami di tengah masyarakat dan hal itu diakui serta diterima oleh masyarakat. Pikiran-pikiran yang diakui sebagai sumber artistik ini merembes ke seluruh aspek pendukungnya dan memang semuanya diakui.

Sebuah pengakuan yang akhirnya berpengaruh pada konsep produksi teater hingga hari ini. Semua orang yang terlibat di dalamnya mesti dicatat sesuai dengan wilayah atau bidang kerjanya, dan semuanya mendapatkan pengakuan sesuai kepiawaiannya. Teater berubah menjadi semacam industri yang mempekerjakan banyak orang di dalamnya. Masing-masing orang harus patuh pada sistem kerja dengan tujuan yang sama yaitu keberhasilan pementasan. Satu hal yang mungkin sangat memukau bagi kelompok teater masa lalu di mana satu orang bisa atau harus mengerjakan banyak hal untuk menyajikan sebuah pertunjukan.

baca juga : Kemuliaan Dalam Teater (5)

Konsekuensi atas pengakuan itu tidak hanya berpengaruh pada sistem produksi namun juga pada seluruh elemen artistik yang ada. Masing-masing elemen memerlukan orang-orang yang ahli di bidangnya. Masing-masing orang sesuai dengan kultur keterbukaan yang telah dibentuk dapat melontarkan pikiran-pikiran berdasar pengalaman masing-masing sebagai refleksi problem kemanusiaan yang dihadapi. Pikiran-pikiran ini dapat diajukan untuk kemudian diproses sedemikian rupa hingga terwujud dalam gelar karya. Teater telah benar-benar membebaskan dirinya sebagai wadah untuk menampung kemuliaan pikiran manusia.

Galibnya sebuah kebebasan, tidak bisa memberikan batas-batas keras atas boleh tidaknya tindak (beralasan) artistik dilakukan. Penyakit yang dulu ditentang ketika zaman Dewa dan Raja di mana kemuliaan yang disajikan seringkali palsu karena digunakan untuk menutupi kenyataan merebak. Seni teater yang bersandingan dengan kekuasaan selalu lebih dekat dengan hasrat daripada pikiran, pun demikian ketika keterbukaan digelar dan seni teater bersanding dengan nalar ekonomi. Sejak masa pencerahan atau era fajar budi, hasrat perluasan itu dilangsungkan. Orang-orang wilayah Barat menemui para “liyan” yang dengan semangat tertentu mesti ditunggalkan baik dalam bentuk narasi religi, politik, maupun ekonomi. Ketunggalan ini merangsek bersama di dalam kepentingan-kepentingan ruhani, militer, dan industri. Masing-masing mendesakkan nilai bawaan. Nilai ini mencoba mempengaruhi atau berjaya hidup di tengah nilai tempatan yang ada.

Khusus dalam hal seni teater, perluasan dan penunggalan nalar “liyan” merasuk ke dalam berbagai macam kepentingan. Semuanya bisa tumbuh dengan berbagai macam penyesuaian yang ada. Nilai kemuliaan teater dalam konteks penyampai kebenaran tidak bisa dikatakan berubah selain cara teater itu sendiri tampil. Kedigdayaan pikiran coba dimasukkan melalui aneka rupa sajian (bentuk pementasan). Sejarah teater tempatan mengalami perubahan, penyesuaian, dan penyelarasan sembari terus menjaga kelangsungan hidupnya. Persis seperti budaya induk di mana teater memerlukan perjuangan yang tidak sebentar untuk hadir sebagai wadah pikiran-pikiran. Dan ketika hal ini terjadi, sandingan industri atau ekonomi itu juga mulai menjangkiti. Teater kemudian berjalan dalam dua jalur yaitu pikiran dan hasrat. Tapi jalur ini pun nampaknya tidak akan berjalan lama karena peneguhan pikiran mesti harus bersanding dengan hasrat untuk menjaga dayanya. Secara sederhana perlu dipertanyakan, apakah teater mempengaruhi tindak manusia dalam keseharian secara nilai atau justru teater hadir sebagai iklan dari hasrat politik dan ekonomi?

Jawaban atas pertanyaan ini tidak bisa diberikan oleh teater melainkan oleh para pelakunya. Pikiran dan hasrat itu bisa jadi berjalan bersama, bisa pula berjalan sendiri-sendiri dan bisa juga hasrat berjalan sembari menelikung pikiran. Ketika wadah kebebasan telah diberikan secara terbuka, maka teater tidak ada bedanya dengan aktifitas-aktifitas lain yang selalu memiliki jalinan erat antara idealisme dan cara bertahan hidup. Nilai kemuliaan yang bisanya didengungkan melalui jalur pikiran dan karenanya idealis seringkali berbenturan atau sengaja dibenturkan dengan cara-cara agar pikiran itu bisa bertahan hidup. Satu cara yang biasanya menyerang para pemilik pikiran sehingga terdapat pilihan antara bertahan atau mengikuti jalan untuk terus bertahan hidup meski pikiran tergerus. Sebuah pilihan yang sangat tidak mudah di tengah desakan bidang kehidupan lain yang memang mengarahkan hidup manusia selalu dalam kondisi terdesak.

Akhirnya, manusia pelaku teater itu harus memilih antara menghidupi teater, hidup dari teater atau berjalan separuh-separuh. Masing-masing dari ketiga pilihan itu membawa konsekuensinya tersendiri. Masing-masing membawa hukumnya sendiri. Yang terpenting dari itu semua adalah kesadaran manusianya. Kesadaran untuk memuliakan dirinya sendiri melalui jalur teater yang dipilih. Tidak ada yang dapat mengatakan dewasa ini bahwa ada yang terbaik di antara ketiga pilihan itu. Sekali lagi, manusia selalu diletakkan pada posisi terdesak untuk memilih dari pilihan yang ada tanpa perlu diketahui siapa atau kekuatan apa yang mengadakan itu. Namun, kesadaran akan mengembalikan kemuliaan manusia teater untuk berteguh dalam pilihannya. Bukan menampilkan pilihan satu sambil menelikung yang lain atau menampilkan satu pilihan sekedar untuk bersembunyi karena mentalnya ada di pilihan lain. Dewasa ini, kemuliaan teater sangat tergantung dari kemuliaan manusia yaitu pelaku teater itu sendiri.

(**)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.