Teatrika

Latihan Membaca Teks (1)

Jurnal Seni Peran Whani Darmawan

Latihan membaca teks ini penting justru tidak dalam rangka ketika hendak berlakon, sebelum pada akhirnya sebuah kelompok teater atau aktor memutuskan untuk menyiapkan lakon. Mengapa demikian? Karena catatan-catatan berikut ini adalah sebuah strata atau urutan metodik untuk memahamkan aktor akan teks.

  1. Membaca dalam hati
  2. Membaca persuku kata
  3. Membaa perkata
  4. Membaca sebagai orang pertama non karakter
  5. Membaca sebagai orang ke tiga
  6. Membaca natural emosional non karakter

Apakah nomor-nomor itu suatu urutan? Ya. Mari kita mulai satu persatu.

Membaca Dalam Hati

Apakah kita masih ingat masa kecil dulu ketika belajar membaca? Pada tahap awal ketika kita belajar membaaa kita memulai dari mengeja huruf ; a, b, c, d,….dst baru kemudian mengeja kata setelah akhirnya kalimat dan kemudian membaa dalam hati.

Hal tersebut memberi sumbangan besar pada metode pelatihan aktor sub bagian membaca teks. Hanya saja bedanya dalam hal ini calon aktor tidak memulai dari mengeja suku kata atau peerkata, meski itu menjadi metode yang musti dijalankan berikutnya setelah teknik membaca dalam hati. Alasan ini ditempuh karena memang diyakini bahwa calon aktor sudah bisa membaca dan menulis. Maka metode pertama yang ditempuh adalah membaca dalam hati.

Ketika masa kecil dulu memperkenalkan kita pada metode membaca dalam hati, alangkah asingnya ketika pertama kali melakukan. Tetapi hal itu mengingatkan kita pada suatu sensasi keadaan di mana dalam diam ada yang bergerak-gerak dalam diri kita, yakni pikiran. Maka kemudian kita terbiasa membaca dalam hati. Masalahnya, permainan pemeranan (keaktoran) pencapaiannya bukan pada membaca dalam hati. Membaca dalam hati sungguh-sungguh hanya salah satu metode untuk memahamkan persoalan. Setelah calon aktor paham ia dituntut untuk menyuarakannya kembali dengan ekspresi. Di sinilah letak penting metode-metode ini, yakni mendekatkan kembali pada peristiwa lisan verbal natural kembali.

Untuk melatih seberapa jauh kemampuan pencerapan pikiran kita, sebaiknya setelah membaca dalam hati calon aktor diharapkan untuk menceritakan kembali (ingat, bukan membacakan, tetapi menceritakan). Pada proses penceritaan kembali itulah rekonstruksi atas bacaan yang kita pahami muncul. Tetapi musti diingat, di dalam menceritakan kembali aktor tidak boleh menginterpretasi, melibatkan emosi, terlebih menjustifikasi. Penceritaan ini lebih bersifat kronikal. Pelibatan emosi personal sebagai aktor melalui percakapan dalam latihan dengan pelatih akan ada saatnya tersendiri dalam mendalami cerita atau lakon.

Tujuan dari metode ini adalah agar perilaku membaca dalam hati menjadi kebiasaan aktor untuk memahami teks. Karenanya, perilaku membaca dalam hati ini musti dilakukan berulangkali. Sebab sebagaimana sebuah labirin yang tak memiliki ujung seringkali ketika kita membaca sesuatu, meski itu sudah berulangkali, pikiran kita memberikan masukan lagi dalam sisi yang berbeda atas kontent dari teks tersebut. Dengan demikian membaca berulangkali semakin memberikan kekayaan pemahaman calon aktor atas teks.

Sampai minggu depan.***

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.