Teatrika

Latihan Membaca Teks (3)

Jurnal seni peran whani haridarmawan

Membaca Perkata

Latihan membaca perkata sebagai suatu metode pendalamanatas teks penting untuk dilakukan. Hal ini sama pentingnya ketika kitamelakukan gerak-gerak silat. Bagi mereka yang menonton (latihan metode kokditonton) bisa saja terjebak pada kesalahan paradigma sehingga bisa sajamelecehkan. Seperti orang melecehkan latihan metode gerak silat yang dinilainyaCuma’begitu saja.’ Padahal yang ‘begitu saja’ sering sangat berpengaruh padapembangunan sikap dasar. Demikian pula perihal membaca teks perkata ini.Bagaiman praktek membaca perkata?

baca juga : Latihan Membaca Teks (2)

Tentu saja, karena latihannya adalah membaca perkata, pemaknaan tidak menjadi sasaran utama. Pelafalannya pun lambat karena fokusnya adalah kesadaran pada kata. Latihan yang kelihatannya remeh temeh ini membutuhkan kesanggupan aktor untuk sabar. Konsentrasi bisa buyar oleh karena anggapan bahwa melakukan metode ini tidak penting. Karena menganggap tak penting maka dalam melakukannya kemudian asal-asalan. Sesungguhnya sikap asal-asalan pun ini masih bisa ditolelir dengan catatan kesadaran akan berlatih itu tetap memantau.

Apa sebenarnya tujuan latihan membaca persuku kata ini?

Latihan membaca persuku kata bertujuan untuk menetakkan hapalan secara presisi dan memberikan kesadaran pentingnya keberadaan rangkaian kata bagi sebuah kalimat. Banyak aktor yang sesudah merasa hapal teks kemudian meninggalkan teks itu sendiri dan tidak membacanya lagi. Bahkan ada istilah meninggalkan teks. Padahal ada sutradara/ pelatih dialog/ pelatih peran yang memberlakukan gerakan kembali ke dasar sesudah aktor melampaui akting yang detail. Gerakan kembali ke dasar itu adalah kembali membaca teks ; bisa per suku kata, perkata, perkalimat non karakter, atau perkalimat include karakter. Ketika hal itu diujicobakan, ternyata banyak aktor yang menemukan hal baru, termasuk suku kata – yang oleh karena merasa sudah hapal – ternyata tergantikan. Misalnya kata kau menjadi kamu, di menjadi ke, kepada menjadi pada. Pentingkah itu? Seorang penulis naskah biasanya memiliki pertimbangan dalam menyusun kalimat. Apalagi jika posisi teks tersebut sedang diterjemahkan. Maka tidak ada alasan permainan teater mengesampingkan teks — kecuali, sekali lagi — atas pertimbangan artistik tertentu. (***)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.