Teatrika

Latihan Membaca Teks (4)

Jurnal seni peran whani haridarmawan

Membaca Sebagai Orang Pertama non Karakter

Jika sebuah kelompok teater memasuki produksi dengan mengangkat suatu naskah acara reading yang terjadi biasanya berlangsung langsung mendekati peran, meski sutradara pada awalnya membebaskan untuk langsung membaca. Dalam kepentingan produksi latihan dasar latihan metodologis sering tidak mendapatkan tempat, karena alasan kepentingan produksi sering kelompok teater sering memberlakukan langsung ‘pancal gas’ mengandaikan pemain siap atau setidaknya separo siap. Tidak ada kesalahan apapun dalam hal itu. Namun jauh sebelum memasuki produksi sebenarnya banyak cara baca yang bisa dieksplorasi sebagai suatu metode. Misalnya tawaran tema kali ini ; membaca sebagai orang pertama non karakter.Apa dan bagaimana itu?

baca juga : Latihan Membaca Teks (3)

            Membaca sebagai orang pertama non karakter adalah cara bicara sebagai orang tunggal (personifikasi tokoh dalam teks), namun tidak menggunakan emosi. Dengan speed lambat, santai, khidmat, tidak perlu memasuki arus karakter yang dibangun dalam teks tersebut. Jadi, kendati dalam teks tersebut sudah ditunjukkan oleh bangunan dramaturgi ada ledakan kemarahan, pembaca tidak perlu terhanyut mengikuti emosi tersebut. Datar saja. Bagi aktor yang telah memiliki kepekaan terhadap rasa bahasa dan irama memang ia akan dengan cepat menangkap sinyal emosi yang diisyaratkan oleh penulis naskah. Tetapi pun untuk kembali menelisik keseluruhan bangunan emosi membaca sebagai orang pertama non karakter tetap penting untuk dilakukan. Memang, biasanya agak gampang-gampang susah dalam hal ini. Yang sering terjadi meski kesepakatannya seperti tema tersebut di atas dalam perjalanan adrenalin dalam membaca itu berlari dengan sendirinya. Sama persis dengan kejadian berlatih silat dalam fase serang-bertahan. Meski telah diisyaratkan perlahan-lahan tetap saja dalam perjalanannya tiba-tiba saja si pesilat akan ngebut terbawa oleh adrenalin. Lalu apa pentingnya metode ini?

            Hampir sama dengan fungsi metode lainnya, metode ini penting untuk menelisik segala sesuatu hal yang berkaitan dengan teks tersebut ; emosi, struktur dramaturgi, problem utama, problem sampingan, karakter, konteks waktu, tema, diksi tokoh, keterangan nebend text, impresi yang diinginkan oleh pengarang, dsb. Dan sebagaimana perilaku penerapan metode ini semuanya diakhiri dengan diskusi. Diskusi sangat penting untuk bertukar pendapat demi melengkapi, konfirmasi atau klarifikasi segala persoalan yang menyangkut teks.(****)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.