Teatrika

Latihan Membaca Teks (5)

Jurnal seni peran whani haridarmawan

Membaca Sebagai Orang ke Tiga.

Metode membaca sebagai orang ke tiga ini pertama kali saya terima dari dramaturg asal Yunani, bernama Niko. Ia adalah dramaturg pada produksi film ‘Bali Project’ di tahun 2006. Sebuah film yang mengisahkan perjalanan suicide bomber, Imam Samudra, meski kemudian project film ini gagal produksi di tengah jalan oleh suatu sebab.

Metode membaca sebagai orang ke tiga ini cukup unik. Para calon aktor diminta untuk melakukan reading tetapi spontan dengan mengubah kalimat orang pertama (tokoh) menjadi orang ke tiga ; orang yang menginformasikan. Misalnya kalimat tokoh A terbaca, “Aku pernah mengalami hal itu, tetapi jauh di masa lalu,’ maka kalimat itu pun terbaca menjadi “Tokoh A mengatakan bahwa ia pernah mengalami hal itu, tetapi katanya jauh di masa lalu.” Misalnya dialog tokoh B terbaca, “Tidak! Aku tidak akan melakukan tindakan gila seperti itu!” Maka dalam metode membaca sebagai orang ke tiga menjadi, “Tokoh B mengatakan bahwa ia tidak akan melakukan tindakan yang ia nilai gila seperti itu.” Mudah?

baca juga : Latihan Membaca Teks (5)

Tunggu dulu. Kelihatannya memang mudah, tetapi kenyataannya tidak setiap pemain bisa berlaku cerdas dengan cepat. Banyak pemain tidak bisa dengan cepat mengerti instruksi itu hingga membacanya tetap sebagai orang pertama berkarakter. Atau, seolah-olah berlaku sebagai orang ketiga, tetapi tetap saja ia melakukan dialog sebagai orang pertama. Pemain hanya memberikan pengantar, “Tokoh A mengatakan………………….dan seterusnya ia melakukan dialog orang pertama berkarakter.”

Satu lagi contoh dialog panjang. Misalnya tokoh A berdialog, “Ya. Aku merasakan hal itu. Tetapi kali ini mustahil kulakukan. Pihak Belanda telah membaca situasi ini sehingga menurutku kita tidak boleh gegabah dalam melakukan penyerangan.” Dengan dialog utama seperti itu, metode ini mengubahnya menjadi, “Tokoh A mengiyakan, bahwa ia merasakan hal itu. Tetapi menurutnya kali itu mustahil ia melakukan. Karena menurutnya pihak Belanda telah mulai mencium situasi seperti itu, sehingga Tokoh A merasa ia tidak bisa gegabah lagi dalam melakukan penyerangan.” Apakah membaca sebagai orang ketiga bertendensi untuk menerangkan? Salah satunya ya, tetapi point yang sesungguhnya bukan itu, melainkan mengajak aktor untuk melihat dirinya sendiri (dalam konteks tokoh yang ia mainkan, yang dimainkan lawan main maupun situasi yang melingkupinya). Tanpa diterangkan target yang akan diraih demikian, pada umumnya para aktor yang terlibat dalam reading akan manggut-manggut menyadari bahwa ia tengah dituntun untuk melihat dirinya sendiri dalam permainan itu. Efek yang didapat adalah bahwa ia bisa ikut melihat peristiwa itu secara obyektif bahkan terhadap tokoh yang ia mainkan sendiri. Pemain kemudian menyadari seperti melihat suatu peristiwa di luar dirinya, meski ia sedang membacakannya. Metode ini sungguh sederhana sekaligus luar biasa pencapaiannya.

Metode ini dilakukan dengan cara perlahan-lahan. Pemain tidak boleh terjebak mengikusi adrenalin cara baca orang pertama berkarakter. Pada kenyataannya sering pemain tak sengaja masuk dalam metode bacaan sebagai orang pertama berkarakter hingga menabrak aturan yang sudah digariskan. ****

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.