Eduteater

LATIHAN MEMBACA TEKS Part 3

LATIHAN MEMBACA TEKS Part 3

Baca juga : LATIHAN MEMBACA TEKS Part 2

3. Membaca Teks Dramatik

Membaca teks dramatik sama kiranya dengan bermain peran namun tanpa melakukan aksi di atas panggung. Semua teknik olah suara dapat diterapkan dalam membaca teks drama. Hal yang penting adalah tersampaikannya emosi, situasi, dan watak karakter yang dibaca. Jika dalam membaca teks naratif dan puitik dilakukan seorang diri, maka tidak demikian dalam membaca teks drama. Setiap orang membaca sesuai perannya masing-masing yang beruwjud dialog. Kalimat dialog dalam drama bentuknya bisa bermacam-macam, naratif, puitik, aktif, dinamik dan berbagai macam yang lain. Berikut ini adalah cuplikan teks drama yang diambil dari lakon Pakaian dan Kepalsuan karya Averchenko terjemahan Achdiat K. Mihardja.

HAMID                :  Yah, kalau kita terlalu mengikat diri kepada segala apa yang pernah kita cita-citakan dulu dan yang kini ternyata meleset semata-mata, maka memanglah kita harus kecewa belaka. Apalgi kalau kita melihat keadaan dikalangan politik kita dewasa ini dan bagaimana kotornya cara-cara pemimpin kita berbuat pengaruh dan kekuasaan, maka bagi kita sebagai bekas pejuang yang kini masih menganggur….

RUSMAN           :  Tapi politik memang kotor.

HAMID                :  Itu sama sekali tidak benar. Politik tidak kotor. Malah sebaliknya politik adalah satu hal yang murni. Sloganmu itu kini terlalu mudah diucapkan orang, seolah suatu kebenaran yang mutlak, padahal…..

(RUSMAN TERTAWA)

HAMID                :  Dengarkan dulu!

RUSMAN           :  (TERTAWA). Bagaimana kau bisa berkata begitu, Mid. Itu kan omong kosong. Tidakkah kau perhatikan, bagaimanapartai yang satu atau pemimpin yang satu membusukkan dan menentang partai atau pemimpin yang lain, agar partai atau pemimpin yang ditentangnya itu jatuh untuk kemenangan partainya atau dirinya sendiri? Untuk itu mereka menghasut, mendusta, menipu, menyogok, mengancam, menculik dan kalau perlu malah membunuh. Tidakkah berbuat begitu itu busuk semata-mata. Katakanlah politik itu tidak busuk.

HAMID                :  Memang, tapi itu sama sekali tidak berarti, bahwa politik itu kotor. Sama sekali tidak. Itu hanya berarti, bahwa partai-partai itu sendiri , atau lebih tepat orang-orangnya itu sendiri yang busuk, yang tidak sanggup berbuat apa-apa, kalau tidak dengan car-cara yang busuk dan jahat. Jadi jelas, bahwa bukanlah politik yang kotor dan busuk itu, melainkan orang-orangnya itu sendiri.

RUSMAN           :  (PADA PELAYAN).

Hai bung, coba kasih beer lagi. Botol kecil saja, ya. Dan ini yang kosong angkat saja.

HAMID                :  Dengar, Rus, politik dan pemimpin politik adalah dua hal yang seperti meja dan kursi, sama sekali tidak sama. Atau lebih tepat lagi, tak ubahnya dengan agama dan penganutnya atau pemimpinnya. Dua pengertian yang berbeda-beda, karena kalau yang satu merupakan tugas, maka yang lainnya merupakan petugasnya. Kalau petugasnya jahat, itu tidak boleh diartikan bahwa tugasnya jahat pula. Betul tidak? Dan kalau kita ketahui, bahwa politik sebagai tugas ialah berarti bersama-sama mengatur susunan hidup, sehingga kepentingan dan kebutuhan hidup tiap orang bisa terpenuhi, lahir maupun batin, maka bisakah kita pertahankan kebenaran slogan tadi itu yang mengatakan, bahwa politik itu kotor?

RUSMAN           :  (MENEGUK BIRNYA) Bagiku pendapatmu itu terlalu bersifat teori, terlalu abstrak. Karena begitu kurang penting. Aku melihat kemyataan-kenyataan yang kongkrit.

HAMID                :  Ini sama sekali tidak abstrak. Ini malah sangat kongkrit. Jelas toh, bahwa tugas dan petugas itu adlah pengertian yang tidak sama. Dan selanjutnya, tidaklah jelas pula bagimu, bahwa sesuatu tugas yang baik dan murni baru bisa dilaksanakan, apabila petugasnya sendiri mempunyai syarat-syarat yang diperlukan untuk menjalankannya.

Disinilah pikirku, letaknya soal; pada petugas-petugas itu sendiri! Apakah ada pada para petugas itu syarat-syarat yang dibutuhkan untuk menjalankan tugasnya yang begitu tinggi dan begitu murni seperti politik itu?

Tapi yang penting pula tentunya, apakah syarat-syaratnya itu? (MEROKOK) Saya rasa, semurni tugasnya, semurni itu pula tentu syarat-syaratnya itu. Dan adakah di duni ini yang lebih murni, lebih tinggi daripada nilai-nilai dan prinsip-prinsip hidup yang bertentangan dengan segala kepalsuan, segala dusta dan sebagainya itu?

(RUSMAN MENEGUK LAGI BIRNYA)

 Sekarang apabila kita perhatikan para pemimpin politik kita itu, apakah ada pada mereka itu syarat-syarat yang berupa prinsip-prinsip dan nilai-nilai hidup yang tinggi seperti yang kumaksudkan itu?

Saya rasa, sebelum orang lain, seharusnya mereka sendiri yang mengetahuinya. Mereka sendiri yang harus pandai mengukur dirinya sendiri. Apabila ternyata harus berani mencopot dirinya sendiri. Apabila ternyata harus berani mencopot dirinya sendiri dan kedudukannya sebagai pemimpin.

RUSMAN           :  (TERTAWA TIBA-TIBA)

Kau ini belum juga berobah, Mid. Masih tetap seorang optimis.

HAMID                :  Bagaimana?

RUSMAN           :  Ya, bagaimana kau bisa mengharapkan, bahwa mereka atas kemauan mereka sendiri akan sudi mengundurkan diri dari kedudukannya. Ha, ha, untuk berbuat begitu, dibutuhkan jiwa yang besar (TERTAWA DENGAN KERASNYA).

Lihat bung, saya rasa, untuk dewasa ini kita akan terlalu jauh masuk kedarah mimpi, kalau kita ngomong-ngomong tentang jiwa besar, tentang prinsip-prinsip hidup yang tinggi atau moral yang murni, dan sebagainya.

Kata-kata itu kini telah menjadi kata-kata asing, bukan saja bagi kaum politik, melainkan untuk umumnya orang-orang yang hidup pada masa sekarang.

Kata-kata itu sudah tidak dimengerti lagi, sebab orang jaman sekarang lebih mengerti kata-kata yang keluar dari mulut ini.

 (MENGELUARKAN PISTOL DARI SAKU CELANANYA, MENGACUNG-ACUNGKANNYA)

HAMID                :  Lho, dari mana kau dapat?

                               Coba lihat. (RUSMAN MENYERAHKAN PISTOLNYA)

                               Ada pelurunya?

RUSMAN           :  Itulah sayangnya. Sebutirpun tidak ada. Aku mesti cari. Kau punya?

HAMID                :  (MELIHAT-LIHAT PISTOL ITU)

                               Darimana aku punya?

Dari cuplikan teks tersebut jelas sekali terpampang bahwa semua kalimat dalam bentuk dialog. Masing-masing tokoh atau karakter dengan dialognya. Agar dapat membaca teks drama seperti tertulis di atas dengan baik, harus dibayangkan peristiwanya. Di dalam pikiran harus dibangun situasi, kondisi dan lingkungan seperti halnya dalam naskah. Tidak diperkenankan membayangkan kejadian tersebut terjadi di atas panggung karena justru akan mengaburkan sisi alamiah dari peristiwa. Pembayangan peristiwa dalam kehidupan nyata akan membawa konsekuensi logi pada pembayangan tokoh yang diperankan. Jika hal ini sudah bisa dilakukan, maka teknik olah suara yang pernah dilatihkan bisa dicobakan sesuai dengan gambaran karakter dan peristiwa tersebut.

(Dicuplik dari: Eko Santosa. 2015-2016. Monolog Berbasis Teks, Modul Guru Seni Teater SMK. Jakarta: Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.