Eduteater

LATIHAN MEMBACA TEKS

LATIHAN MEMBACA TEKS

Latihan olah suara dengan membaca teks merupakan salah satu bentuk penerapan dari teknik pernafasan dan teknik olah suara dasar. Penerapan diksi, artikulasi dan intonasi sangatlah penting artinya bagi pemahaman makna teks. Pemilihan kata untuk ditekankan dan pelafalan kata per kata membawa pesan yang mengandung interpretasi tertentu. Sementara itu untuk menerapkan intonasi dalam pembacaan teks dapat menggunakan jeda, tempo, nada serta timbre. Jeda dalam intonasi pembacaan teks diperlukan untuk mengatur pemenggalan kata dalam kalimat. Tempo dalam intonasi pembacaan teks diperlukan untuk mengatur cepat lambatnya ucapan pembacaan. Nada dalam intonasi pembacaan teks diperlukan untuk mengatur tinggi rendahnya suara untuk menyampaikan ekspresi tertentu dalam pembacaan. Sedangkan timbre terkait dengan karakter suara yang hendak ditampilkan.  Berikut ini akan dibahas mengenai teknik olah suara dalam membaca teks yang terdiri dari teks naratif, teks puitik, dan teks dramatik.

  1. Membaca Teks Naratif

Teks naratif merupakan sebuah teks yang terangkai dalam kalimat yang menggambarkan tentang suatu kejadian. Teks naratif bisa berbentuk cerita atau hanya berita. Dalam drama, teks naratif bisa ditemukan dalam wicara misalnya monolog yang menjelakan mengenai satu kejadian atau peristiwa secara berurutan dan tanpa dialog. Karakter dalam hal ini hanya bercerita dan tidak memperagakan tokoh dalam cerita. Teks-teks naratif dalam bentuk cerita sangat baik digunakan sebagai bentuk latihan pembacaan teks karena selain mengandung imajinasi juga menyediakan kekayaan kosa kata. Berikut adalah contoh teks naratif dalam bentuk cerita.

Pada suatu masa hiduplah seorang anak bernama Dalkipo di sebuah desa terpencil. Dalkipo adalah seorang anak berusia belasan tahun yang patuh pada perintah kedua orangtuanya. Apapun yang diperintahkan oleh kedua orangtuanya tidak pernah dia tolak meskipun perintah tersebut sebenarnya cukup berat baginya.

Pada suatu hari Dalkipo sedang sakit, dan Ibunya menyuruhnya untuk mencari rempah-rempah di hutan untuk dimasak. Meskipun sedang sakit, Dalkipo tetap menjalankan perintah sang ibu. Berangkatlah Dalkipo menuju hutan.

Sesampai di hutan, Dalkipo tidak berdaya karena sakitnya. Badannya lemas, dan dia seperti hendak mau pingsan. Lalu datanglah seseorang yang kala itu kebetulan sedang berburu. Orang tersebut mendekati Dalkipo dan langsung memberikan pertolongan.

Dalkipo akhirnya dibawah ke rumah. Setibanya di rumah kedua orang tua Dalkipo terkejut dengan raut wajah ketakutan. Orang tua Dalkipo tidak menyadari bahwa anaknya tersebut sedang sakit. Ternyata, dalam kondisi apapun Dalkipo tetap bersedia menjalankan perintah orangtuanya.Kedua orang tuanya menangis demi menyadari hal ini. 

Teks cerita di atas sama sekali tidak mengandung dialog, sehingga dibutuhkan teknik penjedaan dan diksi yang tepat untuk merangsang imajinasi dan ketertarikan. Tanpa jeda, kalimat yang dibaca akan meluncur begitu saja dan tidak sempat memberikan waktu bagi pendengar untuk membangun imajinasinya. Demikian pula dengan diksi, pemilihan kata untuk ditekankan jika salah juga berakibat kurang enak di dengar. Dalam kasus teks di atas jika pilihan kata untuk ditekankan adalah “Dalkipo”, maka yang terjadi pendengar akan bosan karena jumlah kata “Dalkipo” terlalu banyak.

To be continued……

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.