Teatrika

Latihan Suara (1)

Sebelum segala sesuatunya menjadi urusan wicara, kesadaran terhadap suara menjadi penting. Mungkin karena justru dalam kehidupan sehari-hari suara secara inertial menjadi milik, maka proses keberadaannya sering tak tergubris, seperti puisi Darmanto Jatman tentang peran isteri, “isteri sangat penting bagi kita justru ketika kita mulai melupakannya/ seperti lidah ia di mulut kita/ tak terasa/ seperti jantung ia di dada kita/ tak teraba.”

Demikianlah, biasanya kita baru menyadari keberadaan organ pendukung tubuh kita jika di antaranya ada yang mengalami kemacetan oleh karena sakit atau trouble lainnya. Sama halnya dengan kebijaksanaan yang mengatakan ‘kita baru akan merasakan pentinya sehat pada saat kita sakit.’ Biasanya, pada keadaan sehat justru kita abai. Sakit adalah obat mujarab untuk mengingatkan perihal kedisiplinan terhadap kesehatan.

Banyak hal yang perlu dipelajari perihal suara. Jika kita mau mengkaji perbagian maka sangatlah banyak yang musti diurus dalam perihal suara. Mulai dari organ produksi yang melahirkan suara itu sendiri, yakni antara dorongan napas, ‘pemantik’ genjreng pita suara dan hasil bunyi itu sendiri, sebelum suara itu direkonstruksi menjadi sub produk budaya komunikasi.

Meski aktor bukanlah petugas kesehatan pita suara, apalagi dokter yang berurusan dengan spesialisasi THT, tetapi sebaiknya aktor mengenal organ dirinya. Ada aktor yang mampu meningkatkan timbre suaranya dari cempreng alto ke bariton atau bahkan bas, tetapi ada juga aktor yang berusaha mati-matian untuk melakukan itu tetapi tak juga bisa. Kenapa? Mungkin saja keadaan atau kualitas organ yang tidak sama. Ini sama juga dengan perumpamaan kondisi personal penari balet A dengan penari balet B. Penari balet A ukuran tubuhnya ideal 1(torso)-2 (kaki) sehingga jika menari ia tampak jenjang dan ideal menurut kaidah balet. Bagaimana dengan B yang memiliki idealitas tubuh 1 (torso)- 1 (kaki)? Apakah suatu gerak yang sama bisa dilaksanakan dengan sama pula? Belum tentu. Dalam konteks inilah pengenalan terhadap organ diri menjadi penting untuk mencari otentisitas suara.

Banyak metode olah suara sebagian besar transformatif empirik dari satu aktor ke aktor lainnya atau dari pelatih ke aktor. Upaya alih keilmuan seperti ini  sudah sangat biasa terjadi di mana saja, menyusul kemudian teknik atau metode, tetapi di masa lalu (atau bahkan kini?) kebiasaan pengenalan atas tubuh juga masih belum maksimal. Tentu tak perlu dengan dalih ‘tidak ada manusia yang sempurna,’ untuk menerangkan gejala serak atau radang tenggorokan yang berhubungan dengan perilaku/ pola hidup serta hubungannya dengan pola latihan. Seseorang bisa terkena flu dan hanya cukup satu hari selesai, sementara orang lain mungkin bisa lima hari bahkan seminggu. Pertanyaannya ; kenapa? Kenapa hal itu bisa terjadi? Karena ganasnya virus flu ,lemahnya stamina, atau kegagalan memahami tubuh sendiri?

Suatu saat kita banyak makan makanan yang mengandung minyak, suatu hari kita tidur larut di ruang terbuka, suatu saat kita dihantam gumpalan debu. Apa pengaruhnya hal itu dalam sistem organ suara kita? ***

One thought on “Latihan Suara (1)”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.