Teatrika

Latihan Suara (2)

Jurnal Seni Peran Whani Darmawan
Dalam teknik vokal di teater kita mengenal istilah bunyi, intonasi, artikulasi, dll. Coba kita menjelajahi satu persatu.
Bunyi merupakan suatu suara yang tidak diikat oleh makna. Ia bisa berupa jeritan lenguhan yang tidak diikat oleh emosi. Dengan demikian dikatakan ‘asal bersuara’ memang demikian kenyataannya.  Tetapi dalam kehidupan sehari-hari betapa kita sering menemui bahwa bunyi terikat oleh emosi. Ia merupakan suatu akibat dari sebab peristiwa. Misalnya, kecewa, sedih, bahagia, dsb. Karenanya interjeksi atau suara ‘oooh’ bisa memiliki makna tertentu ketika ia mendapatkan ikatan emosi. Dari mana ikatan emosi yang muncul bisa ditandai dalam suara? Dari intonasi.
Intonasi adalah tinggi rendahnya nada dalam suara. Secara verbal metodik para calon aktor bisa meminjam teori tangga nada dalam teori musik dengan memahami prinsip nada, meski emosi tak bisa disamakan presisi dengan dengan tangga nada. Tapi dari sini bisa dipahami dengan mengamati suatu seni ‘suaradrama’ semacam teater musikal atau terlebih opera. Bahkan dalam opera bentuk ‘drama lagu’ sudah tak bisa dikategorikan oleh karena kecanggihan para aktor memainkan lagu dalam emosi atau emosi dalam lagu ; bernyanyi seolah-olah sedang berbicara.
Banyak metode untuk melatih intonasi. Misalnya dengan melakukan permainan nada. Misalnya ada tujuh calon aktor maka peserta pertama menjadi tangga nada Do, peserta kedua menjadi Re dan seterusnya. Pelatihan menjadi konduktor dengan aturan main ia menunjuk secara acak siapapun calon aktor, dan calon aktor yang ditunjuk memperdengarkan tangga nada yang dimilikinya sehingga terciptalah suatu irama atau ‘lagu.’ Demikian seterusnya. Cara kedua adalah dengan membaca tetapi fokus pada rima. Bacaan bisa artikel, bisa puisi, bisa resep masakan, bisa buku telephone, apapun. Caranya, calon aktor membaca dengan bersuara dan mengiramakan bacaan tersebut tanpa tendensi makna, sehingga yang terdengar memang sekedar permainan tinggi rendah nada. Setelah hal itu tertempuh, fase berikutnya adalah membaca dengan satu nada. Misalnya Do yang konsisten Do terus hingga akhir bacaan.
Menurut Wikipedia bahasa Indonesia (https://id.m.wikipedia.org/wiki/) Artikulasiartikulasi adalah perubahan rongga dan ruang dalam saluran suara untuk menghasilkan bunyi bahasa. Area artikulasi terbentang dari bibir luar sampai pita suara, di mana fonem-fonem terbentuk berdasarkan getaran pita suara disertai perubahan posisi lidah dan semacamnya. Dalam bahasa gaul teater sering disebut sebagai kejelasan perhuruf persuku kata. Pada kenyataannya memang banyak rangkaian kata yang kemudian menjadi kalimat tersusun dengan tanpa memperhitungkan efek perpindahan struktur rongga dan perubahan organ-organ suara sehingga terkadang membutuhkan kemampuan ekstra untuk bisa mengucapkannya. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari pun terkadang kita mengalami hambatan komunikasi karena kita tak mampu mengucapkannya secara terang dan jelas. Jika susunan kalimat yang diucapkan masih memuat hal-hal yang secara kultur kebahasaan bisasa saja, resiko terjadi miss komunikasi masih bisa di atas. Tetapi jika seseorang mengucapkan bahasa asing di mana yang asing tersebut terikat oleh pola pengucapan oleh kultur di mana bahasa tersebut lahir dan berkembang, maka bisa jadi jawaban pertama dari person lain yang diajak komunikasi adalah, “Apa?” atau “Bagaimana?” dan biasanya kemudian kita mengulanginya secara perlahan dengan artikulasi (nah!) yang lebih diperjelas, hingga yang diajak bicara pun akhirnya melepaskan interjeksinya lega, “Ooooooo……”
Dalam pada ini, secara metodik calon aktor bisa melakukan ‘jelajah artikulasi’dengan menciptakan rangkaian kalimat khusus. Misalnya kalimat, “Sesusah-susahnya susi masih susah susan.” Atau, “Kaki kakakku kaku-kaku kala kaki kakek kaku-kaku,” bisa juga permainan kalimat yang lebih sederhana, “Sluman slumun salaman slamet.” Permianan kata ini bisa dibawakan dengan cepat dengan usaha tanpa salah mengucapkan. Artinya perpindahan posisi organ-organ suara dalam mulut (lidah) atau struktur bentuk mulut juga bagian dari senam organ itu sendiri.
Di luar catatan tersurat di atas, tentu banyak sekali pilihan untuk bisa melatih suara. Selamat mencoba. (***)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.