News

Lawatan Pentas Whanidproject ke Singapura

Lawatan Pentas Whanidproject ke Singapura

Pada bulan Juli 2018 Whanidproject kembali menggelar sebuah pertunjukan teater dengan mementaskan teks “Luka-luka yang Terluka” karya Whani Darmawan. Pementasan akan berlangsung di black box teater Kami, d/a Teater Kami Limited. One-two-six Cairnhill Arts Centre,
126 Cairnhill Road #02-04/05,Singapore 229707. Dimainkan sendiri oleh penulisnya berpasangan dengan aktor dan penyair Singapura, Rafaat Haji Hamzah ( https://www.whanidproject.com/rafaat-haji-hamzah-whanidproject-dan-lanjong-art-festival-2017-3/) dan disutradarai oleh Eko Santosa (https://sites.google.com/site/ekoompong/).

Sinopsis
Lakon yang ditulis tahun 1990 ini bercerita tentang 2 orang sahabat yang telah kehilangan jatidirinya akibat terjebak dalam kehidupan modern yang mekanik. Di mana dalam kehidupan itu mereka lebih mengejar kepemilikan akan benda dan eksistensi sehingga alpa akan sisi kemanusiaan mereka.

Pada saat kesadaran tentang kemanusiaan ini pada akhirnya muncul mereka mencoba mencarinya. Bersusah payah mereka mengembalikan citra kemanusiaan yang telah lama hilang. Ketika nilai kemanusiaan itu mereka temukan, perasaan bahagia hinggap hanya sesaat. Pada posisi itu, mereka dapat dengan jernih menyaksikan penderitaan manusia lain yang terjebak pada dimensi benda seperti yang mereka alami sebelumnya. Upaya menolong sesungguhnya adalah sia-sia karena mereka tidak pernah bisa dan mau untuk ditolong. Namun kewajiban manusia adalah menolong manusia lain meski untuk itu ia harus mengorbankan dirinya. 2 pilihan berat penuh luka yang akhirnya dipilih oleh masing-masing dari 2 sahabat ini.

Kontekstualitas dan Aktualitas.
Lakon ini menarik karena kondisi kehidupan modern dewasa ini memang cenderung membendakan segalanya. Ukuran unggul itu hanya dilekatkan pada kepemilikan dan bukan nilai kemanusiaan. Padahal perjalanan sejarah manusia penuh dengan nilai yang susah payah diraih untuk menegaskan perbedaan antara dirinya dan makhluk lain. Semua nilai itu lesap dan bertukar dengan benda dan semuanya bisa diperjual-belikan. Hidup bukan lagi pengalaman perjalanan untuk meraih kebijaksanaan melainkan pengalaman perdagangan dengan keketatan prinsip ekonomi. (*)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.