Monolog

Lek War Monolog Whani Darmawan untuk Lek War, Teman Seniman

DI SEBUAH RUANG BERINTERIOR BAJA (ATAU STAINLES?) DALAM KONSTRUKSI DAN BENTUK YANG KONTEMPORER, SESEORANG BERPAKAIAN BENGKEL, NAMUN TERASA TRENDI DAN RAPI. BISA SAJA BENGKEL YANG SUDAH BERSIFAT INDUSTRIAL.  MESKI DENGAN KOSTUM YANG  CANTIK ‘INDUSTRIAL’, DI BALIK KOSTUM ITU ORANG ITU TETAP TERASA NDESIT DAN KUSUT. TOKOH ITU, SEBUT SAJA LEK WAR.

LEK WAR BERDIRI MENGHADAPI BIG SCREEN. TANGAN KANANNYA MEMEGANG REMOTE CONTROL YANG IA PENCET-PENCET DAN MENGHASILKAN RUPA GAMBAR BERGANTI-GANTI DALAM TAMPILAN YANG ANIMATIF 3-D ; PACUL, PARANG, PENGOT, BELATI, PEDANG, SAMURAI, SENPI RAKITAN, KONSTRUKSI JEMBATAN, KONSTRUKSI BANGUNAN, INSTALASI SENI, DSB. BIAS PIJARAN API TAMPAK DI BEBERAPA SUDUT, KADANG PERCIKAN BUNGA API MENEBAR DI RUANGAN ITU. SUARA BERDENTAM DAN MENDESIS SEOLAH BERASAL DARI TUNGKU PEMBAKARAN TERDENGAR.

Nama saya Wardiono. Orang merasa lebih akrab memanggil saya dengan sebutan Lek War. Boleh saja. Mungkin tak seorang pun percaya kepada apa yang saya raih hingga kini. Tetapi, hehehe, alih-alih mereka tak percaya, apa yang mereka katakan sesungguhnya adalah pujian atas keberhasilan saya, “Bagaimana mungkin seorang pande besi mengerjakan itu semua. Itu pande besi tingkat dewa.” Demikian kata mereka. Lalu, saya harus apa? Apa seorang pande besi tidak boleh memiliki kecerdasan maksimal? (TERSENYUM) saya sudah bosan saya menjelas-jelaskan saya ini cuma lulusan SD. Semakin saya menjelaskan semakin mereka mengira saya ingin memperlihatkan kesombongan. Hehe, terserahlah.

Begitulah, awal mula sebagaimana yang diwariskan orangtua, kebisaan membuat senjata pertanian adalah hal yang biasa. Ya, dan memang hanya itu yang saya bisa. Saya melayani para tani untuk menggarap sawah dan ladang mereka. Kemudian hidup berkembang pemesanan jadi meningkat, mereka memesan senjata khusus yang bisa mengusir celeng. Tombang bergagang pendek sampai tombak dengan gagang tiga meteran. Kata mereka, mereka suka karena saya selalu menempa besi dengan sangat baik (MENGANGKAT BAHU) ya, mungkin saja.  Hahaha, aneh-aneh saja. Hidup memang tak terduga, dan jika kita punya kemampuan, mau berendah hati dan banyak kawan, itu sudah otomatis menjadi rumusan kesuksesan. Saya rasa, saya begitu. Yang datang pada saya bukan hanya petani yang membutuhkan senjata. Percaya tidak, tetapi juga seniman. Saya tak ada urusan dengan kepentingan mereka, tetapi otomatis itu memberikan pengetahuan pada saya. Bukan saja seniman pertunjukan, tetapi bahkan  ada sekumpulan ormas yang memesan beberapa bilah samurai dan dengan syarat samurai bikinanku harus bisa membelah pedang lain. Hahahaha…..tahukah sampeyan, saya sangat menyukai tantangan. Dan saya bukan tukang tambal panci keliling. Samurai itu hasil keenceran otak saya. Mereka hanya bisa order, saya memutar otak untuk memperolah bahan dasar titanium. Setiap benturan yang terjadi dari samurai titanium, tidak akan menjadikan penurunan sifat mekaniknya. Samakin samurai terpakai semakin ia terasah oleh sasarannya itu sendiri. Yang saya heran, dari mana anak-anak ormas itu punya biaya untuk memesan sebuah samurai bahan dasar titanium, yang bahkan saya patok seratus juta pun terbeli? (GELENG-GELENG KEPALA. JEDA). Begitulah, hidup bergulir dan apakah saya ini seorang pandai besi atau apa, buat saya gak penting lagi ; mulai dari pacul, arit, parang, pagar besi, konstruksi, modifikasi mobil, senjata rakitan, karya seni…apa itu – instalasi, apapun. Apapun. Buat saya itu cuma pekerjaan. Nggak ada yang lain.

TIBA-TIBA IA MERASA RISIH DENGAN PAKAIANNYA YANG TRENDI DAN TIDAK MACH DENGAN DIRINYA ITU. IA PUN MELEPASNYA SAMBIL MENGGERUTU

Ahaah, maaf, saya tak butuh polesan seperti ini. Saya sungguh risih dan keberatan sesungguhnya. Saya seakan menjadi boneka bagi kepentingan-kepentingan industri. Saya sudah bilang, biarkanlah saya menjadi saya, tetapi mereka bahkan tidak menyetujui dan mendadani saya supaya – kata mereka – keren. Hadehh….bahkan setiap orang yang dilahirkan sudah keren atas nama kehidupan.

TIBA-TIBA TERDENGAR SEMACAM MESIN PENGEREK/ PENDEREK, AGAK RIUH. LIK WAR MENOLEH KE SUATU ARAH.

Kalau Anda melihat ruangan saya ini (SAMBIL MENUNJUK RUANG YANG MELINGKUPINYA) mungkin Anda tidak akan percaya bahwa masih ada suara bising di sekitar sini. Itulah. Ini karya jenderal besar….mmhh….anu, maaf, saya gak bisa sebut namanya, karena pembangunan ini bawah tangan. Saya tidak mau sebenarnya, karena suara-suara itu membangkitkan gairah saya bekerja. sementara jenderal-jenderal itu meginginkan saya bekerja dengna rapi dan profesional. Profesional itu artinya tak perlu ada suara berdentam dan mendadak jadi begitu saja. Haah, mana bisa. Saya membutuhkan suara-suara itu untuk menempa jiwa saya. suara-suara itulah hidup saya.

MENENGOK KE SUATU ARAH DI ANTARA SUARA RIUH PENGEREK/ PENDEREK KEMBALI DAN MENGANGKAT HONDHPHONE, MEMIJIT TOMBOL,

Bune, coba kamu bilang sama anak-anak, pengirimannya yang ke luar negeri itu…………..mana? Perancis? Yaa perancis atau mana terserah sajalah…..semua cuma soal besi to. Ya pesanannya pematung Gogor Jantra Jalu Jagad itu lhoo. Ya Gogor itu katanya sedang kerjasama dengan seniman perancis…………….Mana aku tahu, namanya saja susah diucapkan. …………….Mauris Bena….siaapaa gitu! Ya terserahlah, atur saja, siapapun namanya gak penting. Ini semua cuma soal besi to.

SUARA RIUH ITU BERHENTI. JEDA. MENDADAK SAJA LEK WAR TAMPAK GALAU. IA DIAM BEBERAPA LAMA. MEROKOK. KEMUDIAN MENGAMBIL REMOTE CONTROL, MEMUTAR KEMBALI SLIDE-SLIDE (ATAU VIDEO?) YANG BEDA DARI YANG IA PERLIHATKAN DI AWAL. DAN MUSIK JAZZ DINAMIK PUN BERPUTAR ; SEBENTUK BIJI BESI, TUNGKU PEMBAKARAN, PENEMPAAN BESI, BESI MENTAH, BESI LONJORAN, PARA PEKERJA KONSTRUKSI,  BERMACAM-MACAM SENJATA TAJAM, BERMACAM-MACAM SENJATA API RAKITAN, ALAT BERAT, ALAT PERANG, MOBIL LAPIS BAJA, PERANG. KORBAN PERANG. DARAH DI MANA-MANA. PISAU MENANCAP DI MATA, DSB, DSB.  MUSIK JAZZ DAN GAMBAR-GAMBAR ITU BERLALU.

LEK WAR KERINGATAN. SEDIANYA MINUM AIR PUTIH DARI WADAHNYA, TAPI TAMPAKNYA HABIS DAN IA MELEMPARKAN BEGITU SAJA. MEROKOK LAGI.

Apakah benar semua ini cuma soal besi? (JEDA) kurasa bukan. (JEDA) apa lagi pencapaian saya? Adikarya yang bagimana? Siapa saya? (JEDA) anak-anak muda ormas itu riuh memuji ketajaman pedang buatan saya. Mereka bercerita secara detail diselingi gelak tawa bagaimana samurai buatan saya mampu memangkas helem beserta isinya hanya dengan satu kali sabetan ringan. Itu titaniuuum dalam suhu panas yang saya perhitungkan secara detaaaill, tahuuu, hei munyuk ormas, Hufff! (JEDA) Sementara ormas kelompok lain menunjukkan kepada saya sebuah pistol – yang belakangan saya tahu namanya revolver. Mereka bertanya kepada saya, apakah saya bisa merakitnya? Setelah sehari semalam dalam genggaman saya, ah, apa yang tidak bisa dikerjakan oleh lek War perihal besi. Jika semua cuma perkara besi, lek War lah orangnya. Saya produksi barang itu dengan harga eceran dua ratus lima puluh ribu, sudah barang tentu, tidak dengan nama saya. (SEDIKIT BERBISIK) pada tahun 2015, hanya satu daerah saja, kepolisian bisa mengumpulkan tujuh puluh dua pucuk senjata rakita. (SEMAKIN DITEKAN SUARANYA) Itu sayaaaaaa! (JEDA)

Orang ingin aman. Membeli mobil baru nyaris membeli kaleng kerupuk. Menurut mereka membahayakan jiwa. Jenderal ……..ah sebut saja Mawar – bukan nama sebenarnya. Jenderal Mawar itu pun kemudian menyuruh saya memodifikasi bamper. Ya, mereka memerlukan bamper yang kuat. Mobil keluaran baru dengan bamper besi baja seratus persen. Minimal menyamai body Mercedez Benz buatan 1937, Bugaty Royalte Tipe 41, Dodge, Cevrolet, atau apapun yang body dan bampernya mendal kalau cuma keinjak gajah. (JEDA) mau pesiar kemanakah sampeyan Jendral? Tetapi mereka tidak mau kelihatan kuno. Juga tidak mau kelihatan serem seperti Baracuda, tidak juga Marauder dengan mesin turbo enam silinder yang mampu mendobrak dinding dengan bobot 20 ton full baja! Jenderal ini mau bamper 100 % baja dengan penampilan kimcil! Hadeeeeehhh! Apa-apaan koweeeee Jendraaaallll! Sampeyan mau melindungi diri dari serangan siapa? Sampeyan ini mau bertetangga dengan sesama manusia, atau tinggal di pusaran deras konflik perang kota? Jangan-jangan itu bamper sampeyan perlukan untuk melindungi kesepian sampeyan.

JEDA

Apa yang mereka inginkan? Apakah semua ini cuma soal sebongkah besi? Kurasa bukan. (JEDA) Saya ingin kembali menjadi lek War, yang membuat cengkrong, arit, pacul, pengot, peso rajang brambang, garu…..(JEDA) ….tapi tampaknya sudah susah. Saya baru sadar kalau mereka memberi saya baju dan profesi baru. Saya baru mengerti kalau mereka sudah menorehkan bedak, pemerah pipi, gincu, lipensetik di bibir saya. Mau tak mau saya ikut  bermain dalam putaran tong setan ini. (JEDA. SEPERTI MERENUNG. SESAT KEMUDIAN TERSENYUM MESKI AMPANG) dan semua yang ada ini bukan keinginan saya. Mereka membuatkan, mereka juga yang menjual saya – sambil tentu saja memperkaya mereka sendiri. Katanya usaha saya sudah legal, tetapi pengiriman senjata rakitan sampai dengan bulan ini masih dilakukan bisik-bisik, saya tak tahu. Saya berdiri di mana? Sama siapa?

JEDA

Loh, kenapa kok jadi seperti sinetron ya? Kenapa saya harus berpenampilan murung? Hidup seperti menaiki motor di dalam tong stand, dan berputar di sebuah perayaan pasar malam. Apakah kita menjadi sekrup, roda, papan kayu, busy, penunggangnya, atau bahkan pemiliknya, itulah yang terjadi. Jadi, untuk apa saya tiba-tiba saya mau jadi moralis. Hehehe. Lek War. War. Wardiono, manusia lahir tak meminta dan hidup bukan teka-teki sejauh kamu menjalani apa yang hadir dan tergelar di depanmu. Habis perkara! (BERTERIAK KE SUATU ARAH) Buuneeee…..! Mana kopiiikuuu!?? Bawa kemari sekarang, segera!!

DARI SALAH SATU SETWING, MUNCUL ROBOT KOTAK BESI MEMBAWA BAKI DI ATASNYA SECANGKIR KOPI MENUJU LIK WAR DAN MENYERAHKANNYA. LEK WAR MENGAMBIL KOPINYA DARI ROBOT ITU DAN MEMUJI DENGAN DINGIN,

Kamu semakin cantik saja, bune.

LAMPU PADAM!

Omahkebon, Jumat 24 Juni 2016

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.