News

Memahami Kolonialisme Lewat Semangkuk Sup

Memahami Kolonialisme Lewat Semangkuk Sup

“Dan itulah salah satu warisan di luar kemalasan dan korupsi yang ditinggalkan kolonial, yang diam-diam dipuja, dipelihara di negeri ini. Sebab, ia hidup dan menghidupi. Tidak ada kelas lain dalam konstruksi seperti ini.”

Penggalan dialog itu mengingatkan, bahwa kolonialisme sebenarnya masih ada meski penjajah terusir. Itu satu di antara dialog dalam teater “Samangkuk Sup Makan Siang” atau “Cultuurstelsel” yang dipentaskan di Gedung Cak Durasim, Surabaya, Senin, 27 Maret 2017.

Dialog lain yang disampaikan dalam percakapan restropektif itu, terucap dalam intonasi tepat. Sehingga dapat didengarkan secara jelas dan tak perlu mengartikulasi kembali dalam mencerna.

Hedi Santoso, sutradara dari teater yang dimainkan tiga aktor panggung, Whani Darmawan, Theodorus Christanto, dan Rendra Bagus Pamungkas, sengaja mengajak penonton berintrospeksi. Berkaca pada peristiwa perang Jawa 1825-1830. Perang sengit masa itu, boleh disebut penjajah Belanda kocar-kacir.

Namun apa yang terjadi di balik kocar-kacirnya Belanda. Sejarah hanya menulis heroikisme. Tanpa menceritakan di balik peristiwa peperangan. Kolonialisme. Itu yang terjadi setelah terjadi perang sengit, yaitu tahun 1830-1834. Lewat Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Johannes van den Bosch, tanam paksa atau Cultuurstelsel pun berhasil.

Masa itu pemerintah Hindia Belanda berhasil membujuk orang Jawa dengan cara, tidak memberi beban pekerjaan baru. Mereka dibiarkan menanam yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Tanah-tanah bebas pajak. “Sangat terdengar indah,”. Dari sinilah kolonialisme itu tertanam dan menjadi warisan hingga sekarang. Maka yang terjadi, kemalasan dan jiwa korup selalu mewarnai setiap lini kehidupan bangsa Indonesia.

Oleh sebab itu, Hedi pun mengajak dalam ramuan penggalan kisah itu lewat bauran imajinasi yang diciptakan, “Kekuasaan adalah nafsu yang menindas, melenyapkan kemanusiaan adalah ruh yang menjadi ada dalam setiap jejak kehidupan manusia sebagai benang merah.

“Lihatlah di lenganku tumbuh sayap, dan aku terbang mengelilingi kota yang terbakar. Melesat lalu hinggap pada tiang kayu yang jadi arang… Wooi indahnya… Dan tanduk tumbuh di kepalaku, maka perlu kukenakan penutup kepala. Ooo, indahnya kekuasaan, aku memasuki dirimu. Dan ambooi, lihatlah cahaya itu mengalir dalam darahku, mempercepat denyut jantungku. Woi, lihat!! Akulah Kaisar yang tengah membakar kota!”, sengit pemeran Whani Darmawan dari atas dapur.

Lalu ia memilih duduk memainkan celo dan menggeseknya. Alunan lagu Bagimu Negeri ciptaan Kusbini pun terdengar. Namun lagu itu terdengar sangat sumbang. Kembali lewat lagu itu ditegaskan, bahwa selama masih ada kolonialisme, tak ada yang pantas untuk Negeri ini.

“Rasanya, aku membutuhkan begitu banyak tempat untuk meludah, setiap kali aku bicara kekuasaan!”.


Foto by Pry Supriyadi
sumber : http://www.indeksberita.com/memahami-kolonialisme-lewat-samangkuk-sup/

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.