Menata Komposisi (1)

Jurnal Seni Peran Whani Darmawan

Komposisi atau dalam bahasa asing ditulis sebagai composisi memiliki arti menata (to compose) adalah suatu hal yang penting dalam menata blocking pemain. Istilah ‘menata blocking pemain’ seolah menjadi tanggungjawab sutradara dan pemain hanya ssebagai bidak. Bagi seorang aktor tidak demikian. Bagi seorang aktor pergerakan hingga membentuk suatu tatanan posisi antar para pemain (blocking) menjadi satu kesatuhan dengan rasionalitas terjadinya emosi, hingga hal ini meski menjadi tugas seorang sutradara tetapi sudah menjadi tugas aktor untuk mengetahui rasionalitas pembentukan komposisi berdasarkan perkembangan emosi. Suatu contoh begini ; jika seorang pemain memerankan tokoh ayah yang sedang memarahi anaknya dan di panggung yang kosong dan hanya ada satu kursi, siapakah yang akan kita dudukkan di kursi tersebut? Ayahnya atau anaknya? Meski secara kultural dalam setiap kebudayaan tertentu memiliki aturan tertentu tetapi posisi ‘top down’ bisa berlaku universal. Orangtua lebih ‘berkuasa’daripada anaknya. Maka yang patut kita dudukkan di kurski adalah tokoh anak (kecuali kasus cerita, peristiwa dengan emosi khusus).

Bagaimanakah melakukan pelatihan pembentukan komposisi?

Pertama sekali yang harus kita pahami adalah perihal aturan dalam komposisi tersebut. Suatu teori pernah membahas hal ini dengan membagu ruang panggung (stage) menjadi sembilan area. Sembilan area itu terdiri dari (1) kanan panggung depan (2) tengah panggung depan (3) kiri panggung depan (4) kanan panggung tengah (5) tengah panggung tengah (6) kiri panggung tengah (7) kanan panggung belakang (8) tengah panggung belakang (9) kiri panggung belakang. Ini adalah hukum dasar ketika panggung kosong. Apakah denah itu memiliki emosi dan harga? Tentu saja. Tetapi tak serta merta bisa dipetakan menjadi misalnya kiri panggung depan adalah amarah, tengah panggung depan adalah kebahagiaan, dsb. Itu tentatif terkait dengan set yang kemudian ada dan rasionalitas peristiwa dan emosi dalam cerita. Tetapi secara dasar inilah yang perlu dilatihkan.

Kedua, komposisi bukan hanya berdasarkan arah kanan kiri, depan belakang, tetapi juga atas bawah. Maka dalam konteks ini ada yang kita sebut sebagai level atau tingkat. Maka demikianlah, dalam menata komposisi tidak hanya berdasar kanan-kiri, depan-belakang, tetapi juga tinggi-rendah. Kesadaran akan mengolah tubuh untuk memenuhi kriteria komposisi tersebut menjadi dasar pengetahuan aktor. sebelum mendapatkan fasilitas set dan pemahaman peristiwa beserta emosi pengetahuan ini sudah sewajarnya dikantongi oleh aktor untuk memahami ikut serta dalam latihan-latihan berkelanjutan.

Hal yang paling dasar untuk melatih komposisi adalah kita akan bermain dengan benda-benda. Tanpa emosi tanpa peristiwa, hanya berdasarkan kepentingan peletakan dan estetika tinggi rendah. Untuk menjelaskan hal ini calon aktor akan bermain dengan benda-benda. Yang dimaksudkan benda ada dua hal ; (1) yang memiliki bentuk sama (2) yang sama sekali secara bentuk berbeda. Pelatihan dua hal ini akan memberikan stimulus atau rangsangan terhadap kepekaan komposisi yang berkaitan dengan letak dan perihal tinggi rendah (leveling).

Benda yang memiliki bentuk sama cobalah kita ambil contoh biji/ bidak catur. Katakanlah ada serombongan calon aktor, masing-masing bergangtian meletakkan bidak catur tersebut dalam miniatur panggung. Berpindah dari satu komposisi (jadi) ke komposisi (jadi) lainnya. Membentuk komposisi yang seimbang, beraturan dan saling menguatkan. Tahap selanjutnya adalah setiap calon aktor membawa benda masing-masng, seadanya tanpa persiapan. Biasanya dalam hal iniyang akan mereka pegang adalah kunci motor/ mobil, dompet, bolpoint, bungkus rokok, atau apapun yang bisa ditemukan di ruang latihan tersebut. Dari benda-benda seadanya ini diharapkan akan muncul kreatifitas komposisi oleh karena dirangsang oleh bentuk yangg asali dan fungsinya memang  sesungguhnya berbeda. Perbedaan itu sendiri akan menimbulkan suatu pemahaman atas karakter yang berbeda. Sebatang sapu misalnya, bisasaja diberdirikan dengan dua pilihan untuk meneguhkan karakter ; didirikan dengan ijuk di dasar lantai dan gagang sapu menjulang ke atas, atau dibalik menjadi gagang sapu di dasar lantai dengan ijuk di atas. Pelatakan itu terbentuk berdasar imajinasi calon aktor ; apakah ia akan mendudukan sebatang sapu itu sebagai raja ataukah sebagai kawula, misalnya. Apa identifikasi itu bisa terbentuk? Dari ijuk yang menyerupai rambut, atau gagang sapu yang terjimajinasikan sebagai kawula?

Setelah latihan benda-benda itu terlewati, maka latihan beranjak menggunakan tubuh calon aktor dengan metode ‘foto keluarga.’ Permainannya sangatlah mudah. Seorang calon aktor berinisiatif menjadi fotografer, yang lain menjadi anggota keluarga besar. Aturannya sangat mudah. Seorang calon aktor memisahkan diri dari kelompok sambil meneriakkankata kunci , ‘fotografer!’ kemudian mengambil sudut atau set yang akan dijadikan latar belakang foto keluarga. Jika sudah ditemukan dengan cepat kemudian meneriakkan kata kunci kedua, ‘foto keluarga!’ nah, sisa dari rombongan itu kemudian menjajarkan diri menjadi obyek foto. Kunci permainannya adalah bagaimana komposisi yang disusun dari tubuh calon aktor itu terbentuk berdasarkan keseimbangan dan tinggi-rendah. Sang Fotografer boleh memerintah obyek foto untuk ke kiri, ke kanan, merendah, meninggi, dsb jika diangap komposisi kurang harmoni. Kemudian sang fotografer akan memberi aba-aba saat foto ; satu, dua, tiga! Cekreek! Satu paket pun selesai. Hal itu akan berlanjut dengan seorang calon aktor yang lai nmengambil posisi ssebagai sang fotografer dan seterusnya.

Permainan komposisi tersebut bisa dikembangkan lebih lanjut dengan kreativitas bentuk. Instruktur bolehmenyebut suatu tatanan tertentu. Misalnya, candi, mesin pabrik, rumah, kereta api, mobil, dsb.

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: