Eduteater

Mengekspresikan Teks (1)

Oleh: Eko Santosa

Pementasan teater secara mendasar merupakan proses visualisasi teks ke dalam sebuah pertunjukan (tontonan). Teks diwujudkan dalam bentuk tata panggung, busana, rias, cahaya, suara, ilustrasi musik, dan terutama melalui akting para pemeran. Informasi terbaca diubah ke dalam media pandang dan dengar. Para pekerja teater memerlukan waktu khusus dan pemusatan pikiran dalam mengerjakannya. Teks sebagai bahan dasar ekspresi artistik dapat mewujud ke dalam bentuk pertunjukan yang menarik sehingga mampu memikat penonton karena seolah-olah pertunjukan itu hidup atau sebaliknya, tontonan tidak mampu menghidupkan teks.

Aktor sebagai media utama penghidup teks memikul beban yang paling berat. Ia harus mampu menghadirkan kenyataan dari sebuah tulisan. Kenyataan yang diwujudkan melalui seni pemeranan. Dengan demikian seni pemeranan ditantang untuk memberikan ruh pada setiap kata atau kalimat tertulis melalui lakuan. Keberhasilan menghidupkan teks ini kadang-kadang hanya bisa diukur melalui penerimaan rasa penonton atas apa yang tersaji di atas pentas. Teks bisa berubah menjadi tangis, marah, tawa atau sedih bagi penonton itu sangat bergantung dari bagaimana cara pemeran mengekspresikannya. Cara berekspresi atau proses menuju ekspresi inilah yang seringkali mengalami gangguan atau hambatan sehingga teks tak mampu hidup. Ketika hal ini terjadi, maka pertunjukan yang ada di atas panggung menjadi semacam hiasan dinding yang cukup selintas saja dilihat. Tulisan ini akan menguraikan gangguan atau hambatan dalam mengekspresikan teks secara umum dari sudut pandang pribadi.

1. Mempelajari Teks

Proses awal sebelum latihan teknis dilakukan, aktor atau pemeran perlu mempelajari teks. Secara umum sesuai kebiasaan kerja kelompok teater yang ada, proses mempelajari teks yang sering disebut sebagai bedah naskah ini dilakukan. Dalam kegiatan ini, pesan lakon melalui karakter atau tokoh yang ada di dalamnya diungkap dan ditelisik. Dari kegiatan ini didapatkan gambaran makna lakon. Kerja pemeran berikutnya adalah menyampaikan makna ini melalui laku karakter yang harus dilakoninya. Waktu tersedia untuk bedah naskah berbeda antara produksi satu dengan yang lainnya. Namun umumnya, ketersediaan waktu ini kurang mencukupi bagi aktor untuk mempelajari teks dengan baik sesuai karakter yang harus ia perankan. Oleh karena itu, aktor memerlukan waktu mandiri untuk melakukan analisis karakter berdasarkan informasi awal dari kegiatan bedah naskah ini.

Namun yang seringkali terjadi, aktor merasa sudah cukup dengan bedah naskah saja dan selanjutnya ia menyerahkan dirinya pada sutradara. Dengan demikian ia hanya memiliki perwatakan dasar karakter yang akan ia perankan dalam tujuan akhir menyampaikan makna lakon. Ia tidak lagi mau mempelajari secara mendalam karakter yang akan ia perankan. Biasanya, selepas kegiatan bedah naskah ini, kerja aktor berikutnya adalah menghafal teks dialog yang menjadi bagiannya. Karena ia merasa sudah cukup dengan perwatakan dasar yang diberikan, maka apa yang ia kerjakan jauh dari proses interpretasi karakter. Ia tidak menggali potensi karakter yang ada di dalam lakon tersebut untuk ia hidupkan secara meyakinkan. Ia telah menyerahkan laku karakter tersebut kepada sutradara.

Problem ini terjadi hampir secara merata dan melanda kebanyakan aktor, terutama yang amatir. Lakon tidak lagi menjadi sesuatu yang menarik untuk dipelajari. Lakon tidak lagi menjadi sumber utama ekspresi. Ia telah sibuk dengan teks-teks dialog yang sebenarnya hanya merupakan bagian kecil dari ekspresi lakon secara keseluruhan. Dalam kondisi semacam ini aktor tidak akan lagi mau mempelajari hal-hal kecil yang terjadi dalam lakon yang dapat mempengaruhi ekspresi karakter yang ia perankan. Interpretasi karakter yang ada berupa besaran dan umumnya hanya terkait dengan motivasi dan dimensi karakter saja. Hal-hal yang bersifat psikologis atau moralitas karakter menjadi tidak diperhatikan.

Sementara itu, dalam setiap wicara atau dialog karakter (tokoh) terkandung makna yang mana makna tersebut harus terekspresikan dengan baik. Artinya, bukan hanya sekedar wicara dan dialog yang diucapkan lantang. Untuk memahami makna ini, aktor harus benar-benar masuk ke dalam lakon melalui karakter yang akan ia perankan. Setiap kata atau kalimat yang diucapkan pasti mengandung satu pesan dan pesan ini harus sampai. Setiap keterangan yang mendukung ekspresi harus dibaca dan dipahami dengan baik. Keterangan tertulis dalam lakon dapat berupa keterangan lokasi kejadian, latar peristiwa, waktu atau bahkan arahan laku. Semua yang ada dan tertulis di dalam lakon mesti dipelajari untuk menemukan perwatakan sebenarnya dari karakter yang akan diperankan.

Proses mempelajari teks lakon jika hanya berkutat pada karakter yang akan diperankan saja dapat dipastikan tidak akan memberikan gambaran perwatakan secara utuh. Di dalam lakon, perwatakan tokoh tidak dilahirkan dan dibangun secara tunggal, melainkan terhubung dengan tokoh-tokoh lain. Pola hubungan antara tokoh satu dengan yang lain dapat berjalan secara langsung ataupun tidak. Hubungan secara langsung dapat dilihat dari adegan di mana para tokoh saling bertemu. Sementara hubungan tidak langsung didapatkan dari teks dialog tokoh lain atau keterangan yang menggambarkan keterkaitan peristiwa antara tokoh satu dengan yang lain. Pola hubungan ini bisa menggambarkan berbagai macam sifat seperti saling setuju, bertenangan, mendukung, apatis atau sifat-sifat lain antara tokoh satu dengan yang lain terkait satu peristiwa. Dari pola hubungan tokoh-tokoh lakon ini, keutuhan perwatakan bisa diungkap.

Atas dasar telisik pola hubungan ini pula gambaran ekspresi tokoh bisa didapatkan. Di samping itu, kerja analisis karakter memiliki tujuan utama interpretasi karakter. Dalam hal ini, aktor harus benar-benar menghadirkan karakter tersebut secara utuh. Keutuhan karakter tidak bisa didapatkan hanya dari aksi tokoh di dalam lakon namun juga kondisi karakter sebelum ia hadir dalam lakon tersebut. Oleh karena itu, aktor harus benar-benar mempelajari teks secara teliti sehingga ia bisa membangun karakter sejak karakter tersebut belum muncul di dalam lakon hingga setelahnya, dalam arti lain adalah latar belakang kehidupan dan tujuan hidup karakter. Latar belakang dan tujuan inilah dapat dijadikan motivasi aksi dari setiap kesatuan gagasan yang dimilikinya. Ungkapan ekspresi bedasar satu kesatuan gagasan hanya bisa didapatkan melalui telaah mendetail setiap laku, kata, desah nafas dan hal-hal ekpresif lain yang harus dilakukan tokoh lakon. Untuk mencapai hal ini tidak ada kata lain, aktor harus mempelajari teks secara mendalam.

==bersambung==

One thought on “Mengekspresikan Teks (1)”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.