Eduteater

Mengekspresikan Teks (2)

Oleh: Eko Santosa

2. Problem Hafalan

Hafalan merupakan langkah utama dalam proses mengekspresikan teks. Di dalam teater berbasis naskah, semua dilaog atau wicara tokoh wajib untuk dihafalkan. Proses menghafal ini umumnya dilakukan selepas latihan membaca dan menjadi tanggung jawab pribadi pemeran bersangkutan. Namun demikian, latihan menghafal sering diadakan untuk membantu para pemeran. Jika tidak, maka pemeran harus mencari partner untuk menghafalkan. Sampai pada tahap ini tidak ada persoalan yang muncul terkait ekspresi teks. Semua berjalan biasa atau dianggap berjalan sebagaimana mestinya. Para pemeran berkumpul saling menghafal teks dan jika terjadi kesalahan antara pemeran saling mengingatkan.

Proses menghafal seperti yang umum dilakukan sebenarnya tanpa disadari telah menanamkan benih persoalan awal untuk ekspresi teks. Terkait dengan pemahaman teks yang mesti dilakukan secara mendalam bagian demi bagian, proses menghafal pun semestinya demikian. Artinya, kalimat dialog atau wicara bisa diekspresikan sesuai kehenedak naskah ketika semua teks telah dihafalkan dengan baik. Dengan demikian, proses menghafal sebenarnya hanyalah menghafal saja. Namun yang terjadi, senyampang menghafal, para pemeran juga sudah mengekspresikan teks tersebut dalam bentuk ekspresi suara, bahkan diikuti gestikulasi. Mereka mulai mencoba menggunakan intonasi, nada, bahkan emosi. Jadi dalam proses menghafal teks ini para pemeran telah memberikan ekspresi pada setiap kalimat dialog atau wicara yang harus diucapkan. Ketika hal ini dilakukan berulang-ulang, maka yang terjadi adalah ekspresi kalimat dialog dan wicara dalam latihan hafalan tersebutlah yang akan terus digunakan. Pada saat latihan yang sesungguhnya dilakukan di mana semua pemeran sudah saling hafal teks, maka proses membenahi ekspresi kalimat sesuai dengan situasi, kondisi, dan emosi lakon akan sulit dilakukan. Pemeran sudah terlanjur memiliki ukuran yang ditentukan pada saat proses menghafal.

baca juga : Mengekspresikan Teks (1)

Pertanyaan pokok yang mesti diutarakan terkait proses menghafal seperti tersebut adalah, “Apakah pemeran sudah benar-benar memahami emosi, situasi, dan kondisi di mana kalimat itu diucapkan terkait makna cerita secara menyeluruh?”. Tentu saja jawaban dari pertanyaan ini adalah, “tidak”. Hal ini dikarenakan pada saat itu pemeran sedang menghafalkan dialog atau wicara. Ekspresi yang dilakukan sesungguhnya hanya dijadikan patokan untuk kerja hafalan. Namun akhirnya, ekspresi itu benar-benar terpatok dan ketika harus diubah, maka justru akan menghambat hafalan. Hasil paling akhir dari proses ini adalah, pemeran tidak akan mau atau sulit mengubah ekspresi karena itu akan mengganggu hafalan. Lingkaran setan seperti ini sulit diputus.

Kondisi yang telah membiasa dalam proses menghafal ini tanpa disadari menjadi titik lemah ekspresi teks pemeran. Anehnya, hal seperti itu terus menerus dilakukan tanpa ada upaya untuk menelaah sisi lemahnya. Atau mungkin, pola pelatihan hafalan teks yang semacam itu justru dianggap memudahkan bagi sutradara dan pemeran dalam mewujudkan teks di atas pentas. Jika ini yan terjadi, maka ukuran yang sudah ditentukan sejak dalam latihan menghafal dianggap telah final dan oleh karena itu wajib dipertahankan. Anggapan semacam ini menjadi aneh sebenarnya ketika dikaitkan dengan ekspresi teater bergaya realis. Dengan terpatoknya ukuran ekspresi sejak saat menghafal, maka kewajaran pemeranan pada saat pementasan dapat diragukan. Gaya realis mengusung kekinian dalam arti pemeranan adalah saat ini, bukan kemarin atau besok. Artinya, menjadi saat ini ialah akting harus dilakukan secara spontan/natural. Akting spontan tidak akan mungkin didapatkan ketika ekspresi teks yang akan diucapkan telah ditentukan sebelumnya. Spontanitas atau kenaturalan akting menandakan bahwa ekspresi sebuah teks sangat tergantung dari situasi, kondisi, dan emosi yang melingkupinya, dan hal tersebut bisa jadi berbeda-beda dari hari ke hari semasa latihan hingga sampai pada saat pementasan.

Kerja menghafal teks sekaligus dengan ekspresi artistik mungkin dilakukan jika ukuran seni akting telah ditentukan. Penentuan ekspresi ini dengan sendirinya akan menjadi model yang mesti ditirukan oleh pemeran. Dalam teater tradisional yang memiliki konvensi ketat, hal semacam ini dapat terjadi di mana nada, intonasi, emosi karakter melalui kalimat dialog yang diucapkan sudah terukur sedemikian rupa. Bahkan di beberapa daerah tertentu pemeran teater tradisional harus persis menirukan ekspresi dari pelatih. Namun umumnya, teater-teater semacam itu telah memiliki teks baku sehingga kalimat-kalimat dialog yang mesti diucapkan sudah tersandarisasi dan lakon yang ditampilkan tidak memiliki banyak variasi. Atau mungkin bahkan tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita termasuk ekspresinya juga telah dibakukan.

Pola latihan menghafal teks semacam itu tentu saja tidak bisa diterapkan untuk teater secara menyeluruh. Dalam realisme misalnya, hafalan teks dengan telah menentukan ekspresi akan melahirkan akting tetap. Akting yang seolah-olah sudah tidak bisa lagi diubah apapun situasi dan kondisinya. Memang tidak semua pemeran terjebak dalam pembatuan ekspresi teks dengan pola latihan menghafal semacam ini, namun itu hanya berlaku untuk sebagian kecil pemeran saja. Yang banyak terjadi justru kekeliruan dalam proses ini adalah tidak saja berkait ekspresi tertentukan, namun juga terjadinya tindakan saling menyalah-benarkan antara pemeran satu dengan lain. Seolah-olah para pemeran itu saling memiliki kewenangan untuk menentukan tepat tidaknya ekspresi teks dari pemeran lain. Padahal tugas tersebut semestinya ada pada sutradara. Problem hafalan teks dengan telah menentukan ekspresi atas teks yang dibaca ini semestinya bisa dihindari jika pemeran menyadari bahwa kerja atau proses menghafal teks tujuannya adalah menghafal teks bukan untuk mengekpresikannya sekaligus. Tujuan ekspresi teks wicara dan dialog tokoh ada dalam latihan berikutnya. Latihan yang dilakukan ketika para pemeran telah menghafal teks dengan baik.

==== bersambung ====

One thought on “Mengekspresikan Teks (2)”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.