Mengekspresikan Teks (5)

Oleh: Eko Santosa

5. Status

Hal yang paling sering diabaikan dalam proses ekspresi teks lakon adalah status. Umum diketahui bahwa status karakter ditelisik dari sisi atau dimensi sosial karakter. Sisi ini akan memberikan pandangan mengenai kedudukan sosial serta keterlibatan karakter dalam kehidupan sosial lakon. Secara mendasar, telisik dimensi karakter ini hanya mengungkapkan data-data mati terkait fisik, kejiwaan, dan sosial karakter. Tugas pemeran adalah menghidupkan data-data mati tersebut ke dalam laku aksi karakter sehingga kemungkinan data berubah menjadi terbuka luas. Namun demikian, yang umum terjadi adalah bahwasanya data mati itu terlanjur dijadikan patokan. Data itu telah menjadi elemen pengukur ekspresi karakter. Teks-teks yang disuarakan oleh karakter mengikurti data-data ini.

baca juga  : Mengekspresikan Teks (4)

Ekspresi teks atas data hasil analisis ini dapat dengan mudah ditemui dalam pementasan teater amatir di mana ekspresi fisik karakter dari awal sampai akhir tidak berubah. Tokoh raja sepanjang pertunjukan akan menjadi raja dan semua rakyat patuh padanya. Tokoh bos sepanjang pertunjukan tetap menjadi bos meski dalam satu peristiwa tokoh tersebut pernah berada dalam situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan dirinya bertindak sebagai bos. Ekspresi teks berbasis data mati ini tidak menguntungkan bagi pertunjukan dan juga pemeran karena menyajikan watak peran yang tidak mengalir. Kalaupun terjadi perubahan pasti perubahan besar sehingga dimensi karakter tersebutpun ikut berubah. Misalnya, tokoh Bos berubah wataknya karena ia bangkrut dan menjadi rayat jelata. Dalam kasus ini tentu saja dimensi karakter Bos menjadi berubah sehingga ia seolah-olah adalah 2 orang yang berbeda dalam satu cerita. Data dimensi karakter Bos akan berubah terutama menyangkut status sosial.

Pemahaman status yang hanya mengait dimensi karakter ini kurang bisa membuat ekspresi teks menjadi natural. Selain karena ukurannya adalah data mati, perubahan ekspresi baru terjadi ketika salah satu sisi pembentuk karakter juga mengalami perubahan. Perubahan watak tokoh tidak bisa mengalir sebagaimana seseorang menjalani kehidupan sesungguhnya di mana kata demi kata yang ia ucapkan dalam dialog sehari-hari mengalami dinamika tergantung situasi dan kondisi yang melingkupinya. Di dalam keseharian, 2 orang yang saling berbicara akan memproduksi banyak ekspresi baik sebagai penanda jati diri, keterhubungan dengan orang lain maupun keterlibatan dalam lingkung sosio kultural yang lebih besar. Dinamika ini terjadi karena dalam setiap komunikasi 2 arah selalu terjadi pertukaran status. Bukan status dalam konteks dimensi karakter melainkan status fisik dan psikologis dalam kegiatan berkomunikasi.

Status dalam komunikasi secara natural terbentuk di mana satu orang memiliki status lebih tinggi dari yang lainnya pada saat saling berbicara. Status ini tidaklah statis karena tergantung dari konteks pembicaraan yang dilangsungkan. Misalnya, seorang kaya menyakaan rumah temannya kepada seseorang di pingir jalan, maka pada saat itu status orang yang berada di pinggir jalan berada lebih tinggi dari si orang kaya. Hal ini terjadi karena pada saat bertanya orang kaya tersebut memerlukan jawaban yang membantu pencariannya. Atas keadaan ini, orang yang berada di pinggir jalan memiliki kuasa penuh – meskipun ia orang miskin – terhadap jawaban yang hendak diberikan. Ia bisa saja jujur berkata atau berpura-pura tidak tahu dan bahkan menyesatkan si penanya. Ketika orang di pinggir jalan ini berusaha menyesatkannya, misalnya, dan kemudian orang kaya mengeluarkan lembaran uang, maka status bisa berubah. Orang di pingir jalan tersebut merendahkan statusnya demi lembaran uang yang akan ia peroleh jika ia memberikan jawaban jujur. Status orang kaya dan miskin di atas di batasi oleh konteks dan kesalingbutuhan antara satu dengan yang lain.

Berdasar cermatan soal status dalam komunikasi kehidupan sehari-hari, maka teks dialog lakon semestinya juga memuat status ini. Karakter satu dan yang lain niscaya saling bertukar status dalam setiap konteks pembicaraan yang dilakukan. Studi atas kasus ini dengan gencar dilakukan oleh Keith Johnstone dan diterapkannya dalam latihan peran improvisasi (lihat, Johnstone:1989). Setiap dialog yang dilakukan di dalamnya terkandung status tinggi dan rendah dan kondisi ini natural di dalam kehidupan manusia. Orang bertanya yang memerlukan jawaban statusnya lebih rendah daripada orang yang memberikan jawaban. Oleh karena itulah dalam film-film aksi spionase, sang hero yang tertangkap tetap kelihatan gagah karena ia tidak mau membuka mulutnya atas segala pertanyaan intimidasi yang diarahkan padanya. Status hero ini akan lebih kuat ketika ia tetap menutup mulutnya bahkan ketika mengalami serangkaian siksaan. Status di sini dengan demikian lebih mengait pada soal kejiwaan. Kondisi jiwa di saat dialog itu dilakukan.

Status sebagai bagian pokok ekspresi teks lakon tidak bisa dilewatkan. Ia mesti dicermati secara kontekstual yang mana kejiwaan karakter terlibat secara langsung ketika mengucapkan kalimat dialognya. Jika dikaitkan dengan metode Stanislavsky, maka status ini mesti dipelajari di dalam setiap bit/beat. Dengan benar-benar memperhatikan status wicara masing-masing tokoh, maka kenaturalan dialog dapat diwujudkan. Ekspresi teks menjadi benar-benar hidup dan dinamika ucapan muncul dengan sendirinya. Karakter tidak akan tampil datar dan terbelenggu oleh data-data mati yang didapat dari hasil analisis karakter. Pemeran dengan demikian mesti menilisik setiap kalimat yang harus diucapkan dan memahami status ucapan tesebut sebelum benar-benar mengekspresikannya. (**)

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: