Eduteater

Mengenai Improvisasi (1)

Oleh: Eko Santosa

Improvisasi dikenal luas di dalam teater baik sebagai teknik pemeranan maupun jenis pementasan. Bahkan pembeda antara teater modern dan tradisional dewasa ini salah satunya adalah improvisasi. Pembedaan ini memiliki risiko besar terhadap perkembangan teater tradisional yang bercirikan improvisasi di sekolah-sekolah. Akibatnya, hampir semua lembaga pendidikan menggunakan lakon sebagai bahan dasar artistik pementasan. Hal ini mengakibatkan terpinggirkannya teater tradisional tersebut di dalam proses pembelajaran seni teater. Alhasil, improvisasi juga menjadi anak tiri yang hampir tidak pernah diperkenalkan dalam pengajaran praktik berteater. Sementara itu, di dalam perkembangan teater modern dan film, teknik improvisasi dalam pemeranan ini lazim digunakan. Bahkan di dalam proses pementasan teater berbasis naskah pun, sesi latihan improvisasi memiliki arti penting. Improvisasi merupakan perkara menarik untuk dibicarakan mulai dari batasan umum sampai pada teknik dan penerapannya dalam teater modern dan tradisional.

  1. Teater Modern dan Tradisional

Perbedaan mendasar antara teater modern dan teater tradisional adalah penggunaan naskah. Teater modern menggunakan naskah dan teater tradisional tidak. Definisi ini merupakan kata kunci dalam pembelajaran pengetahuan teater di sekolah umum dasar dan menengah. Pasal penggunaan naskah menandakan bahwa teater tradisional adalah teater improvisasi karena tidak menggunakan naskah. Pembedaan ini menjadi terlihat memusingkan ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa pantomim sebagai sebuah pertunjukan teater juga tidak menggunakan naskah dan pantomim tidak pula masuk dalam pemilahan antara teater modern dan tradisional.

Jelas sekali batasan dalam hal penggunaan naskah ini kurang bisa mewakili untuk membedakan antara teater modern dan tradisional. Terlebih ketika bahwa perkembangan teater modern dewasa ini pun juga banyak yang tidak menggunakan naskah sebagai dasar acuan kerja artistiknya, terutama pada teater gerak atau teater tubuh. Keadaan ini masih ditambah dengan adanya kenyataan bahwa banyak teater modern yang menggabungkan antara naskah dan improvisasi dalam pementasannya. Artinya, teater modern membuka kemungkinan yang lebar terhadap penerapan improvisasi sebagai bagian penting ekspresi artistik. Di sisi lain, naskah lakon menjadi satu bahan dasar alih generasi teater tradisional. Para pelaku teater tradisional mulai menggunakan naskah lakon dalam proses pembelajaran kepada generasi muda karena kemungkinan pencapaian tujuan artistiknya yang lebih mudah diukur. Para calon pemeran muda teater tradisional merasa lebih mudah memahami dan menghafal naskah dibandingkan dengan mengikuti proses pemeranan secara mimesis. Kondisi ini mau tidak mau membuat teater tradisional menggunakan naskah dalam produksinya. Meskipun masih banyak teater tradisional yang tidak menggunakan naskah, namun penggunaanya sangat dimungkinkan dan bisa diterima.

Menilik kondisi di atas, pembedaan antara penggunaan naskah dan improvisasi semestinya sudah tidak lagi relevan. Teater modern dan teater tradisional sama-sama bisa menerapkan improvisasi dalam pementasannya. Di dalam konteks teater gerak pun ketidakperluan naskah bukan sebagai penanda bahwa pertunjukan tersebut bersifat improvisasi. Karena pemain pantomim harus benar-benar memahami dan menghafal rangkaian gerak dan ekspresi sebelum dipentaskan. Ada tidak adanya naskah dengan demikian tidak menjadi kendala bagi produksi pementasan teater modern dan tradisional. Ada tidak adanya naskah juga bukan merupakan ciri pokok sajian teater tersebut bersifat improvisasi atau tidak. Pemahaman ini penting maknanya bagi pengembangan improvisasi dalam teater. Ketakterhubungan definisi improvisasi dengan penggunaan naskah akan membuka wawasan baru dalam memaknai improvisasi dalam teater.

==== bersambung ====

One thought on “Mengenai Improvisasi (1)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.