Eduteater

Mengenai Improvisasi (4)

Oleh: Eko Santosa

4. Teknik Pemeranan dan Pertunjukan

Pertunjukan teater improvisasi mensyaratkan diperlukannya teknik pemeranan improvisasi. Semestinya demikian, namun praktik teater tradisional Indonesia yang menganut pola pengajaran nyantrik (menjadi pengikut)dengan metode mimesis (menirukan) dalam kurun waktu tertentu justru memudarkan semangat improvisasi ini. Pola ajar dengan menurunkan kemampuan melalui contoh-contoh (demonstrasi) penerapan ini menjadikan sang murid menirukan persis seperti apa yang dicontohkan. Bahkan di beberapa teater daerah tertentu apa yang dengan baik pernah dilakukan oleh seorang pemeran (waktu lalu) ketika memerankan tokoh tertentu menjadi standar artistik (ukuran). Artinya, jika ada pemeran lain atau baru memerankan tokoh tersebut capaian artistiknya harus sama dengan salah seorang pemeran waktu lalu yang telah menjadi standar atau ukuran. Metode mimesis ini telah berlangsung dalam kurun waktu lama dan memberikan wawasan baru bahwa yang berlaku secara tradisi bukanlah sajian pertunjukannya melainkan cara mengajarkan (menurunkan) kemampuan berperan. Cara mengajar atau berlatih seperti ini tidak bisa dikatakan sebagai pengajaran teknik improvisasi.

Pelatihan teknik pemeranan improvisasi secara metodik memang (dapat dikatakan) tidak dikenal dalam budaya pemeranan teater tradisional. Mimesis dengan cara menyaksikan sang guru berperan dari samping panggung dalam setiap pertunjukan menjadi satu-satunya metode. Formulasi metode dengan pendekatan lebih modern semestinya intens dilakukan agar calon pemeran teater tradisional dapat belajar dengan cara lebih terstruktur dan waktu lebih singkat. Di sisi lain, teknik improvisasi yang dikenalkan dalam teater modern berbasis naskah seolah-olah mengajarkan ekspresi di luar naskah yang dimainkan. Pengajaran ini ditekankan untuk menambal kesalahan yang tak terduga terjadi atau dalam kaitan ekspresi disebut sebagai pembangkit pesona. Hal terakhir yang disebutkan jelas bukan merupakan ciri realisme. Penciptaan atau pembangkitan pesona hanya dikenal dalam teater presentasional yang mana kualitas presentasi pemeran yang diperhitungkan secara artistik. Sedangkan tujuan untuk menambal kesalahan yang terjadi jelas bukan menjadi tujuan utama pelatihan teknik improvisasi. Di dalam  model pelatihan teater modern yang lain, sesi improvisasi dilakukan secara lebih bebas dan terbuka namun tidak diterapkan dalam pementasan karena hanya merupakan sesi penyegaran. Sesi ini perlu diberikan oleh pelatih atau sutradara dalam rangka membuka pikiran pemeran sehingga muncul pemaknaan atau sisi pandang baru terhadap tokoh yang akan diperankan.

Teknik pemeranan improvisasi semestinya menjadi bagian integral dari pertunjukan teater improvisasi. Teknik ini perlu diajarkan atau dilatihkan secara metodik sehingga mudah untuk dipelajari. Konsepsi mengenai spontanitas dalam improvisasi perlu benar-benar diwujudkan dalam pertunjukannya. Hal semacam ini sangat penting bagi pemaknaan teater improvisasi itu sendiri. Pada akhirnya kemudian improvisasi bisa menjadi teknik pemeranan yang bisa dipelajari oleh para pemeran teater berbasis naskah ataupun teater tanpa naskah dan teater improvisasi adalah teater tanpa naskah yang pemerannya berperan sepenuhnya dengan menggunakan teknik pemeranan improvisasi. Cerita di dalam teater tanpa naskah juga bukan merupakan cerita yang sudah dihafal dengan baik sampai detail-detail dialognya. Cerita tersebut semestinya memiliki struktur dasar sebagai awalan selalu memiliki keterbukaan untuk dikembangkan oleh pemeran sesuai dengan kaidah pertunjukan dan pemeranan improvisasi. Demi mencapai tujuan ini, perlu upaya referensial maupun eksperensial dari para pelaku teater untuk menekuni dan mempelajari secara seksama teater improvisasi. Catatan-catatan usaha perlu dilakukan sehingga dapat diubah ke dalam materi akademis yang dapat dipelajari oleh siapa saja.

Rupanya, usaha-usaha semacam itu sudah berjalan dalam kurun waktu lama di luaran. Usaha-usaha tersebut muncul karena adanya semangat untuk terus menggali, mencari, belajar dan mengajarkan secara sistematis. Semangat ini perlu ditumbuhkan agar teater improvisasi dapat lahir kembali dengan pemaknaan baru dan dikembangkan ke dalam model-model pertunjukan lain yang tidak terjebak (hanya) pada frasa “tradisional”. Ketika zaman bergerak maju dengan ditandai kesenantiasaan perubahan maka upaya pencarian tidak boleh dihentikan. Sekali berhenti maka ia akan menjadi sejarah yang dapat dikenang namun juga membuka kemungkinan lebar untuk dilupakan. Teater tidaklah seperti itu.

==== bersambung ====

One thought on “Mengenai Improvisasi (4)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.