Eduteater

Mengenai Improvisasi (5)

Oleh: Eko Santosa

  • Pelatihan dan Penerapan

Materi latihan teknik improvisasi tidak banyak tersedia. Pun demikian dengan sanggar atau studio teater yang menerapkan teknik ini secara khusus dalam pelatihannya. Beberapa teknik pemeranan improvisasi yang dikenal adalah teknik pemeranan dari WS Rendra seperti; improvisasi dengan benda, improvisasi dengan kerangka cerita dan lainnya. Namun demikian, ukuran keberhasilan dari teknik ini tetap belum terformulasikan dengan baik. Artinya keberhasilan pemeran dalam berimprovisasi tidak memiliki standar selain dari standar sang pelatih. Oleh karena itu pengembangan teknik improvisasi perlu diusahakan. Hal ini penting karena dengan mengandalkan pengukuran personal (pelatih), maka bisa dipastikan hasil pelatihan antara pelatih satu dengan lainnya bisa berbeda. Selain itu dari ragam model pelatihan yang ada semuanya tidak bisa serta-merta dipraktikkan karena umumnya teater yang ditampilkan berbasis naskah. Sementara itu teater tradisional yang tidak berbasis naskah justru tidak menggunakan metode pelatihan improvisasi dari WS Rendra ini.

baca juga : Mengenai Improvisasi (4)

Menilik dari beberapa bahasan sebelumnya tentang improvisasi sebagai teknik pemeranan dan pertunjukan, maka teknik improvisasi dapat dibagi menjadi teknik improvisasi untuk pertunjukan improvisasional dan teknik improvisasi untuk pertunjukan berbasis naskah. Pelatihan untuk kedua jenis teknik improvisasi ini perlu dijabarkan ke dalam materi-materi yang memadai bagi pemeran. Pembedaan dasarnya ada pada tujuan utama pelatihan di mana dalam teater berbasis naskah teknik improvisasi diperlukan untuk mencapai spontanitas aksi pemeran. Sementara dalam teater improvisasi, pelatihan sangat diperlukan untuk membangun cerita dalam satu pertunjukan oleh para pemeran.

Perbedaan tujuan ini menentukan model pelatihan yang mesti diterapkan. Dalam teater berbasis naskah tentu saja bahan dasar ekspresinya adalah naskah sehingga pemeran tidak bisa berimprovisasi di luar dari naskah seperti yang selama ini dipahami. Dengan tujuan dasar adalah spontanitas berperan, maka ekspresi spontan yang dimunculkan pemeran bersumber sepenuhnya dari naskah. Kata kunci dalam pelatihan ini adalah ekspresi spontan tanpa mengubah dialog. Meski di dalam banyak film aktor melakukan improvisasi di luar naskah, dan hal tersebut diperbolehkan untuk mencapai efek spontan, namun pelatihannya tetap berdasar sepenuhnya pada naskah. Bagaimana baris-baris kalimat dialog dalam naskah tampil secera ekspresif dan spontan itulah yang mesti dilatihkan.

Tentunya bukan satu perkara mudah untuk memformulasikan latihan improvisasi dalam teater berbasis naskah. Akan tetapi kebutuhan akting dalam drama realis tidak bisa dinafikan. Untuk mencapai akting realis yang tentu saja menekankan spontanitas agar nampak natural, pelatihan improvisasi ekspresi menjadi sangat penting. Perlu penguraian model atau metode dan materi yang akan dilatihkan. Di dalam teater realis, latihan improvisasi dengan atau tanpa bahan dasar naskah ditujukan untuk menubuhkan spontanitas ke dalam diri pemeran. Berdasarkan pengalaman pertunjukan dan film yang ada, maka latihan dapat dibedakan menjadi;

  1. Latihan improvisasi tanpa naskah dengan tujuan utama untuk mendapatkan pemahaman tentang akting spontan bukan untuk mengembangkan permainan, menambah pesona atau mengantisipasi kesalahan. Pemahaman mengenai spontanitas akting yang ditubuhkan ini kemudian diterapkan dalam teater berbasis teks. Latihan ini dapat digunakan oleh semua pemeran yang bermain dalam teater dengan penyutradaraan yang ketat (teater sutradara) maupun tetaer yang mengedepankan aspek keaktoran dalam produksinya (teater aktor).
  2. Latihan improvisasi dengan naskah di mana pokok-pokok dasarnya bukan pada teks (dialog), namun ekspresi tubuh yang menyertai dialog (gestur, gestikulasi, mimik, moving, dan blcoking). Latihan ini untuk memenuhi tuntutan konsep teater sutradara di mana  teks-teks dialog dalam naskah tidak boleh sama sekali diubah oleh pemeran.
  3. Latihan improvisasi dengan naskah di mana pengubahan (penambahan atau pengurangan) kata-kata tertentu yang tidak mengubah makna dialog diperbolehkan untuk mencapai naturalitas peran dibarengi ekspresi tubuh pemeran. Latihan ini dapat dilakukan oleh pemeran yang bermain dalam teater dengan konsep penyutradaraan yang longgar atau dalam teater aktor.

Jenis-jenis latihan di atas jika dapat diuraikan dengan baik materinya akan sangat berguna bagi pemeran untuk belajar melalui improvisasi. Satu hal yang patut menjadi pertimbangan para pelaku teater berbasis naskah.

Untuk teater yang tidak berbasis naskah seperti halnya teater tradisional, latihan improvisasi juga perlu dikembangkan. Latihan ini dimaksudkan tidak untuk menghapal cerita, dialog, dan ekspresi yang akan ditampilkan dalam pementasan melainkan latihan teknik-teknik improvisasi sehingga masing-masing pemeran dapat bekerja sama membangun cerita. Dengan pemahaman bahwa improvisasi adalah bukan memainkan cerita yang sudah dihafal sebelumnya, maka formulasi latihannya tidak berdasar pada pendekatan mimesis. Perlu benar-benar diurai format atau materi pelatihan untuk meningkatkan kemampuan improvisasi pemeran. Berikut beberapa materi yang perlu dilatihkan atau dipelajari pemeran.

  1. Latihan untuk mengembangkan cerita dalam format solo, berpasangan dan kelompok lebih dari 2 orang. Latihan ini termasuk memulai, mengembangkan dan mengakhiri cerita yang bisa diterapkan dalam adegan.
  2. Latihan aksi-reaksi (interaksi) dalam bermain peran improvisasi antara 2 orang pemeran atau lebih. Aksi-reaksi di sini lebih difokuskan dalam mengembangkan satu gagasan dalam percakapan. Pengubahan gagasan harus serta-merta disepakati oleh semua pemeran.
  3. Latihan menentukan konflik termasuk di dalamnya mengembangkan sampai tahap klimaks dan menyelesaikannya. Pemahaman tentang tujuan tokoh, hambatan, dan cara mengatasi hambatan tokoh dalam mencapai tujuan juga harus dilatihkan. Dengan demikian proses pemahan mengenai motivasi tokoh mesti dilalui.

Ketiga materi latihan di atas merupakan latihan pokok di mana dengan memiliki kemampuan dasar mengembangkan cerita, aks-reaksi dalam berperan serta melakoni cerita secara terstruktur dapat dipergunakan dalam pementasan teater tanpa naskah. Hal-hal khusus atau lainnya dapat ditemukan dan dikembangkan selama latihan berlangsung. Jika pencatatan dilakukan dalam setiap latihan maka ada kemungkinan problematika baru ditemui dan dapat dijadikan kajian sebagai pertimbangan pengembangan metode dan materi latihan.

Model dan materi latihan improvisasi yang kemudian dapat diterapkan secara langsung dalam pementasan teater berbasis dan tanpa naskah perlu mendapatkan perhatian. Penggalian dan pengembangan latihan improvisasi perlu dilakukan oleh para pekerja teater. Di dalam teater berbasis naskah, latihan improvisasi bisa jadi merupakan pendekatan atau model baru untuk mencapai akting natural. Sementara dalam teater tradisional tanpa naskah, latihan improvisasi diperlukan agar pemeran tidak lagi mimetik sehingga alir kemampuan akting dari generasi tua ke generasi berikutnya dapat berjalan secara lebih sistematis. (**)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.