Eduteater

Mengupas Lakon Mewujudkan Tontonan (Part – 1)

Oleh: Eko Santosa

Teater adalah ruang kosong tempat bertemunya aktor dan penonton dalam membangun sebuah komunikasi (Malcolm Kelsall, 1998). Bahan dasar komunikasi yang hendak disampaikan aktor kepada penonton adalah cerita atau lakon.  Pada mulanya cerita hanyalah teks yang tertulis di atas kertas. Segala informasi yang hendak disampaikan oleh pengarang tertuang di dalamnya. Untuk sampai kepada penonton (penikmat) informasi ini perlu diwujudkan dalam laku aksi para aktor di atas panggung atas arahan sutradara.

Sebelum teks itu mewujud dalam bentuk pertunjukan, kode-kode informasi yang ada dalam lakon perlu dipelajari oleh sang sutradara. Proses studi lakon ini disebut dengan analisis lakon atau bedah naskah. Berbeda dengan novel yang menggunakan banyak narasi untuk memberikan keterangan atau gambaran laku cerita secara utuh, lakon mengungkapkan laku cerita melalui dialog antarkarakter yang ada di dalamnya (Stefanie Lethbridge and Jarmila Mildorf).

Pemahaman lakon secara menyeluruh ini menjadi modal utama sang sutradara untuk menyampaikan gagasan artistiknya di atas pentas. Gagasan artistik yang disebut sebagai asimilasi kerja pengarang dan sutradara ini dialirkan melalui aksi para aktor di hadapan penonton. Sehingga dalam proses komunikasi karya teater ada empat unsur pokok yaitu; pengarang (naskah lakon), sutradara, dan aktor sebagai komunikator dan penonton sebagai komunikan (Meyerhold, 1996). Meskipun demikian, unsur pendukung artistik yang lain tidak bisa diabaikan. Keutuhan karya artisitik teater di atas panggung sangat tergantung dari jalinan kerjasama antarunsur pendukungnya. Dalam proses penyampaian cerita kepada penonton, aktor membutuhkan piranti artistik lain untuk membantu pencitraan karakter dan menegaskan makna lakon. Adolph Appia (1996) mengungkapkan bahwa presentasi aktor di atas pentas sebetulnya adalah kesatuan dari aktor itu sendiri, ruang (tata panggung), cahaya (lighting), dan lukisan/dekorasi (painting). Oleh karena itulah keseluruhan elemen dalam pertunjukan harus memiliki satu kesatuan gagasan (makna).

Semua unsur artistik yang dibutuhkan tersebut ada dan terdapat di dalam naskah lakon. Sutradara atau pengarah laku membutuhkan waktu khusus untuk mengungkap semua kebutuhan artistik yang diperlukan dalam pentas melalui lakon. Selain piranti nyata seperti tata artistik, laku dramatik lakon melalui perjalanan karakter para tokohnya perlu mendapatkan tempat yang utama dalam studi. Karena di sinilah letak pesan sesungguhnya yang hendak disampaikan pengarang. Dengan demikian, mempelajari naskah lakon adalah mempelajari keseluruhan elemen yang ada di dalamnya.

tobe contiuned………….

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.