Eduteater

MENGUPAS LAKON MEWUJUDKAN TONTONAN (PART – 3)

Oleh : Eko Santosa

Baca juga : Mengupas Lakon Mewujudkan Tontonan (Part -2)

e. Struktur Dramatik

Struktur dramatik sebetulnya merupakan bagian dari plot karena di dalamnya merupakan satu kesatuan peristiwa yang terdiri dari bagian-bagian yang memuat unsru-unsur plot. Rangkaian ini memiliki atau membentuk struktur dan saling bersinambung dari awal cerita sampai akhir. Fungsi dari struktur dramatik ini adalah sebagai perangkat untuk lebih dapat mengungkapkan pikiran pengarang dan melibatkan pikiran serta perasaan penonton ke dalam laku cerita. Teori dramatik Aristotelian memiliki elemen-elemen pembentuk struktur yang terdiri dari: eksposisi (Introduction), komplikasi, klimaks, resolusi (falling action), dan konklusi (denoument) (Rikrik El Saptaria, Ibid.). Gustav Freytag, menggambarkan struktur dramatiknya mengikuti elemen-elemen tersebut dan menempatkannya dalam adegan-adegan lakon sesuai laku dramatik yang dikandungnya. Struktur Freytag ini dikenal dengan sebutan Piramida Freytag atau Freytag’s Pyramid (Stefanie Lethbridge, Ibid.)

adegan

Dari gambar tersebut di atas dapat dilihat bahwa introduksi cerita mulai pada adegan I, komplikasi atau konflik awal dimuai pada adegan II dan terus memuncak hingga mencapai klimaks pada adegan III, kemudian jalan keluar atau resolusi mulai nampak pada adegan IV dan kesimpulan atau akhir cerita pada adegan V.

Lain Freytag lain pula Hudson. Ia membagi elemen dramatik menjadi enam – seperti dikutip oleh Japi Tambajong (1981) – dan menggambarkan struktur dramatiknya sebagai berikut;

struktur-adegan

Sementara itu Brander Mathews – seperti dikutip oleh Adhy Asmara (1979) – lebih menekankan tegangan dramatik dalam strukturnya. Dalam setiap adegan terkandung nilai ketegangan, penanjakan atau penurunan ketegangan. Pengaturan ketegangan yang baik akan membuat lakon semakin menarik.

time-line

Dari gambar di atas dapat diketahui ukuran tensi (ketegangan) dramatik dari tiap-tiap babak atau elemen plot.

Model struktur dramatik milik Marsh Cassady (1995) menekankan pentingnya Turning or Canghing Point (titik balik perubahan) yang mengarahkan konflik menuju klimaks. Titik balik ini menjadi bidang kajian yang sangat penting bagi sutradara berkaitan dengan laku karakter tokohnya sehingga puncak konflik menjadi jelas, tajam, dan memikat.

Gambar di bawah ini memperlihatkan posisi titik balik perubahan yang menuntun kepada klimaks. Titik ini menjadi bagian yang paling krusial dari keseluruhan laku karena padanya letak kejelasan konflik dari lakon berada. Inti pesan atau premis yang terkandung dalam permasalahan akan menampakkan dramatikanya dengan menggarap bagian ini sebaik mungkin.

Tiga titik penting yang merupakan nafas dari lakon menurut struktur ini adalah; konflik awal dimana persoalan dimulai, titik balik perubahan di mana perlawanan terhadap konflik dimulai, dan klimaks dimana konflik antarpihak yang berseteru memuncak hingga menghasilkan sebuah penyelesaian.

ttik-balik

f. Struktur Terbuka dan Tertutup

Struktur dramatik seperti yang diterangkan di atas biasanya digunakan untuk lakon-lakon konvensional yang memang memiliki elemen plot dan laku cerita dalam format tersebut. Tetapi dalam lakon-lakon kontemporer struktur ini belum tentu bisa diterapkan karena memang pengarangnya sengaja tidak mau terikat dengan struktur tersebut. Dengan demikian diperlukan pembeda antara struktur lakon konvensional dan kontemporer. Biasanya, lakon konvensional menggunakan struktur tertutup (closed drama) dimana laku plot dari awal sampai akhir menggambarkan resolusi dan kesimpulan dari persoalan yang diungkapkan.

Akan tetapi lakon kontemporer banyak yang mencoba keluar dari struktur seperti ini dan mencoba membuat lakon dengan sturktur terbuka (open drama). Struktur ini tidak mengharuskan adanya kaitan waktu, kejadian, dan peristiwa. Juga tidak mewajibkan laku lakon mengikuti alir plot dari awal sampai akhir yang menghasilkan kesimpulan (konklusi). Sebagai contoh lakon dalam jenis ini adalah lakon-lakon absurd.

Dalam Waiting For Godot, Samuel Beckett tidak menyebutkan dengan jelas kapan waktu kejadiannya karena Vladimir dan Estragon lupa di mana dan kapan mereka janjian dengan Godot. Demikian juga, akhir dalam lakon ini tidak menghasilkan kesimpulan apapun selain mereka (Vladimir dan Estragon) menunggu Godot sekaligus ingin pergi tetapi tidak beranjak sama sekali (Stefanie Lethbridge, Ibid.)

g. Penokohan

Sifat dan kedudukan tokoh dalam satu cerita (lakon) dapat dikategorikan ke dalam tokoh penting (mayor) dan tokoh pembantu (minor). Kategori ini didasarkan pada keterlibatan tokoh dalam peristiwa atau persoalan yang terjadi dalam lakon. Tokoh-tokoh mayor memiliki citra masing-masing yang digambarkan secara seksama dan khusus oleh pengarang. Kekhususan watak ini dimaksudkan untuk merangsang tumbuhnya motivasi yang mendorong terjadinya peristiwa lakon.  Mereka menjelma menjadi penggerak cerita dan menentukan arah laku lakon menuju akhir.

Sementara menurut perannya tokoh dapat dibedakan menjadi:

  • Protagonis: tokoh utama yang menggerakkan plot dari awal sampai akhir dan memiliki kehendak tetapi dihalangi oleh tokoh lain.
  • Antagonis: tokoh yang menentang atau melawan tokoh protagonis.
  • Deutragonis: tokoh lain yang berada di pihak protagonis.
  • Foil: tokoh lain yang berada di pihak antagonis.
  • Tritagonis (confidante): tokoh yang dipercaya (berada di pihak) protagonis dan antagonis.
  • Utility: tokoh pembantu atau sebagai tokoh pelengkap untuk mendukung rangkaian cerita dan kesinambungan dramatik. (Rikrik El Saptaria, Op.Cit.)

h. Bahasa

Banyak jalan yang dapat digunakan oleh pengarang untuk menyampaikan ceritanya dengan menggunakan bahasa. Penggunaan media bahasa ini sangat penting untuk menguatkan karakter, situasi, dan yang terutama adalah pesan cerita. Ada dua hal penting berkaitan dengan penggunaan bahasa dalam lakon:

1. Bagaimana karakter dibangun dengan bahasa mereka?
Bahasa yang digunakan oleh tokoh (karakter) dapat memberikan gambaran yang kuat tentang latar belakang serta watak yang dimilikinya. Konsistensi penggunaan bahasa dalam setiap karakter sangat membantu penonton untuk memahami dramatika lakon melalui karakter tokoh-tokohnya. Jika bahasa digunakan secara serampangan oleh sang tokoh maka kejelasan watak akan mengalami kekaburan sehingga sangat merugikan laku dramatik lakon.

2. Bagaimana peran bahasa dalam membangun adegan dan suasana peristiwa?
Penggambaran situasi, konflik yang terjadi serta hal-hal lain yang berkaitan dengan cerita sangat tergantung dari bahasa yang disampaikan.

Dalam lakon-lakon tertentu, penggambaran situasi kejadian secara gamblang diucapkan oleh tokoh-tokohnya, misalnya dalam Macbeth, Shakespeare menggambarkan suasana malam menjelang pagi melalui dua tokohnya Banquo dan Fleance. Ketika Banquo bertanya; “Bagaimana keadaan malam in, kawan?”, Fleance menjawab: “Bulan mulai surut; aku tak mendengar laju waktu.” Dari percakapan kedua tokoh ini dapat dibayangkan suasana dan kondisi dari adegan tersebut. (www.unc.edu/depts/wcweb/).

to be continued…

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.