Eduteater

MENGUPAS LAKON MEWUJUDKAN TONTONAN (PART – 4)

Oleh : Eko Santosa

Baca juga : Mengupas Lakon Mewujudkan Tontonan (Part -3)

i. Setting
Membicarakan tentang setting dalam mengkaji lakon tidak ada kaitan langsung dengan tata pentas, karena memang bukan persoalan scenery yang hendak dibahas. Pertanyaan untuk setting atau latar cerita adalah kapan dan dimana persitiwa terjadi. Pertanyaan tidak serta merta dijawab secara global tetapi harus lebih mendetil untuk mengetahui secara pasti waktu dan tempat kejadiannya.

Apakah peristiwa terjadi di luar ruang atau di dalam ruang? Apakah terjadi pada waktu malam, pagi hari, atau sore hari? Jika terjadi dalam ruang lalu di mana letak ruang itu di dalam gedung atau di dalam rumah? Jam berapa kira-kira terjadi? Tanggal, bulan, dan tahun berapa? Apakah waktu kejadiannya berkaitan dengan waktu kejadian peristiwa di adegan lain, atau sudah lain hari?

Pertanyaan-pertanyaan seputar waktu dan tempat kejadian ini akan memberikan gambaran peristiwa lakon yang komplit (David Groote, 1997).

Menyelami karakter
a. Latar Belakang dan Kategori
Untuk mempelajari karakter secara lebih mendalam bisa ditinjau dari latar belakang karakter. Ada tiga tinjauan dari sudut ini yaitu; tinjauan sosiologis yang meninjau karaker dari latar belakang sosialnya, tinjauan psikologis yang meninjau karakter dari latar belakang kejiwaan atau watak, dan tinjauan fisiologis yang melihat karakter dari latar belakang fisik. Ketiga latar belakang ini sampai sekarang masih sering digunakan untuk menelaah karakter. Dari tiga latar belakang ini bisa didapatkan – peran atau kedudukan karakter dalam lingkungan masyarakat, garis keturunan, usia – (sosiologis), perwatakan karakter – apakah keras hati, lemah lembut, suka berbohong, dan lain sebagainya – (psikologis), dan ciri fisik karakter – bentuk wajah, warna kulit, jenis kelamin – (fisiologis).

Marsh Cassady (Ibid.) meninjau karakter dari lima kategori yaitu; karakter fisik, latar belakang, sikap dan pendirian, tingkah laku, dan ciri dominan. Dari karkater fisik ini dapat digambarkan tokoh dengan ciri-ciri fisik yang dimilikinya (sama seperti tinjauan fisiologis). Latar belakang akan mengungkap segala sisi dari sang karakter, latar keluarga, pendidikan, budaya, kegemaran, latar pekerjaan, dan lain sebagainya. Sikap dan pendirian menekankan cara pandang dan berpikir tokoh dalam menghadapi persoalan hidup, menyikapi masalah, dan sikapnya terhadap hubungan dengan karakter lain. Sisi tingkah laku memberikan gambaran perilaku karakter dalam kehidupan. Sedangkan ciri dominan memberikan citra khusus bagi sang karakter misalnya, ia adalah seorang tokoh moralis, propagandis atau individualis.

Penelaahan karakter baik dari tiga tinjauan atapun kategori yang diungkapkan oleh Cassady pada dasarnya memberikan arahan bahwa untuk menyelami karakater tokoh maka haruslah digali informasi sedetil-detilnya tentang segala hal yang berkaitan dengan tokoh tersebut. Sementara itu dalam teater terdapat berbagai macam jenis atau sifat karakter di antaranya:

  • Flat Character: tokoh yang dibekali karakterisasi oleh pengarang secara datar atau lebih bersifat hitam putih.
  • Round Character: tokoh yang diberi pengarang secara sempurna, karakteristiknya kaya dengan pesan-pesan dramatik.
  • Caricatural Character: karakter yang tidak wajar, satiris, dan cenderung menyindir.
  • Theatrical Character: karakter yang tidak wajar, unik, lebih bersifat simbolis.

b. Hubungan Dengan Karakter Lain
Untuk menemukan sisi karakter tokoh dapat pula dilihat dari hubungan tokoh tersebut dengan karakter lain. Mungkin pada satu kali waktu ia bersifat baik hati pada temannya (tokoh tertentu) tetapi pada kali lain ia tiba-tiba berubah marah. Perlu ditinjau persoalan di balik kemarahan sang tokoh, apakah karena ia dihasut oleh tokoh lain ataukah memang ada perbedaan pendapat mengenai sesuatu hal yang prinsipil ataukah ia menjadi korban dari kelicikan sang teman? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut akan memberikan gambaran yang jelas terhadap sikap yang dimilikinya. Jika ia marah karena hasutan maka ia lemah hati, jika ia marah karena mempertahankan prinsip maka ia keras hati, dan jika ia marah karena dijadikan korban kelicikan maka ia adalah orang yang berani. Intinya, hubungan karakter satu dengan yang lain dapat dijadikan alat untuk menggali karakter tokoh secara mendetil.

c. Wicara
Dalam naskah lakon, perajalanan cerita diungkap melalui pembicaraan para tokohnya. Dari segenap pembicaraan ini dapat digali karakter dari masing-masing tokoh. Ada empat jenis pembicaraan dalam naskah lakon yaitu; dialog, monolog, soliloquy, dan aside. Dialog adalah pembicaraan yang terjadi antara tokoh satu dengan yang lainnya. Dari hasil pembicaraan ini maka dapat diketahui sikap, perilaku, gaya, dan bahkan watak para karakter yang terlibat.

Sedangkan monolog adalah pembicaraan panjang seorang tokoh di hadapan tokoh lain, dan hanya ia sendiri yang berbicara. Dalam sesi monolog ini, tokoh bisa mengungkapkan pendapatnya mengenai persoalan yang dihadapi, sikapnya dalam menerima persoalan atau pandangan-pandangan hidupnya mengenai soal berkaitan. Dengan demikian, mudahlah diketahui beberapa sisi karakternya dari apa yang dengan panjang lebar ia ungkapkan.

Jenis wicara lain yang menampilkan tokoh berbicara sendiri adalah soliloquy. Perbedaanya, dalam soliloquy tokoh hanya tampil sendirian di atas panggung sehingga ia bisa dengan bebas mengungkapkan isi hatinya, rahasia-rahasia hidupnya, harapan-harapannya, dan bahkan rencana jahatnya. Soliloquy memang menghadirkan karakter tokoh secara detil dan personal sehingga sebagian besar wataknya dapat ditemukan dalam sesi ini.

Jenis wicara yang unik dan dapat dijadikan pedoman untuk mengungkap karakter tokoh adalah aside yang secara harafiah dapat diartikan sebagai wicara menyamping. Pembicaraan ini dilakukan begitu saja oleh sang tokoh dalam menanggapi sebuah persoalan secara spontan baik kepada dirinya sendiri (wicara hati), kepada penonton atau bahkan dibisikkan kepada karakter lain. Aside dapat dilakukan oleh seorang tokoh atau beberapa tokoh sekaligus dalam waktu yang terbatas tentunya. Dari sekilas aside ini, dapat diketahui sisi karakter sang tokoh dari sudut pandangnya sendiri dalam menanggapi persoalan secara spontan dan jujur.

Menyelami Peristiwa
a. Gambaran Situasi Kejadian
Menggambarkan peristiwa dalam lakon, tidak bisa hanya membayangkan ruang yang terbentang di atas panggung. Peristiwa harus dihayati seperti benar-benar terjadi (Mc Tigue, Op.Cit). Gambaran kehidupan sesungguhnya harus mampu diciptakan oleh sang seniman dan dipindahkan ke atas pentas. Jika peristiwa digambarkan terjadinya di atas panggung maka pada saat itu juga sang seniman melakukan kesalahan besar. Hal ini dikarenakan, ruang yang tersedia di atas panggung sangatlah terbatas sehingga imajinasi yang dihasilkanpun pada akhirnya terbatas. Akhirnya, situasi kejadian peristiwa ketika dilakoni menjadi teknis dan mekanis.

Situasi kejadian peristiwa adalah situasi yang hidup. Peristiwa yang benar-benar terjadi. Oleh karena itu ingatan atau memori sang seniman harus diarahkan pada peristiwa kehidupan yang mirip dengan peristiwa dalam naskah lakon. Pendekatan memori ini memiliki afektivitas yang tinggi karena sang seniman benar-benar pernah mengalami atau menyaksikannya secara langsung dalam kehidupan. Jika ia tidak memiliki pengalaman tersebut maka ia harus mampu mengarahkan imajinasinya sehingga seolah-olah peristiwa dalam naskah lakon benar-benar terjadi dalam kehidupan. Studi pustaka dengan membaca cerita atau lakon lain yang memilki kemiripan peristiwa sangatlah membantu olah imajinasi tetapi dengan menonton film atau video pertunjukan karya seniman lain tidaklah membantu, karena sehebat apapun tampilan film atau video tidaklah riil terjadi dalam hidup.

b. Pesan
Pesan atau message cerita adalah bahan utama komunikasi yang hendak disampaikan kepada penonton. Jika pesan tidak bisa tersampaikan maka laku lakon yang disajikan dari awal sampai akhir tidaklah berarti. Pesan dapat ditemukan dalam gagasan dasar, tema atau premis lakon tetapi secara dramatik, pesan dapat disisipkan dalam setiap adegan.

Menampilkan pesan lakon tidaklah mudah. Jika penekanannya terlalu sering justru akan membuat penonton muak dan merasa dibodohi. Tetapi jika pesan kurang ditekankan maka penonton tidak akan mampu menangkapnya. Drama tradisional biasanya memilki pesan yang hampir sama dan bersesuaian dengan pandangan hidup masyarakat sehingga mudah ditangkap seperti; kebaikan akan mengalahkan kejahatan, cinta mengalahkan segalanya, siapa yang menanam ia akan menuai, dan lain sebagainya. Tetapi pesan dalam lakon kontemporer membutuhkan kerja artistik tersendiri untuk dikomunikasikan kepada penonton.

c. Konflik dan Klimaks
Menyajikan konflik hingga mencapai klimaks membutuhkan strategi atau desain laku tertentu sehingga tensi dramatik terjaga. Banyak pertunjukan teater yang terlalu tergesa mengarahkan konflik dasar menuju klimaks. Hal ini mengakibatkan pertunjukan berlangsung singkat, to the point sehingga kurang dinamik. Kebalikannya, tidak jarang lakon disajikan dengan irama yang lambat, bahkan ketika penonton sudah mampu memprediksi adegan klimaks yang akan ditampilkan irama pertunjukan tidak juga menanjak. Kondisi seperti ini membuat penonton lelah dan merasa bosan.

Untuk menghindari hal tersebut, struktur lakon dapat dijadikan arahan. Dengan mematuhi struktur lakon maka tensi dramatik atau dinamika lakon dapat dijaga. Elemen dramatik lakon yang digambarkan sesuai garis waktu (timeline) dapat dijadikan tolok ukur untuk menentukan rapat renggangnya aksi yang akan dilakukan. Meski hal ini bukan merupakan satu-satunya cara untuk menjalin konflik dan klimaks secara dramatik tetapi paling tidak dengan berpatok pada struktur dramatik maka perjalanan konflik menuju klimaks hingga berakhir pada konklusi (penyelesaian) dapat dirancangkan dengan baik.

d. Kontras
Perubahan suasana secara mendadak dan berlawanan sering terjadi dalam kehidupan. Seorang yang menangis karena sedih tiba-tiba saja secara mendadak langsung tertawa begitu melihat ada orang terpeleset jatuh. Demikian juga seorang yang sedang merasa senang hati tiba-tiba saja bisa berubah sedih dengan atau tanpa sebab yang jelas karena suasana hatinya menghendaki demikian. Keadaan seperti ini bisa juga terjadi dalam lakon dan disebut sebagai kontras. Sekilas memang kondisi ini kurang masuk akal dan kelihatan naif tetapi pengaturan kontras yang tepat akan menciptakan efek dramatik yang hebat.

Penempatan kontras dalam drama semacam ini membutuhkan keahlian dan kejelian karena jika salah atau kurang tepat dalam menempatkannya akan kelihatan konyol dan tidak nalar. Kontras menghendaki perubahan yang tiba-tiba dan berlawanan dengan keadaan sebelumnya. Oleh karena itu situasi yang dipersyaratkanpun harus benar-benar mendukung keadaan kontras ini. Menurut Mc Tigue (Op.Cit.), kontras menghasilkan drama yang baik.

Menggagas Ruang
a. Apa
Membaca dan mengupas naskah lakon adalah proses wajib sebelum memutuskan segala sesuatu baik itu berkaitan dengan akting ataupun kerja artistik dalam kaitan penciptaan ruang. Naskah lakon harus dibaca dengan pemahaman sebagai sebuah cerita sampai ditemukan apa maksudnya. Kata kerja operatif di sini adalah “apa” (McTigue, Op. Cit.). Seorang pekerja artistik tidak akan bisa mengatakan “Bagaimana mewujudkan sebuah ruang di atas pentas sebelum ia tahu betul “apa” yang akan dikerjakan.” Banyak pekerja artistik yang lebih dahulu bertanya ‘bagaimana’ menciptakan ruang di atas pentas sementara ia belum menangkap apa maksud naskah lakon yang hendak digarap. Keadaan ini membuat ia berada dalam kebingungan atau justru menciptakan imajinasi-imajinasi yang hasilnya melenceng jauh dari apa yang dikehendaki oleh naskah lakon.

Untuk itu membaca naskah berulang-ulang sangat diperlukan. Bukan dalam arti kajian yang mendalam tetapi dalam rangka menemukan “apa” yang dimaksud oleh lakon tersebut. Dengan menangkap maksud lakon maka gambaran global laku lakon di atas pentas akan didapatkan. Jadi memang kerja penciptaan ruang pentas bukan dalam wilayah memahami makna teks ataupun sub teks, tetapi memahami maksud lakon tersebut, bercerita tentang apa lakon tersebut.

b. Dimana
Setelah mengerti apa maksud lakon maka perlu diketahui pula “dimana” peristiwa itu berlangsung. “Dimana” menggambarkan latar berlangsungnya cerita, menggambarkan tempat berlangsungnya cerita, menggambarkan keadaan/situasi cerita, dan menggambarkan waktu berlangsungnya cerita. Pemahaman tentang ruang dan waktu sangat dibutuhkan untuk menciptakan suasana peristiwa seperti yang dikehendaki oleh lakon. Dalam sebuah kasus pencurian misalnya, suasananya akan tampak sangat berbeda antara yang terjadi di pasar dengan yang terjadi di lingkungan pertokoan. Dengan memahami “dimana” peristiwa berlangsung maka pekerja artistik akan memiliki gambaran komplit setting cerita tersebut.

Gambaran komplit inilah yang selanjutnya ditransformasi ke atas pentas dalam bentuk tata panggung yang memberikan ruang berlangsungnya peristiwa.
Pengertian ruang di sini tidak hanya sekedar menyediakan tempat bagi para pemain untuk duduk, berdiri atau mengambil posisi lain dalam berakting tetapi juga memberikan pencitraan lingkungan, suasana, serta makna peristiwa.

Jika semua konsep tersebut di atas sudah ditentukan maka kerja berikutnya adalah wilayah kreatif si seniman untuk mewujudkan gambaran-gambaran tersebut dalam karyanya. Pada tahap ini barulah kata “bagaimana” digunakan. Jika sudah sampai di sini maka ini adalah medan merdeka untuk berekspresi sepanjang tidak lepas dari konteks “apa” maksud/makna cerita dan “dimana” cerita tersebut berlangsung sehingga keutuhan pesan lakon dapat disampaikan melalui bahasa dan kode-kode artistik yang hadir secara visual.

c. Tipe Gaya
Penciptaan ruang peristiwa lakon di atas pentas sering terkait dengan tipe gaya pertunjukannya. Tipe gaya ini sering diartikan sebagai genre. Sebagai gambaran, gaya Realis menuntut ruang yang terlihat benar-benar nyata senyata kehidupan. Jadi dalam gaya ini, ruang peristwa dianggap sebagai ruang kehidupan sesungguhnya sehingga apa saja yang terjadi di atas pentas (seolah) adalah kisah kehidupan yang sungguh-sungguh terjadi.

Gaya ini melahirkan beberapa sub-genre seperti; Selective Realism yang menyeleksi penampilan ruang pada bagian tertentu sehingga tidak membutuhkan gambaran keseluruhan ruang. Suggestive Realism yang menampilkan satu sisi ruang yang mensugesti keseluruhan, misalnya; sosok pilar memberi sugesti sebuah istana. Naturalism adalah sub-genre realisme yang ekstrim dan menghendaki kahadiran ruang benar-benar seperti dalam kehidupan sesungguhnya.

Banyak gaya lain yang dilahirkan oleh para seniman teater. Masing-masing gaya membawa konsekuensi tersendiri bagi pemaknaan ruang peristiwa. Oleh karena itu pekerja artistik selain mampu mengupas naskah juga harus mampu menangkap konsep gaya yang hendak ditampilkan oleh sutradara.

d. Makna
Ruang yang hadir di atas panggung pada dasarnya tidak hanya memberikan gambaran ruang secara wantah tetapi juga menghadirkan makna laku peristiwa. Misalnya dalam adegan awal, sebuah panggung menampakkan suasana hujan badai. Suasana ini tidak saja memberi gambaran bahwa persitiwa terjadi di tengah badai hujan tetapi juga bahwa makna badai ini senantiasa akan mengikuti laku lakon sampai akhir.
Contoh lain, sebuah singgasana yang diletakkan di tengah panggung tidak hanya memberi gambaran bahwa peristiwa terjadi di keraton. Tetapi singgasana tersebut memberikan makna bahwa lakon yang akan disajikan mengungkap tentang kekuasaan. Dengan adanya konsep pembarian makna pada ruang tercipta, kreativitas para pekerja panggung ditantang untuk menghadirkan pemaknaan baru.

***

Proses mengupas atau mengkaji lakon memang bukan kerja yang mudah karena segala hal yang ada di dalamnya harus diungkap untuk disampaikan kepada penonton. Tetapi, meskipun kerja kupas lakon selesai bukan berarti kerja berikutnya lebih ringan. Untuk mewujudkan lakon di atas pentas masih diperlukan serangkaian proses lagi mulai dari melengkapi desain artistik, membentuk panitia produksi, latihan-latihan, hingga sampai evaluasi dan perbaikan-perbaikan. Seluruh rangkaian kerja ini akan menemukan hasilnya ketika pentas dilakukan. Pada titik inilah semua hasil jerih payah disajikan di hadapan penonton dengan harapan komunikasi dapat terjalin dan makna pesan dapat tersampaikan. (.)

Bahan bacaan:
Appia, Adolph, “Actor, Space, Light, Painting”, dalam, Michael Huxley, Noel Witts, Ed., The Twentieth Century Performance Reader, London: Routledge, 1996.

Asmara, Adhy, Apresiasi Drama, Yogyakarta: Penerbit Nur Cahya, 1979.

Cassady, Marsh, Character in Action, Colorado: Meriwether Publishing Ltd., 1995.

Egri, Lajos, The Art Of Dramatic Writing, New York: Simon and Schuster, 1946.

El Saptaria, Rikrik, Acting Handbook Panduan Praktis Akting untuk Film dan Teater, Bandung: Rekayasa Sains, 2006.

Froug, William, Screen Writing Tricks of The Tade, Los Angeles: Silman-James Press, 1993.

Groote, David, Play Directing in the School A Drama Survival Guide, Colorado: Meriwether Publishing, Ltd., 1997.

Kelsall, Malcolm, Studying Drama an Introduction, London: Edward Arnold a Division of Hodder Headline PLC., 1995.
Lethbridge, Stefanie, Jarmila Mildorf, “Drama”, diktat dalam, Basics of English Studies: An Introductory Course for Students of Literary Studies in English, Developed at the English Departments of the Universities of Tübingen, Stuttgart and Freiburg

Mc Tigue, Mary, Acting Like a Pro Who’s Who and They Way Things Really Work in the Theatre, Ohio: Betterway Books, 1992.

Meyerhold, Vsevolod, “First Attempts at a Stylized Theatre”, dalam, Michael Huxley, Noel Witts, Ed., The Twentieth Century Performance Reader, London: Routledge, 1996.

Tambajong, Japi, Dasar-dasar Dramaturgi, Bandung: Penerbit Pustaka Prima, 1981.

Website:

Http://www.wikipedia.org
Http://www.writerswrite.com/fiction/
Http://www.unc.edu/depts/wcweb/

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.