Merayakan Teater di Sekolah – 1

thumbnail

Oleh: Eko Santosa

Perkembangan seni teater di sekolah umum tidak bisa dikatakan menggembirakan namun juga tidak bisa dikatakan mengenaskan. Seni teater di sekolah umum berkembang atau berjalan dinamis sebagaimana adanya. Dalam beberapa wawancara dengan pengajar teater baik di kegiatan ekstrakurikuler maupun intrakurikuler minat siswa selalu turun naik. Di dalam aktivitas ekstrakurikuler misalnya, pertama kali dibuka pendaftaran keanggotaan, banyak sekali yang berminat. Namun, begitu waktu proses berjalan, jumlah keanggotaan semakin lama semakin berkurang. Memang agak berbeda dengan intrakurikuler karena siswa dipaksa untuk mengikuti pelajara seni teater minat atau tidak. Namun soal ketertarikan bisa saja sama di mana pada mulanya mereka antusias namun lama-kelamaan antusiasme itu menurun. Tidak mudah memang mengenalkan, mengajarkan, dan mengembankan seni teater di sekolah. Berbeda dengan seni lainnya, teater menerapkan kemampuan multi dari seseorang dalam berekspresi. Mungkin hal ini yang kurang terakomodasi atau mungkin pula syarat multi kemampuan ini yang membuat siswa menjadi bosan. Atau bisa jadi cara mengenalkan dan mengajarkan yang kurang menarik. Banyak sebab yang bisa digali dari kemeriahan yang tiba-tiba redup dalam dunia teater sekolah baik diltinjau dari sisi materi, pengajar maupun minat siswa sendiri.

  1. Angan-angan

Sebagian besar peserta atau siswa yang berminat pada seni teater memiliki angan-angan untuk menjadi pemeran. Tentu saja hal ini merupakan sesuatu yang biasa, apalagi ketika niatan awal juga dipicu oleh gemerlap dunia artis televisi maupun film. Siswa dengan sendirinya akan membayangkan memiliki keterkenalan seperti halnya para artis tersebut. Jadi, bukan soal kompetensi atau kemampuan yang harus dimiliki yang diutamakan melainkan angan-angan keterkenalan inilah yang menyeret sebagian peserta untuk memasuki dunia teater.

Apakah hal ini salah? Tentu saja tidak karena angan-angan dalam satu sisi dapat melahirkan antusiasme atau semangat untuk belajar. Yang menjadi persoalan adalah ketika angan-angan itu tidak bisa segera menemukan wujudnya. Umumnya memang tidak mudah mewujudkan angan-angan tersebut di teater sekolah dalam kegiatan ekstrakurikuler. Penyebabnya bukan karena peserta tersebut tidak segera mendapat peran sehingga bisa bermain melainkan angan-angan yang didasari keterterikan akan sandiwara televisi dan film itu pangkal soalnya. Di dalam kultur teater panggung, angan-angan semacam ini dianggap naif. Orang-orang panggung akan menganggap bahwa dunia panggung berbeda dengan televisi dan film dan umumnya panggung lebih hebat dari keduanya. Sebuah anggapan yang sama sekali tidak benar namun umum tumbuh di dalam kelompok-kelompok teater sekolah.

Bisa dibayangkan kemudian bagaimana jadinya ketika angan-angan itu tidak mendapatkan dukungan. Ia bisa saja tumbuh dengan segala perubahan ketika kuat atau mati di tengah jalan ketika lemah. Jadi seorang siswa yang memiliki angan-angan menjadi artis film lalu kemudian bergabung dengan teater sekolah (ekstrakurikuler) tentu akan segera patah hati mendapati kultur yang demikian berbeda. Apakah patah hati bisa disembuhkan atau tidak kemudian sangat tergantung proses yang dijalani oleh siswa tersebut. Tentu saja hal ini brsangkutan dengan pengajar dan kesadaran siswa dalam mengikuti proses berteater di kemudian hari.

Tidak semua siswa atau peserta teater sekolah yang memiliki angan-angan menjadi terkenal seperti halnya artis televisi atau film, namun secara umum kehendak untuk menjadi pemain ini sama. Apa gunanya ikut bergabung dengan kelompok teater kalau tidak sebagai pemain? Kira-kira begitu pemikiran dasar seseorang ketika menentukan diri untuk bergabung dengan kelompok teater. Kehendak menjadi pemain teater ini menjadi dorongan utama. Ketika kehendak ini dalam perjalannnya tidak bisa atau sulit diwujudkan maka bisa dipastikan dorongan semangat pun akan mengendur.

Keinginan bermain teater dari seluruh anggota ini semestinya mendapat perhatian dari pengajar atau pelatih. Sebab tidak bisa serta-merta seseorang yang baru bergabung dalam teater memahami konsep produksi. Pemahaman akan konsep produksi dapat diberikan atau diajarkan ketika proses sebagai pemain ini telah terlewati. Intinya, keinginan siswa untuk tampil sebagai pemain di atas panggung harus segera diwujudkan dan itu menjadi tanggung jawab pengajar atau pelatih. Sebab jika tidak, maka tidak mustahil siswa tersebut akan hilang ketertarikan dengan teater jauh sebelum proses produksi dilangsungkan. Jadi membina angan-angan dan keinginan peserta atau siswa dalam berteater ini harus senantiasa dijaga agar tidak terjadi patah semangat di tengah jalan.

=== bersambung ====

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: