Merayakan Teater di Sekolah – 16

Oleh: Eko Santosa

11. Lakukan sebaik-baiknya

Pelatih atau guru teater sekolah mesti cermat mengamati ketertarikan siswa anggota dan penonton pertunjukan teater sekolah. Ketertarikan yang dimaksud adalah ketertarikan akan produksi pementasan. Teater sekolah memang berbeda dengan teater profesional akan tetapi trend atau kecenderungan kesukaan akan bentuk pertunjukan bisa jadi sama. Dalam konteks ini, pelatih harus benar-benar bisa mewujudkan apa yang menjadi daya tarik tersebut untuk diproduksi. Misalnya saja di kota di mana sekolah berada dilangsungkan pertunjukan teater profesional dengan bentuk teater boneka dan ternyata mampu menyedot banyak perhatian. Akhirnya pertunjukan itu menjadi pembicaraan banyak orang termasuk siswa anggota teater sekolah. Jika para siswa tersebut menyatakan ingin mementaskan teater boneka seperti yang mereka saksikan, maka pelatih sebisa mungkin mewujudkannya.

Baca juga : Merayakan Teater di Sekolah – 15

Proses mewujudkan keinginan siswa ini harus dilakukan sebaik-baiknya. Tidak bisa kemudian pelatih hanya melakukan replikasi pertunjukan yang disaksikan tersebut. Melakukan replikasi artinya sama dengan sekedar meniru dan hal ini tentu saja kurang membanggakan. Oleh karena itu, pelatih mesti berusaha mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki. Gagasan, konsep, teknik, dan penerapan harus dipikirkan dengan baik. Kreativitas benar-benar diuji di sini di mana pengembangan produk yang dilakukan memiliki kualitas baik namun cukup berbeda dengan karya acuan.

Di dalam prosesnya, materi dan tahap-tahap pelatihan mesti dirancang dan dilakukan dengan sungguh-sungguh. Tidak ada artinya jika pementasan yang dipersembahkan nantinya kurang berkualitas. Karya acuan dapat dijadikan motivasi untuk berlatih namun dengan kreativitas yang berbeda. Keinginan siswa untuk mementaskan seperti apa yang disaksikan tidaklah berarti produk harus sama persis. Siswa mesti memiliki gagasan pengembangan. Gagasan-gagasan siswa ini harus diperhatikan dan dipertimbangkan oleh pelatih. Pemerhatian atas gagasan bisa menjadikan pelatih memiliki banyak alternatif cerita atau bentuk kreasi pementasan yang akan diproduksi.

Namun yang perlu diperhatikan oleh pelatih dalam produksi semacam ini adalah melakukan atau bekerja sebaik-baiknya atau tidak sama sekali. Artinya, jika pelatih merasa kurang mampu memproduksi apa yang menjadi keinginan siswa, maka ia tidak perlu memaksakan diri. Karya acuan dapat diambil atau diserap ide dasarnya untuk kemudian diproduksi sesuai dengan kemampuan pelatih. Dengan demikian, teater boneka yang diacu dalam contoh tersebut diserap elemen-elemennya untuk kemudian diwujudkan dalam bentuk pementasan teater sesuai kemampuan pelatih.

Ketertarikan siswa seringkali juga senada dengan ketertarikan penonton teater sekolah. Hal ini bisa terjadi karena penonton teater sekolah umumnya adalah orang-orang yang dekat dengan siswa dan lingkunan sekolah. Ukuran kemenarikan sebuah produk tentu saja berkaitan dengan orang-orang yang ada di balik produksi yang mana adalah masih keluarga atau kerabat mereka. Contoh jelas dari hal ini adalah kebanggaan orang tua atau kakak atau kemenakan yang menyaksikan anggota keluarganya berpentas. Mungkin karya yang ditampilkan tidak terlalu bagus secara keseluruhan, namun pada saat anggota keluarga tersebut muncul di panggung, rasa bangga yang ada dapat mengalahkan segala penilaian.

Keharusan untuk melakukan kerja sebaik-baiknya bagi pelatih dalam memproduksi pementasan teater sekolah dilingkupi oleh rasa tanggungjawab terhadap siswa dan orang-orang yang dekat dengan siswa. Pertimbangan ini menjadi salah satu kunci keberlanjutan kegiatan teater sekolah. Kesukaan siswa dan orang tua atau anggota keluarga lain atas produksi yang dihasilkan dapat membawa pengaruh positif dan besar eksistensi teater tersebut di sekolah. Jadi sekali lagi, pelatih mesti melakukan kerja sebaik-baiknya, lain tidak.

===== bersambung ====

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: