Merayakan Teater di Sekolah – 4

thumbnail

Oleh: Eko Santosa

4. Produk

Hasil akhir dari proses pembelajaran teater di intrakurikuler dan ekstrakurikuler umumnya adalah pementasan. Seperti bahasan sebelumnya, pementasan yang digelar umumnya adalah drama. Di dalam kelas intrakurikuler ada tagihan kurikulum selain drama yaitu pantomim namun hanya ada di satu semester saja. Secara keseluruhan di sekolah dasar (SMP) dan sekolah menengah (SMA) adalah; fragmen, pantomim, drama musikal/operet, teater tradisional, teater modern, dan teater kontemporer. Semua produk tersebut berdasarkan naskah. Persyaratan adanya naskah dalam semua produk pementasan kelas intrakurikuler ini menandakan kuatnya pengaruh drama dalam pembelajaran. Menarik untuk diulas lebih jauh sebenarnya perkara naskah ini ketika menyangkut pantomim, drama musikal, dan teater kontemporer karena format penulisannya bisa jadi berbeda dengan penulisan naskah drama secara umum. Selain itu, faktor pemahaman mengenai teater kontemporer pun perlu pembahasan tersendiri. Pengertian dasar kontemporer sebagai sewaktu atau masa kini dalam teater berbasis naskah itu mesti jelas patokannya.

baca juga : Merayakan Teater di Sekolah – 3

Naskah sebagai sumber dasar artistik juga masih menjadi satu hal pokok dalam aktivitas teater ekstrakurikuler. Hanya saja produk pementasan kelas ekstrakurikuler tidak terikat bentuk atau gaya seperti di kelas intrakurikuler. Bebasnya ikatan bentuk dan gaya ini sekilas memberikan keleluasaan bagi produk teater ekstrakurikuler, namun kenyataannya justru variasi bentuk dan gaya tidak atau jarang sekali tercipta selain hanya drama saja. Kemungkinan pantomim masih bisa menjadi pilihan produksi namun bukan produksi mandiri melainkan dalam rangka festival, seremonial, atau lomba. Dorongan untuk mengikuti lomba atau festival memang menjadi salah satu alasan kegiatan ekstrakurikuler teater diadakan. Tetapi sayangnya kesempatan untuk itu juga terbatas, dan jika ada pun pasti formatnya adalah drama atau pantomim.

Kecenderungan pementasan drama baik dalam kelas intra maupun ekstra tidak bisa dipungkiri karena memang bahan dasarnya adalah naskah. Meskipun bentuk dan gaya ditawarkan dalam kurikulum intrakurikuler namun bentuk drama menjadi pilihan utama. Padahal kata yang digunakan di dalam kurikulum adalah “teater” dan bukan “drama”. Kecenderungan memilih drama sebagai produk ini memang tidak bisa lepas dari pengalaman budaya teater sekolah di Indonesia.

Jauh sebelum teater dimasukkan sebagai salah satu aspek dalam mata pelajaran Seni Budaya, drama sudah lama diajarkan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia pokok bahasan sastra. Di dalam pelajaran ini, siswa umumnya diminta untuk membaca naskah pendek atau adegan dan kemudian memeragakannya di depan kelas. Struktur naskah drama dalam pembelajaran di kelas Bahasa memiliki tujuan yang tentu saja bukan tujuan artistik melainkan kebahasaan itu sendiri. Selain itu, guru Bahasa Indonesia tidak memiliki atau diberikan bekal semasa studinya ilmu pemeranan. Kondisi ini sedikit menjelaskan bahwa drama (sastra) dan pemeranan (teater) adalah dua ilmu berbeda. Keberbedaan ini lah yang sejatinya bisa memberikan makna bahwasanya seni teater tidak harus didekati atau memproduksi pementasan drama saja.

Di dalam seni teater, produksi yang dihasilkan sangat bervariasi tergantung kreativitas guru atau pelatih. Bahkan, di dalam khazanah teater tradisional dan modern pun ada pementasan teater yang sama sekali tidak menggunakan naskah sebagai bahan dasar artistik. Bentuk dan gaya pementasan teater sangat memungkinkan untuk dikembangkan. Wujud ekspresi pemeran dalam menyampaikan pesan cerita atau moral pementasan sangat kaya. Pendekatan teatrikal sebenarnya lebih memiliki peluang menghasilkan ragam produk yang dapat disesuaikan dengan minat siswa atau peserta kegiatan teater baik intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler.

=== bersambung ===

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: