Merayakan Teater di Sekolah – 5

thumbnail

Oleh: Eko Santosa

Merayakan seni teater di sekolah membutuhkan tenaga, waktu, dan pikiran khusus. Koneksi dan komunikasi antara beberapa pemangku kepentingan pun harus terjalin dengan baik. Seni teater di sekolah tidak hanya melibatkan guru/pelatih dengan siswa/peserta semata. Di dalam kegiatan ekstrakurikuler misalnya, pelatih teater harus bisa menjalin komunikasi dengan orang tua siswa jika kegiatan dilaksanakan hingga malam hari. Selain itu, hubungan baik dengan penjaga sekolah pun harus dibina karena tanpanya, penyediaan ruang latihan bisa menjadi kendala. Di dalam kegiatan intrakurikuler, guru teater harus mampu memberikan pemahaman kepada guru lain mengenai proses pembelajaran praktik teater. Sebab jika tidak bisa jadi kelas lain akan merasa terganggu. Intinya, situasi kondusif harus benar-benar diperhatikan sehingga proses pelatihan atau pembelajaran – khususnya praktik – dapat berjalan dengan baik.

baca juga : Merayakan Teater di Sekolah – 4

Penting untuk diterapkan setelah situasi kondusif didapatkan adalah keberlangsungan kelas teater itu sendiri. Dalam hal ini guru atau pelatih harus memperhatikan masukan (siswa), proses, metode latihan, dan luaran (produk). Kondisi siswa pada saat akan mengikuti pembelajaran teater mesti menjadi pertimbangan utama karena start setiap siswa berbeda. Ada siswa yang sudah paham atau memang tertarik dengan teater tetapi ada pula yang tidak atau mungkin cenderung menolak. Di kelas ekstrakurikuler yang berdasarkan minat bakat pun kondisi siswa ini perlu mendapatkan perhatian. Sumber daya manusia, dalam hal ini, siswa sangat penting bahkan menjadi hal utama dalam pengembangan dan pemberdayaan teater sekolah. Tanpa siswa teater sekolah juga tidak akan ada. Guru dan pelatih mesti memahami keinginan atau harapan dari masing-masing siswa untuk menemukan model yang tepat sehingga kelas teater bisa berjalan menyenangkan.

Proses cipta karya yang dilakukan semestinya memperhatikan keinginan dan harapan siswa. Kaena tidak mungkin menerapkan proses berteater dengan pendekatan profesional, maka perlu ditempuh cara lain untuk berproses. Perlu diingat bahwa dalam pembelajaran kelas intrakurikuler, siswa tidak dimaksudkan untuk menjadi seniman teater pada akhirnya. Pun bukan pula teater hanya dianggap sebagai pengetahuan semata. Kelas intrakurikuler mengedepankan pemampuan aspek kognitif sehingga teater harus mengikuti tujuan ini. Teater hadir tidak hanya sebagai materi ajar namun juga media pembelajaran dalam rangka peningkatan kemampuan kognitif siswa. Jadi secara garis besar, siswa belajar teater di kelas intrakurikuler adalah mempelajari teater secara kreatif dan bernalar. Sifat kreatif dan bernalar ini juga harus menjadi ruh dari pelatihan teater ekstrakurikuler. Oleh karena itu, proses yang dilakukan tidak harus linier sehingga berbagai aktivitas (sisipan atau selingan) dapat dilakukan dalam rangka mendukung terciptanya karya.

Guna mendukung proses, metode yang diterapkan bisa jadi beragam bergantung pada situasi dan kondisi yang ada. Artinya, tidak hanya satu metode saja yang digunakan sehingga kurang bisa menampung aspirasi peserta atau siswa. Di dalam kelas intrakurikuler, meski pendekatan drama yang digunakan namun metode pembelajarannya dapat menggunakan model pembelajaran yang aktif dan kreatif. Dewasa ini, pembelajaran berpusat pada siswa menjadi keniscayaan sehingga peran guru tidak lagi sebagai sentral. Oleh karena itu, pembangkitan kreativitas siswa menjadi penting dan penilaian benar-salah dapat ditinjau dari berbagai sisi. Penilaian dengan tinjauan dari berbagai sisi ini mensyaratkan pembelajaran yang tidak matematis. Artinya, kebenaran satu tindakan di dalam teater bergantung dari situasi, kondisi, dan emosi yang ada dan melingkupinya. Jadi tidak lagi ada peran atau akting yang stereotipe, tidak ada lagi cerita yang mesti kronologis, tidak ada lagi judgment atas satu lakuan berdasarkan interpretasi tunggal pengajar. Atmosfer kreatif ini mestinya juga menyelimuti kelas ekstrakurikuler. Penggunaan beragam metode dalam proses berteater selama kelas berlangsung menjadi keharusan. Bukan metode yang bersifat trial and error melainkan metode yang dapat mendukung produksi yang ditetapkan berdasarkan kehendak semua pihak yang terlibat.

Penerapan metode di dalam kelas intrakurikuler dan ekstrakurikuler dapat dimulai dari keinginan siswa dalam bentuk, jenis, dan konsep produksi. Di dalam kelas intrakurikuler materi fragmen misalnya, ada kemungkinan siswa menghendaki bentuk drama musikal atau teater boneka, maka guru harus mampu mengikuti gagasan kreatif ini. Dengan demikian, meski dengan pendekatan drama namun metode dapat bervariasi karena sifat drama musikal dan teater boneka berbeda dengan drama. Melibatkan siswa dalam penentuan produksi pementasan yang akan digelar mengaktifkan kerja kreatif siswa dan guru atau pelatih itu sendiri. Bahkan ketika bentuk drama yang dipilih, maka belum tentu drama-drama terstandar yang biasa dipahami oleh pelatih yang ditentukan. Lingkungan kehidupan siswa akan mengarahkan mereka untuk memilih bentuk dan jenis produksi pementasan yang sesuai dengan jiwa mereka. Hal ini tidak boleh dihindari karena ketika teater mengajarkan kehidupan, maka menjadi hak siswa juga untuk menentukan ajaran kehidupan seperti apa yang mereka inginkan.

==== bersambung =====

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: