Merayakan Teater di Sekolah – 6

Oleh: Eko Santosa

Di dalam menghidupkan teater di sekolah, seorang guru atau pelatih mesti mampu meleburkan dirinya ke dalam dunia siswa. Cerita yang diangkat ke dalam pementasan mesti sesuai dengan lingkungan atau pergaulan siswa. Keluwesan penggarapan atau pengarahan semacam ini bukan berarti guru atau pelatih kurang berperan secera ideal. Justru dengan mendalami persoalan yang dihadapi siswa dalam kehidupan, gagasan-gagasan kreatif dapat selalu dimunculkan. Dari gagasan-gagasan ini peran guru dan pelatih sangat penting untuk mewujudkannya menjadi ekspresi artistik. Oleh karena itu diperlukan perencanaan program yang baik untuk mengembankan teater di sekolah khususnya dalam kegiatan eksrtakurikuler. Sementara di dalam kegiatan intrakurikuler penggunaan model dan metode pembelajaran mesti disesuaikan dengan tujuan kurikulum. Perencanaan program yang matang adalah keharusan bagi kegiatan ekstrakurikuler teater karena tak ada kurikulum terberi. Artinya pelatih sendiri harus merancang program kegiatan – latihan hingga pementasan – per tahun. David Grote (1997) membagikan pengalaman kesuksesan dalam menyelenggarkan teater di sekolah melalui langkah-langkah berikut ini.

  1. Berusaha selalu menampilkan pertunjukan yang menarik

Pementasan teater di sekolah selalu bisa mendatangkan penonton. Selain pertunjukan ditonton oleh teman-teman pemain sendiri, tidak jarang orang tua dan anggota keluarga lain ikut menyaksikan. Jadi bisa dipastikan bahwa pertunjukan teater yang digela di sekolah akan dihadiri banyak orang. Oleh karena itu tidak ada kata lain bagi teater sekolah untuk menampilkan pertunjukan yang selalu menarik. Kemenarikan ini akan membawa dampak yang besar tidak hanya bagi penonton dan sekolah tetapi juga bagi para pemain.

baca juga : Merayakan Teater di Sekolah – 6

Bagi penonton yang hampir dipastikan semuanya memiliki hubungan dekat dengan pemain terutama orang tua dan keluarga, pertunjukan yang menarik akan membuat mereka yakin bahwa teater memiliki daya tersendiri yang mampu mengubah diri dan memberikan eksistensi kepada para pemain. Bagi sekolah, pertunjukan yang menarik akan memunculkan testimoni positif dari penonton sehingga menjadi satu hal yang logis jika program teater perlu didukung keberlanjutannya. Teater di sekolah tidak ada artinya jika tanpa dukungan pihak sekolah itu sendiri. Dukungan moril merupakan satu hal penting di mana pihak paling berwenang di sekolah menetapkan kebijakan demi mendukung keberlangsungan teater di sekolah. Setelah itu dukungan materiil dapat diusahakan atau paling tidak mendapatkan jalan.

Sementara itu, bagi pemain, kemenarikan pertunjukan membuat mereka merasa berada karena animo dan antusiasme penonton. Kepercayaan diri mereka akan tumbuh dan melahirkan pandangan dan sikap positif atas teater. Kondisi sangat diperlakukan bagi program teater yang telah dirancang. Pemain yang merasa senang akan betah mengikuti pelatihan yang diadakan. Dalam konteks ini, pertunjukan yang menarik dengan sendirinya telah memenuhi ekspektasi atau keinginan para pemain ketika bergabung dalam program teater.

Tantangan bagi pelatih adalah menghadirkan pertunjukan yang selalu menarik tersebut. Di samping itu, semua anggota atau peserta harus merasa terwadahi dalam pementasan sehingga keberhasilan pentas menjadi milik bersama. Pertunjukan yang menarik tidak mesti berkualitas baik sesuai takaran nilai kritikus teater profesional melainkan pertunjukan yang mampu menyedot perhatian penonton dari awal sampai akhir pementasan. Artinya penonton betah menyaksikan pertunjukan karena ada hal-hal yang menarik untuk ditonton. Sebagai misal, teater anak-anak di mana gaya pemeranannya tidak boleh meninggalkan sifat kenak-kanakan. Kekeliruan atau ketaktepatan kecil yang terjadi ketika berlakon justru akan menimbulkan tawa penonton dan hal itu menarik. Tugas berat pelatih dalam hal ini adalah bagaimana caranya membangun mental anak-anak untuk tetap terus berperan ketika terjadi kekeliruan atau ketaktepatan tersebut. Syarat ini berlaku juga bagi teater remaja (sekolah menengah) di mana gairah keremajaan mesti muncul di dalam pementasan.

Pertunjukan yang menarik akan melahirkan minat bagi para siswa lain yang datang menonton. Akibat dari hal ini kemungkinan besar adalah bertambahnya anggota atau peserta aktivitas ekstrakurikuler dalam teater. Selain itu, pertunjukan yang menarik – yang dalam pemaknaan tertentu dikatakan sebagai baik – akan melahirkan kesungguhan bagi para anggotanya. Jadi, siswa yang mengikuti kegiatan atau program ekstrakurikuler teater hanya karena iseng atau ikut-ikutan temannya akan termotivasi untuk bersungguh-sungguh. Kalaupun tidak, mereka akan menyingkir namun tidak akan berpengaruh bagi siswa lain yang benar-benar berminat terhadap teater. Pertunjukan teater di sekolah harus selalu menarik dan pelatih mesti paham bagaimana cara membuat pertunjukan tersebut menarik.

=== bersambung ====

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: