Merayakan Teater di Sekolah – 7

Oleh: Eko Santosa

2. Hindari “pilih kasih”

Perjalanan produksi teater di sekolah selalu saja mengalami kondisi turun naik dalam hal input kemampuan awal anggota. Tidak bisa dipastikan bahwa anggota baru memiliki kemampuan awal kurang baik dibanding anggota lama. Tidak bisa pula dipastikan bahwa kemampuan setiap anggota dari tahun ke tahun akan selalu baik. Pelatih menghadapi berbagai macam latar belakang, kemampuan, kemauan, dan kesungguhan anggotanya dalam mengikuti program teater. Kondisi ini tentu melahirkan sikap atau penanganan tersendiri yang tidak bisa diseragamkan untuk semua anggota per tahun angkatan. Artinya, ada angkatan baru yang bergabung dalam teater dan mereka memiliki kemampuan awal olah gerak yang baik. Ada  pula angkatan yang memiliki kemampuan kognitif mumpuni dibanding angkatan lain. Namun ada pula satu angkatan yang memiliki kemampuan dan kemauan awal beragam.

Di dalam proses produksi, seorang pelatih pasti akan senang mendapatkan pemain yang berkualitas baik. Ia pasti akan mengandalkan pemain seperti ini dalam setiap produksinya. Mengingat beragamnya kualitas bawaan anggota, maka keberadaan pemain berbakat yang mampu berperan dengan baik adalah keuntungan tersendiri bagi pelatih. Namun di satu sisi, hal ini merupakan tanda bahaya bagi komunitas. Jika pelatih terlalu mengandalkan pemain tersebut atau selalu menempatkannya sebagai peran utama dalam setiap produksi, maka benih kecemburuan sosial telah tersemai. Tinggal menunggu waktu kapan tumbuh membesar yang berakibat keluarnya satu per satu anggota yang merasa tidak dibutuhkan atau kurang dianggap.

baca juga : Merayakan Teater di Sekolah – 6

Di sisi lain, tanda bahaya itu juga berlaku bagi pelatih tanpa disadari. Keanggotaan teater sekolah terbatas pada masa studi siswa di sekolah tersebut. Ketika pada waktunya mereka lulus, maka mereka bukan lagi menjadi anggota. Terlalu mengandalkan seseorang dalam berperan dengan demikian tidaklah menguntungkan bagi keberlanjutan program teater di sekolah. Tatkala pemain andalan tersebut lulus, pelatih dengan sendirinya akan sedikit kebingungan untuk mencari pengganti. Jika ada penggantinya, maka penyakit kecemburuan sosial tidak akan bisa dihilangkan. Jika tidak menemukan penggantinya, maka diperlukan kerja keras untuk melatih. Parahnya, ketika melatih dalam rangka menemukan pengganti pemain berkualitas ini pelatih membandingkan kemampuan para pemain baru dengan kemampuan pemain alumnus yang dianggap bagus. Meski maksud pembanidngan tersebut untuk menumbuhkan motivasi pemain baru namun kondisi semacam ini justru tidak akan membangkitkan motivasi seperti yang diharapkan melainkan memperdalam kecemburuan sosial atau perasaan kurang dianggap bagi pemain baru tersebut. Jika berterusan, maka satu per satu anggota akan berguguran dan program teater di sekolah (kembali) menjadi sepi.

Tindakan “pilih kasih” yang bermakna mementingkan orang tertentu dibanding yang lain tidaklah bijaksana. Pelatih memang akan mudah tergoda untuk selalu memasang pemain yang memiliki kemampuan baik. Namun perlu diperhatikan bahwa teater di sekolah berbeda dengan teater profesional sistem bintang. Pengesampingan anggota lain tak ayal akan melahirkan kebosanan karena merasa tak dihargai. Pelatih harus bijak dalam mengelola pemain. Misalnya dalam satu tahun ada dua kali pementasan, maka pemeran utamanya tidak selalu pemain yang dianggap baik tersebut. Pelatih mesti menyadari bahwa semua anggota ingin menjadi peran utama. Pun dengan penonton yang ingin mengetahui potensi dari anggota teater sekolah yang lain.

Salah satu usaha untuk menghindari kecenderungan untuk “pilih kasih” dalam konteks bermain peran ini, pelatih perlu melakukan workshop teater dengan pendekatan berbeda atau bidang artistik. Workhsop ini bertujuan untuk mengembangkan minat bakat anggota dalam bidang lain sehingga masing-masing dapat menemukan kemampuan sesungguhnya. Misalnya pelatih mengadakan workshop teater boneka di mana kualitas suara pemeran sebagai representasi tokoh lebih diperhatikan dan permainan gerak-gerik boneka merupakan ekspresi visual pokok. Ada kemungkinan, anggota yang berkemampuan baik dalam drama tidak memiliki kemampuan sebaik anggota lain. Jika perlu workshop ini dipentaskan dalam konteks produksi meskipun tidak sebesar produksi semesteran atau tahunan. Dalam bidang artistik, pelatih bisa mengadakan workshop tata busana, rias ataupun tata dekorasi panggung. Bisa jadi beberapa anggota teater sekolah memiliki kemampuan baik di bidang ini sehingga mereka merasa berada meski tidak harus sebagai pemain utama dalam pementasan. Hasil dari workshop ini pun bisa dipamerkan di sekolah. Selain memberi apresiasi pada kerja anggota, pameran hasil karya artistik ini dapat memberikan pesan baik kepada sekolah bahwa banyak hal positif yang dapat dikerjakan oleh tim teater sekolah.

Banyak hal memang bisa dikerjakan oleh teater sekolah ketika pelatih mau memperhatikan dan menggali kemampuan anggotanya. Teater di sekolah tidak hanya memproduksi drama di mana menjadi pemeran utama merupakan tujuan akhirnya dan membuat pelatih terjebak untuk “pilih kasih” ketika menemukan anggota berkemampuan baik. Teater dapat menciptakan berbagai macam jenis pementasan dan aktivitas pendukung yang menarik dan memampukan para anggota dalam berkarya selain pemeranan drama. Pelatih yang baik dan berkehendak untuk terus melanjutkan eksistensi teater sekolah pasti akan memperhatikan hal ini karena tidak rela jika teaternya kehilangan anggota.

==== bersambung ====

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: