Merayakan Teater di Sekolah Ke-10

Oleh: Eko Santosa

5. Mencoba melibatkan orang tua

Administratur di sekolah secara umum bekerja dengan tekanan. Mereka cenderung menagih daripada memberikan apresiasi. Mereka akan menuntut tanggjawab atau laporan atas apa yang telah dilakukan. Jadi sebenarnya berat bagi pelatih teater ekstrakurikuler untuk mendapatkan dukungan dari pihak sekolah karena faktor administrasi semacam ini. Meski tidak semua teater sekolah mengalami hal semacam itu di mana administratur memiliki strategi dan penerapan yang lebih luwes namun umumnya dukungan pihak sekolah kepada kegiatan teater minim. Untuk mengurangi tekanan dan lebih memudahkan dalam mendapatkan perhatian pihak pengelola sekolah, pelatih teater bisa melibatkan orang tua siswa.

baca juga : Merayakan Teater di Sekolah Ke-9

Pelibatan ini jelas tidak bisa dilakukan secara langsung di mana orang tua siswa menjadi bagian integral kegiatan ekstrakurikuler teater. Upaya melibatkan orang bisa dilakukan mulai dari menjalin komunikasi dengan orang tua melalui pemberitahuan kegiatan yang dilakukan para siswa. Tentu saja upaya ini juga dilakukan dengan persetujuan siswa anggota teater sekolah. Hal ini mesti dilakukan karena tidak semua siswa dengan ikhlas mau memahami jika semua kegiatannya diketahui orang tua. Mereka secara umum akan merasa dipantau dan itu membuat mereka merasa tidak bebas. Pelatih mesti memberikan pemahaman bahwa komunikasi dengan orang tua yang ia lakukan tidak bermaksud untuk memantau setiap kegiatan melainkan dalam kegiatan atau agenda tertentu yang memerlukan izin orang tua. Kegiatan teater sekolah tidak jarang dilaksanakan sampai malam hari apalagi ketika menjelang hari pementasan. Dalam keadaan seperti ini ketika pelatih berkomunikasi dengan orang tua untuk memberitahukan bahwa kegiatan akan berlangsung sampai malam karena alasan tertentu, maka orang tua akan merasa dilibatkan.

Di sisi lain, siswa juga akan mendapatkan keuntungan karena orang tuanya mengetahui apa yang sesungguhnya ia lakukan. Siswa dalam hal pulang terlambat seringkali dianggap sekedar menghabiskan waktu untuk bermain. Dengan adanya komunikasi semacam ini akan terjalin kedekatan hubungan antara pelatih, siswa, orang tua siswa dan aktivitas teater menjadi panyambung. Komunikasi ini merupakan titik awal dan poin positif bagi pelatih untuk membangun kepercayaan. Pihak sekolah kemungkinan tidak akan begitu mudah meloloskan proposal kegiatan yang diajukan oleh pelatih, namun dengan dukungan orang tua terhadap kegiatan ini kemungkinan tersebut bisa saja berubah.

Peran orang tua dalam mendukung kegiatan menjadi penting jika dikaitkan dengan kepengurusan administrasi atau hal-hal lain yang diperlukan sebagai aspek pendukung kegiatan teater di sekolah. Selain itu, jalinan komunikasi dengan orang tua secara tidak langsung membangun mata rantai kerja teater. Di dalam banyak kasus, utamanya produksi pementasan, tidak jarang teater memerlukan hal yang tidak dapat disediakan oleh sekolah. Ketidaktersediaan ini tidak hanya menyangkut artistik namun juga soal perijinan, kemudahan penyewaan gedung, transportasi, konsumsi, dan masih banyak lagi. Jika orang tua merasa terlibat dan dilibatkan, maka terbuka kemungkinan untun mengatasi persoalan-persoalan tersebut. Bukan dalam konteks pembiyaan, namun cara mengatasi persoalan tersebut bisa mendapatkan kemudahan dari saran atau link yang sudah dijalin orang tua dengan pihak-pihak terkait yang diperlukan dalam produksi pementasan teater tersebut.

Dukungan orang tua siswa terhadap kegiatan teater di sekolah sangatlah penting. Hal ini seringkali diabaikan oleh pelatih teater. Ukuran dan tata cara kesenimanan kadang terlalu masuk ke dalam diri pelatih sehingga seolah-olah hanya dia yang mampu mengatasi segala persoalan yang ada. Ketika kemudian terjadi benturan misalnya, maka jalan keluar frontal sering dilakukan di mana titik akhirnya adalah tidak adanya kesepakatan lagi antara pelatih dan pihak sekolah. Dengan terlibatnya orang tua siswa, maka persoalan yang dihadapi dapat dilihat dari sisi lain dan tentu saja cara penyelasainnya pun menjadi beragam. Paling tidak, keterlibatan orang tua dalam bentuk dukungan terhadap kegiatan teater sekolah akan berdampak pada cara pandang pihak sekolah terhadap teater sekolah, dan ini merupakan satu hal yang sangat berharga bagi keberlangsungan kegiatan teater sekolah.

====bersambung=====

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: