Merayakan Teater di Sekolah ke-12

Oleh: Eko Santosa

7. Hindari mengajar seperti di kelas bahasa

Pembelajaran teater berbeda dengan pembelajaran bahasa. Banyak pelatih atau guru teater masih menganggap bahwasanya teater adalah drama dan drama adalah bagian dari sastra dan oleh karena itu bisa disejajarkan dengan bahasa. Karenanya, kebanyakan dari mereka mengajar teater sebagaimana mengajar kelas bahasa. Tuntutan kurikuler menjadi tujuan utama sehingga penerapan semacam ujian atau tes pun seringkali dilakukan. Siswa dianggap pandai jika mengetahui perbedaan antara tokoh antagonis dan protagonis. Siswa dianggap mampu jika bisa menjelaskan plot dalam drama. Siswa dianggap piawai jika mampu membedah naskah lakon mulai dari tema hingga amanat. Keadaan ini menggambarkan betapa pentingnya memahami analisis naskah dibanding memainkannya.

baca juga : Merayakan Teater di Sekolah ke-11

Ketika guru berada dalam posisi ini, maka waktunya akan banyak tersita untuk hal-hal yang bersifat teori. Bayangkan saja jika guru meminta siswa untuk menganalisis naskah lakon dan jumlah siswa yang diampu 100 orang. Bisa jadi waktunya habis untuk memeriksa pekerjaan siswa tersebut. Itu belum lagi ketika dikaitkan dengan bahasan tata bahasa jenis teks (text type) yang mesti dipahami dalam setiap karya lakon. Waktu yang diperlukan bisa lebih lama lagi. Dari keseluruhan akumulasi waktu itu jika digunakan untuk pembelajaran praktik teater mungkin sudah dapat menghasilkan produk.

Melihat situasi dan kondisi tersebut, pengajaran teater memang mesti dikeluarkan dari kelas bahasa. Artinya, pembelajaran ekspresi teatrikal lebih diutamakan meskipun bahan dasarnya adalah teks. Secara umum, pendekatan praktis lebih disukai oleh pelaku teater pemula. Meskipun begitu pelatih atau pengajar teater jelas tidak boleh meninggalkan aspek sastra (bahasa). Pendekatan praktik teater digunakan untuk memahami karya dan aspek pembentuk karya sastra. Dengan pemahaman ini, aspek ekspresi teatrikal dalam pokok bahasan tertentu disesuaikan dengan aspek sastra yang akan dipelajari. Untuk mewujudkan hal tersebut pelatih mesti kreatif menemukan pendekatan atau model pelatihan yang memampukan siswa dalam hal praktik namun didasari pemahaman teoretis.

Kelas teater semestinya dapat menjadi laboratorium bahasa dalam konteks sastra lakon di mana peran utamanya adalah mewujudkan ekpsresi kata atau kalimat. Kata-kata atau kalimat tertulis dapat dianalisis secara detail dan bahkan matematis namun tetap saja tidak bisa menggambarkan ekspresi emosi yang ada di dalamnya. Kualitas ekspresi emosi yang sesuai dengan peristiwa menjadi wilayah kerja teater. Uraian kalimat yang sama dalam bentuk tulisan bisa jadi memiliki ekspresi yang berbeda secara emosional. Keterbatasan tata kata dan kalimat tulis dapat diatasi melalui ekspresi visual di dalam seni teater.

Perlu disadari bahwa lakon memuat bahasa lakuan di mana makna dialog dapat dipahami ketika diekspresikan melalui aksi pemeran. Dasar pemikiran ini mesti menjadi pegangan pelatih. Dengan demikian proses analisis lakon dapat dilakukan melalui laku pemeranan (latihan sampai pementasan) sehingga pemahaman yang didapatkan kontekstual. Jika proses pembelajaran dilakukan dengan mengedepankan praktika (kualitas ekspresi), maka terbuka kemungkinan menarik minat siswa lebih banyak untuk belajar. Tidak hanya belajar teater namun juga belajar bahasa melalui teater.

==== bersambung ==== 

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: