Merayakan Teater di Sekolah ke-14

Oleh: Eko Santosa

9. Latihan sederhana tapi pentas luar biasa

Materi latihan teater sebagian besar adalah pemeranan mulai dari dasar hingga sampai penghayatan. Proses latihan dilakukan berdasarkan naskah yang akan dipentaskan. Jadi secara umum tidak ada model latihan yang tidak mengarah pada pementasan. Demikianlah yang umum terjadi di kegiatan ekstrakurikuler teater di sekolah. Terkadang untuk mengejar nilai artistik pementasan, latihan diselenggarakan sampai malam hari dengan arahan langsung dari pelatih. Ada semacam anggapan bahwa teater adalah seni tangguh yang mesti diikuti oleh orang-orang militan nan tangguh. Memang ada alasan untuk menyatakan bahwa teater adalah seni tangguh karena pemeran mesti menyiapkan fisik dan mental dalam bermain peran. Tidak boleh ada pemeran yang sakit-sakitan. Oleh karena pernyataan yang diyakini ini, model latihan teater di sekolah sering mengarah pada penyiapan fisik dan mental pemain.

baca juga : Merayakan Teater di Sekolah ke-13

Tiga latihan dasar yang cukup mengakar adalah olah tubuh, olah suara, dan olah rasa. Dua yang pertama adalah dasar sebelum menuju ke yang ketiga. Pentahapan latihan ini seringkali mengalami ketidakjelasan, terutama ketika dorongan utama latihan adalah mementaskan naskah. Pada kondisi ini, latihan dasar diselenggarakan secukupnya untuk kemudian langsung mengarah pada penghayatan peran. Latihan dasar olah tubuh, olah suara, dan olah rasa umumnya diberikan secara optimal kepada anggota baru pada saat acara penerimaan dan penyambutan kehadiran mereka di kelompok ekstrakurikuler teater. Selepasnya, latihan akan mengarah pada materi pementasan namun ketangguhan fisik dan mental tetap menjadi prasyarat. Artinya kesiapan fisik dan mental hanya diberikan secara optimal pada saat pertama masuk sebagai anggota selebihnya menjadi tanggung jawab siswa itu sendiri untuk menjaga ketahanan fisik dan kesiapan mentalnya dalam berkegiatan teater.

Ketakpatuhan pentahapan latihan itu pada akhirnya akan menyulitkan bagi siswa peserta ekstrakurikuler teater. Pada saat kemampuan tubuh dan suara harus diaplikasikan dalam penghayatan peran, ia kurang bisa mengoptimalkannya karena latihan olah tubuh dan suara yang diselenggarakan tidak sampai pada tahap aplikasi. Semua yang ia dapatkan bersifat dasar dan bahkan tidak ada kaitannya dengan peran yang akan dimainkan. Kesulitan ini tidak mudah untuk diatasi karena ketika sudah menyangkut pementasan, maka yang menjadi ukuran kemudian adalah hasil. Bagaimana mencapai hasil tersebut lebih banyak dibebankan kepada siswa karena jadwal latihan terbatas mengingat adanya kegiatan rutin persekolahan. Sampai pada tahap ini, beban siswa semakin bertumpuk. Ia harus menyelesaikan sendiri persoalan penghayatan peran di antara tugas dan kegiatan belajar wajib sekolah.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, pelatih perlu memikirkan model latihan yang tidak menyulitkan atau menimbulkan beban. Tentu saja, pelatih juga mesti mempertimbangkan aspek produksi karena memang salah satu tujuan – mungkin yang utama – dalam kegiatan ekstrakuriker teater adalah pementasan. Bagaimana merencanakan latihan yang sederhana – menyenangkan sekaligus tidak menyulitkan – namun memberikan hasil berupa pementasan yang luar biasa adalah tantangan besar bagi pelatih. Tentu saja ukuran luar biasa adalah ukuran teater sekolah yang mana faktor ketertarikan dan kesukaan penonton pada pertunjukan yang disajikan menjadi satuan pengukur pokok. Selain itu rasa senang para pemeran dan semua yang terlibat dalam produksi pementasan adalah satuan pengukur lain. Artinya, tidak perlu menggunakan ukuran kesenimanan (profesi) dalam menentukan karya pentas yang disajikan tersebut luar biasa atau tidak. Kehadiran pertunjukan yang lain daripada lain, mampu menampilkan problematika remaja secara kontekstual dan cara penyelesaian khas menurut mereka, bentuk pementasan kreatif serta gaya penyajian yang sesuai merupakan tolak ukur produksi karya. Hal ini mesti menjadi pertimbangan pelatih atau guru daripada sekedar mementaskan naskah yang sudah ada namun belum tentu sesuai dengan cara pandang siswa.

Sisi lain tak kalah penting adalah penjadwalan. Penyusunan jadwal latihan ini akan mempengaruhi model atau metode latihannya. Misalnya, dengan jadwal latihan sekali pertemuan per minggu, maka sangat tidak memungkinkan untuk mementaskan naskah full play yang berdurasi 2 jam. Artinya, pelatih atau guru mesti efektif dan efisien dalam memberikan materi latihan dan merancang produksi pementasan terkait dengan jadwal yang ada. Memaksa siswa untuk berlaku melebihi kemampuan serta kondisi yang ada justru tidak akan menguntungkan bagi keberlangsungan teater sekolah itu sendiri. Mungkin dalam satu angkatan terdapat banyak siswa yang memang secara fisik dan mental tangguh sehingga mampu untuk diberi beban lebih. Akan tetapi belum tentu dalam angkatan setelahnya kondisi fisik dan mental siswanya sama. Pelatih dan guru dengan demikian mesti luwes menentukan metode latihan dan produksi pementasan. Teater di sekolah haruis memiliki semangat gembira untuk dan dalam berkarya. Tugas pelatih dan guru adalah mewujudkannya.

==== bersambung ====

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: