Merayakan Teater di Sekolah ke-17

Oleh: Eko Santosa

12. Hindari mencari keuntungan pribadi

Teater di sekolah bukanlah kegiatan yang bersifat ekonomi-perdagangan. Oleh karena itu, bukan merupakan arena/aktivitas untuk mengeruk keuntungan pribadi secara finansial. Teater di sekolah adalah kegiatan pendidikan kemanusiaan yang bermediakan teater. Perkembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap siswa lebih diutamakan. Meski demikian bukan berarti kaidah estetik dan nilai artistik di dalam teater diabaikan. Teater di sekolah merupakan salah satu wujud pendidikan seni dalam membentuk karakter siswa. Secara umum, pendidikan seni ditujukan dalam rangka mengembangkan atau memajukan seni budaya yang mana di dalamnya memuat karakter atau watak bangsa. Dalam perjalannya terdapat banyak persoalan mengenai pendidikan seni ini dari mulai mengajar keterampilan seni semata hingga menyangkut soal nilai sikap yang mesti diemban dalam pelaksanaan pembelajarannya. Hal ini menandaskan bahwa memang seni di sekolah (umum) bukanlan seni dalam konteks mengembangkan keterampilan untuk profesi.

baca juga : Merayakan Teater di Sekolah ke-16

Pikiran dasar mengenai seni di sekolah tersebut mesti dipahami oleh pelatih sehingga pengarahan kegiatannya tidak menjauh dari pendidikan. Karena itu, maka mencari keuntungan finansial dalam kegiatan teater sekolah sangat tidak disarankan. Namun demikian, banyak kejadian dukungan yang seringkali berujung pada keuntungan finansial bagi pelatih. Hal ini normal sebenarnya karena fee pelatih teater di sekolah sangat tidak mencukupi. Seringkali karena hal ini, maka pelatih menjadi tergoda untuk mengembangkan kegiatan atau pendukungan kegiatan yang berkaitan dengan keuntungan finansial. Misalnya, di dalam produksi pementasan memerlukan sewa busana dan pembuatan set atau dekorasi panggung lalu kondisi ini dimanfaatkan oleh pelatih untuk mendapatkan keuntungan finansial dengan menyediakan kebutuhan tersebut melalui dirinya. Kondisi ini sebaiknya dihindari karena nanti akan melahirkan konflik kepentingan yang merugikan bagi keberlangsungan teater di sekolah.

Arahan untuk menghindari pencarian keuntungan pribadi ini merupakan upaya menanamkan nilai-nilai kemanusiaan melalui kegiatan teater sekolah. Satu hal yang terkesan mudah dibayangkan namun sangat sulit untuk dilakukan. Penanaman nilai kemanusiaan di dalam teater umumnya diimplementasikan di dalam lakon. Pelatih menentukan lakon yang ceritanya mengandung nilai-nilai kemanusiaan. Nilai ini biasanya disejajarkan dengan karakter baik yang mesti diajarkan. Karena itulah materi pokok bagi kegiatan produksi teater sekolah adalah lakon. Sayangnya tidak semua lakon teater yang ada di pasaran umum cocok untuk mengajarkan nilai kemanusiaan dengan cara pandang siswa.

Banyak lakon memuat nilai kemanusiaan namun dalam cara pandang atau sajian peristiwa kehidupan orang dewasa. Hal ini menjadi tantangan bagi pelatih untuk menyediakan lakon tersebut. Di sisi lain, produksi pementasan yang terlalu bergantung dengan lakon tersedia kadang kurang tepat bagi siswa. Umumnya, siswa memiliki cara pandang dan citarasa tersendiri mengenai nilai dan cerita yang sesuai bagi mereka. Karena itu, pelatih mesti bisa bekerja bersama siswa untuk mewujudkan penanaman nilai kemanusiaan melalui seni teater. Bukan tugas yang ringan namun mesti diemban. Namun ketika kerja bersama antara pelatih dan siswa ini dapat dibangun serta menghasilkan tampilan memukau sekaligus jauh dari pencarian keuntungan pribadi, maka kemungkinan kelestarian teater sekolah terbuka lebar. Pengembangan teater sekolah memang memerlukan usaha keras dan sungguh-sungguh dan semua usaha pasti akan terbayar pada waktunya serta kembali kepada orang yang berusaha dalam berbagai wujud.

Pengembangan dan pemberdayaan teater di sekolah perlu dilakukan dengan berbagai pendekatan berbasis keragaman sudut pandang. Semua aspek yang melingkupi kehidupan teater sekolah mesti diperhatikan. Menitikberatkan keterampilan seni dalam satu sisi adalah baik namun pertimbangan akan penanaman nilai kemanusiaan di sisi lain juga tidak boleh dilupakan. Fokus pada aspek artistik juga merupakan hal yang baik, namun aspek sosial dan lingkungan juga tidak boleh ditinggalkan. Pelatih atau guru yang terlibat di teater sekolah mesti memahami hal-hal semacam ini sehingga usaha pengembangan dan pemberdayaan teater sekolah dapat terus berlanjut dan menemukan tujuan utamanya: memanusiakan manusia. (**)

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: