Merayakan Teater di Sekolah ke-8

Oleh: Eko Santosa

3. Selalu perhatikan pendanaan

Pendanaan merupakan masalah klasik di dalam kelompok teater baik itu profesional maupun amatir. Tidak jarang pula perkara anggaran terutama dalam hal distribusi keuangan ini menjadikan kelompok teater bubar jalan. Tak terkecuali di sekolah, kegiatan ekstrakurikuler teater dapat saja dihentikan karena faktor pendanaan ini. Bukan perkara pelatih tidak setuju dengan mekanisme pendanaan kegiatan melainkan lebih pada tidak bertemunya pandangan pengelola sekolah dengan pelatih terkait anggaran yang dikeluarkan dan hasil yang diharapkan.

Perkara dana atau pengelolaan keuangan sangat sensitif. Pelatih mesti waspada dan bijak dalam hal ini. Anggapan awam bahwa seniman atau pekerja seni tidak dapat mengelola keungan sudah terlanjur mengakar sehingga tidak ada kata lain bagi pelatih teater di sekolah untuk cermat menggunakan dana yang diberikan. Saran bijaksana untuk menghindari hal-hal yang tidak diingankan terkait pengelolaan anggaran adalah pemahaman bahwa aktivitas teater di sekolah bukanlah tempat yang tepat untuk mencari keuntungan finansial. Semangat ini mesti menjadi landasan gerak dan langkah pelatih. Perkara ada momen tertentu yang dapat menghasilkan keuntungan finansial, misalnya menang dalam festival, itu adalah soal lain.

baca juga : Merayakan Teater di Sekolah ke-7

Pertama yang perlu diperhatikan adalah hasil nyata sebagai akibat pengeluaran dana oleh sekolah. Seberapapun besarnya dana tersebut pasti akan menjadi perhitungan. Dari sisi inilah pelatih mesti meemahami dan hati-hati dalam penggunaan dana. Hal ini dikaitkan dengan produksi pementasan yang dihasilkan. Artinya, jika sekolah tidak memberikan dana berlebih, maka produksi pementasan juga harus menyesuaikan. Secara harfiah dapat dipahami bahwa seberapapun dana tersedia, pementasan yang dihasilkan mesti berkualitas baik. Ini menjadi tanggung jawab pelatih yang mesti diemban selama mengelola kelas ekstrakurikuler teater.

Kualitas baik sebuah pementasan teater sekolah secara tidak langsung merupakan bukti bahwa pengeluaran anggaran tidak sia-sia. Selain itu, dengan penggunaan dana yang pintar namun mampu menampilkan karya pentas berkualitas baik kan menumbuhkan kepercayaan pihak sekolah dan stake holder lain terhadap pelatih. Bukan perkara gampang untuk mewujudkan hal seperti ini. Diperlukan kejujuran, keikhlasan, kreativitas, dan kerja keras pelatih.

Umum diketahui bahwa pementasan teater membutuhkan dana yang tidak sedikit. Dengan pendekatan drama, pementasan harus tampil benar-benar seperti apa yang dikehendaki dalam lakon. Semua elemen berusaha untuk mewujudkan hal tersebut dan inilah yang menyebabkan biaya pementasan tidak sedikit dikeluarkan. Itu pun belum tentu menjamin bahwa kualitas pementasannya baik. Jika kondisi seperti ini terjadi di teater sekolah dan pihak pengelola tidak bisa memahami proses seni, bisa jadi kegiatan esktrakurikuler teater dihentikan karena mengeluarkan banyak anggaran namun hasilnya tidak menentu.

Kreativitas pelatih sangat diperlukan dalam menghadapi persoalan dana ini. Bagaimana dengan dana terbatas namun mampu menghasilkan pertunjukan menarik merupakan tantangan yang berat. Jika tantangan ini dapat dilalui di mana pelatih mampu mengelola keuangan yang ada secara baik dengan hasil pertunjukan menarik, maka besar kemungkinan mendapatkan kepercayaan dari pihak sekolah. Kepercayaan ini merupakan modal utama dan mesti dipertahankan. Seperti jamak diketahui bahwa pendanaan teater tidak hanya menyangkut produksi pementasan namun juga termasuk ruang dan peralatan latihan serta kemudahan akses ke berbagai instansi. Jika kepercayaan terus menguat, maka hal-hal yang dibutuhkan di luar produksi dapat dipenuhi oleh pihak sekolah. Jadi kata kunci dari aspek pendanaan ini adalah kepercayan pengelolaan dari sekolah dan stake holder kepada pelatih.

==== bersambung ====

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: