Merayakan Teater di Sekolah Ke-9

Oleh: Eko Santosa

4. Program terpublikasi dengan baik

Produksi pementasan teater selalu menyertakan publikasi entah dalam bentuk poster, iklan media atau yang lainnya. Publikasi menjadi satu hal yang penting untuk menarik minat penonton datang menyaksikan jalannya pementasan. Di sisi lain, bagi kelompok teater, publikasi ini menjadi penanda eksistensi. Dewasa ini, publikasi semakin murah dan mudah dengan adanya media sosial. Dengan kreativitas dan penyebaran yang sering, maka publikasi model ini akan menjangkau khalayak lebih luas. Sebenarnya selain untuk mendatangkan penonton dan bukti eksistensi kelompok, publikasi bagi teater sekolah berperan penting dalam menggaet angota baru. Secara sederhana, semakin sering teater sekolah berproduksi maka akan semakin massif pula publikasinya. Siswa yang tidak atau kurang tahu perihal kegiatan teater di sekolah bisa menjadi tahu atau bahkan tertarik. Keberadaan publikasi dengan demikian sangat membantu keberlangsungan hidup teater di sekolah. Pementasan teater yang baik dan menarik saja tidak cukup jika tidak didukung oleh publikasi yang baik dan tepat sasaran.

baca juga : Merayakan Teater di Sekolah ke-8

Lebih jauh, publikasi teater di sekolah tidak hanya menyangkut soal produksi pementasan. Pelatih yang kreatif akan membuat berbagai macam kegiatan teatrikal yang bisa dipublikasikan di sekolah. Kegiatan yang diprogram tentunya harus menarik sehingga banyak siswa yang terlibat. Program kegiatan dengan tujuan publikasi ini mesti gampang diikuti dalam artian tidak menggunakan syarat macam-macam dan semua orang bisa melakukannya. Misalnya dalam agenda class meeting, kelompok teater mengadakan perlombaan bersifat permainan teatrikal di mana aturan dan prosedur permainan mudah dilakukan serta menarik. Atau dalam agenda bazaar, kelompok teater mendirikan tempat untuk berfoto dengan menyediakan aneka kostum teater dan papan dialog. Bisa juga dalam pertemuan orang tua siswa, kelompok teater meminta waktu untuk menayangkan cuplikan-cuplikan video aktivitas teater di sekolah. Intinya, banyak hal sebenarnya yang bisa dilakukan selain pementasan untuk mempublikasikan program kegiatan teater di sekolah.

Selain itu kerjasama dengan guru mata pelajaran lain dapat dibina untuk mendukung publikasi program teater di sekolah. Misalnya dengan guru seni budaya aspek lain seperti tari, musik, dan seni rupa kolaborasi pembelajaran dapat dilakukan sehingga siswa memahami peran teater dalam pembelajaran. Misalnya dalam pelajaran menggambar manusia, pelatih teater bisa menerapkan tablo untuk memberikan imajinasi tentang aktivtas manusia. Dalam pelajaran tari, teater bisa masuk ke dalam materi pembentukan gerak bercerita. Di dalam pelajaran musik, teater dapat memberikan performativitas dalam bentuk replika video klip atas lagu yang dinyanyikan. Dengan menerapkan pembelajaran kolaborasi antara pelatih teater dan guru seni budaya aspek lain, maka aktivitas teater yang dilakukan dalam kegiatan ekstrakurikuler akan terpublikasi dan siswa mendapatkan kilas gambaran kegiatan yang dilakukan.

Kerjasama ini tidak menutup kemungkinan dijalin dengan mata pelajaran non-seni. Teater dengan pendekatan dramatik pasti memiliki korelasi yang kuat dengan mata pelajaran bahasa khususnya sastra. Pada bahasan sastra drama atau puisi, pelatih teater dapat mengajukan kerjasama dengan guru bahasa dalam bentuk pembelajaran kolaboratif. Dalam kaitannya dengan sastra (naskah atau kaidah penulisan puisi) guru bahasa yang menyampaikan materinya, namun dalam hal ekspresi artistik atas karya sastra drama dan puisi pelatih teater yang menyampaikan materinya. Dengan kerjasama semacam ini, siswa kelas bahasa juga akan sedikit banyak mengetahui ekspresi artistik teater dan bagaimana hal itu mampu menghidupkan teks drama atau puisi.

Publikasi program teater di sekolah memang semestinya tidak hanya menyangkut soal produksi pementasan yang diselenggarakan atau festival yang diikuti. Publikasi dalam hal produksi sudah menjadi satu perkara jamak yang mungkin malah kurang menimbulkan ketertarikan (karena sudah biasa) bagi siswa lain yang tidak tergabung dalam kegiatan ekstrakurikuler teater. Publikasi secara umum diketahui merupakan sebuah pengumuman yang dibuat dan disebarkan. Jika hanya hal semacam ini yang dilakukan, maka bisa jadi kegiatan teater itu memang hanya untuk orang yang tertarik dengan teater dan tidak untuk yang lain. Untuk menghindari hal ini diperlukan publikasi dalam bentuk program kegiatan – seperti ditulis di atas –  sehingga mampu menarik minat siswa lain yang tidak tergabung dalam kelompok teater ekstrakurikuler di sekolah. Kreativitas pelatih dan kerjasamanya dengan seluruh anggota teater ekstrakurikuler serta elemen lain di sekolah sangat diperlukan untuk mempublikasikan program teater. Bukan dalam rangka menjadi terkenal atau unjuk diri namun semata-mata program dirancang demi menjaga keberlangsungan kegiatan teater di sekolah. Usaha-usaha yang bersifat out of the box memang perlu dilakukan untuk dapat merayakan teater di sekolah.

==== bersambung ====

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: