Eduteater

METODOLOGI KERJA AKTOR ( part 1)

Oleh : Eko Santosa

Aktor adalah pelaku utama dalam sebuah pementasan teater. Ia adalah media penyampai pesan pengarang yang telah berasimilasi dengan gagasan sutradara kepada penonton. Untuk mewujudkan laku pemeranan di atas pentas seorang aktor membutuhkan kerja keras. Sejak pertama kali mendapatkan peran (casting) hingga sampai hari pementasan, aktor melakukan latihan-latihan dengan disiplin tinggi. Metodologi kerja yang baik sangat diperlukan oleh aktor dalam rangkaian proses latihannya.

Metodologi kerja bagi aktor bukanlah teori pemeranan tetapi sebuah rangkaian metode yang harus dilakukan. Seorang aktor memerlukan strategi jitu dalam proses perwujudan peran di atas pentas. Metodologi kerja aktor di bawah ini merupakan hasil dari serangkaian observasi pribadi yang dilakukan oleh beberapa aktor profesional dan didisain untuk melengkapi teori dan strategi pemeranan. Ada 11 (sebelas) langkah yang perlu diperhatikan dalam hal ini, yaitu; (1) Menghapal dengan cepat dan tepat, (2) Membaca dengan pemahaman, (3) Akting adalah aksi dan reaksi, (4) Belajar di rumah, (5) Latihan-latihan, (6) Nalar, (7) Mencoba hal-hal baru, (8) Relaksasi, (9) Membayangkan peristiwa, (10) Konflik dan kontras, dan (11) Perspektif.

1. Menghapal Dengan Cepat dan Tepat

Kerja menghapal dimulai sesegera mungkin setelah mendapatkan naskah. Tidak perlu membayangkan blocking dalam menghapal teks. Untuk lebih memudahkan kerja menghapal dapat menggunakan tape recorder dan teks dibaca sebagai teks. Tidak diperkenankan menambah atau mengurangi kalimat yang ada dalam teks lakon tanpa sepengetahuan dan persetujuan sutradara. Latihan baris-baris dialog yang ada dalam teks lakon dilakukan setiap hari. Semakin cepat dan tepat dalam menghapal maka proses kerja berikutnya menjadi semakin mudah.

2. Membaca Dengan Pemahaman

Naskah lakon tidak tampak hidup jika tidak dibaca dengan pemahaman. Yang dimaksud dengan pemahaman di sini adalah “mengerti”. Langkah pertama dalam pemahaman adalah membaca keseluruhan lakon dan menangkap “apa” maksudnya. “Apa” merupakan kata kunci pertama dalam menghayati naskah. Banyak aktor yang hanya mempelajari baris kalimatnya sendiri dan secara instan mulai memutuskan, “Bagaimana saya harus melakukan dialog ini, bagaimana saya harus mengatakannya?”. Tidak seorangpun aktor dapat menjawab “bagaimana” sebelum tahu “apa” maksud lakon tersebut.

Membaca dengan pemahaman menjawab pertanyaan, “Apa yang (sesungguhnya) saya katakan?” Tidak perlu analisis sub teks untuk menjawab pertanyaan ini, tetapi maksud dasar kalimat yang harus ditangkap. Jika maksud dasar kalimat tidak dimengerti  maka baris dialog akan menjadi hampa dan kehilangan makna. Untuk keperluan tersebut naskah harus dibaca secara keseluruhan agar mengetahui alasan atau maksud yang disampaikan oleh karakter lain serta apa yang ingin diungkapkan naskah itu. Naskah harus dibaca ulang bersamaan dengan proses menghapal berlangsung. Semua detil cerita dan baris-baris dialog menjadi jelas dan tertangkap maksudnya.

Ketika mulai kerja mengembangkan karakter peran dan hubungan-hubungannya maka kemungkinan akan ditemukan pertanyaan-pertanyaan (terhadap karakter dan hubungannya dengan karakter lain). Untuk itu perlu kiranya membuat daftar pertanyaan dan menengok kembali ke belakang dengan membaca ulang keseluruhan naskah. Jawaban-jawaban dari sejumlah pertanyaan tersebut sering kali ditemukan di dalam baris-baris kalimat (dialog). Banyak aktor mengerjakan hal tersebut di atas dan sering kali mereka menemukan karakter (tanpa proses konsultasi dengan sutradara) dan hasilnya tidak mengecewakan.

bersambung….

One thought on “METODOLOGI KERJA AKTOR ( part 1)”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.