Eduteater

Opini: Teater dan Problematika Pembelajarannya Part-2

oleh: Eko Santosa

1. Pelatih, Pengajar, Pendidik

Pembalajaran teater di sekolah diselenggarakan dalam kegiatan kurikuler dan ekstra kurikuler. Proses alih kemampuan dengan demikian juga berbeda secara prinsip dan tujuan. Pembelajaran kurikuler berlangsung sesuai dengan kurikulum yang berlaku sementara ekstrakurikuler dapat dilangsungkan sesuai kemampuan yang semestinya dimiliki pelaku teater. Kelas di dalam pembelajaran kurikuler tidak membeda-bedakan antara siswa satu dengan yang lain, artinya seluruh kelas mendapatkan pelajaran yang sama. Sedangkan kelas di dalam kegiatan ekstra kurikuler berdasarkan minat dan bakat. Dari perbedaan secara umum ini semestinya pemateri memahami tujuan dari masing-masing kegiatan. Namun yang terjadi sering atau bahkan umumnya metode ekstra kurikuler diterapkan dalam pembelajaran kurikuler. Akibat dari kondisi ini kelas yang sifatnya klasikal mengajarkan kemampuan sebagaimana kelas kurikuler sehingga peran guru menjadi seperti pelatih.

baca juga : Opini: Teater dan Problematika Pembelajarannya Part-1

Di dalam dunia pendidikan dikenal istilah pelatih, pengajar, dan pendidik. Sekolah merupakan proses dikjartih atau pendidikan, pengajaran, dan pelatihan. Secara umum pendidikan dimaknai sebagai pembelajaran yang bertujuan untuk membentuk sikap, pengajaran untuk membangun pengetahuan kognitif, dan pelatihan untuk mencapai keterampilan psikomotorik. Lebih lanjut, sikap dimaknai sebagai nilai yang mesti dinternalisasikan dalam setiap kegiatan pembelajaran, dengan demikian ia tidaklah diajarkan secara langsung sebagai materi ajar. Pengetahuan diberikan untuk mendayagunakan kerja pikiran dengan mendorong siswa untuk mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Sementara keterampilan psikomotorik berkait dengan penggunaan tubuh dalam bekerja mulai dari meniru hingga naturalisasi atau mampu menciptakan kemahiran psikomotor tersendiri.

Sikap, pengetahuan, dan keterampilan merupakan adaptasi dari taksonomi Bloom yang membagi pembelajaran ke dalam 3 domain (ranah) yaitu afektif, kognitif, dan psikomotor. Domain di dalam Bloom pada perkembangannya mengenal silangan ranah (domain cross) di mana dalam satu tujuan pembelajaran memungkinkan terlibatnya ketiga ranah tersebut meski yang dominan hanya salah satu di antaranya. Seni teater di sekolah baik umum maupun kejuruan sering terlanjur dianggap sebagai pembelajaran dalam ranah psikomotor sehingga hanya keterampilan saja yang diutamakan. Padahal jika menengok ke dalam kurikulum yang berlaku ketiga ranah tersebut telah diadopsi dalam setiap kompetensi dasar. Karena anggapan yang telah umum dan lama berlaku ini, maka guru seni teater sering berperan hanya sebagai pelatih jika memang menguasai keterampilan berteater atau hanya sebagai pengajar jika menguasai hanya teori teater saja. Jika pun ada guru yang bisa menjadi pengajar, pelatih, dan pendidik sekaligus jumlahnya tidaklah seberapa.

Penempatan posisi ini menjadi penting artinya di dalam proses kegiatan pembelajaran karena akan berpengaruh pada luaran. Di sekolah umum dalam kegiatan intra kurikuler yang lebih mengutamakan capaian kognitif tentunya berbeda dengan kegiatan ekstra kurikuler yang lebih memampukan aspek keterampilan. Demikian pula dengan sekolah kejuruan yang mensyaratkan siswanya memiliki keterampilan berbasis pengetahuan untuk menjalani hidup sesuai profesi. Seringkali  keutamaan ini tidak berjalan sebagaimana mestinya. Guru intra kurikuler sekolah umum mengajar selayaknya kegiatan ekstra kurikuler. Guru ekstra kurikuler mengajar seolah-olah siswa adalah calon seniman sehingga skala waktu pencapaiannya tidak sesuai dengan skala waktu tersedia di sekolah. Guru kejuruan mengajarkan keterampilan kepada siswa secara empirik dan kurang dilandasi dengan pengetahuan ilmiah serta kurang mencermati kebutuhan keterampilan riil di masyarakat. Jika diurai dan dicermati satu per satu, akan didapatkan kondisi ideal di mana guru intra kurikuler teater membelajarkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan dengan fokus pada pengembangan dimensi beripikir. Guru ekstra kurikuler membelajarkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan dengan fokus pada pengembangan minat dan bakat sesuai perkembangan usia siswa sekolah. Sementara guru sekolah kejuruan (menengah) membelajarkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan dengan fokus pada skill profesional yang dibutuhkan di dalam dunia kerja.

Problem dasar fokus pembelajaran ini perlu sekali diperhatikan. Di dalam kelas intra kurikuler semestinya fokus pada pengembangan atau optimalisasi dimensi berpikir ini menjadi tujuan utama. Kurikulum semestinya berisi kompetensi yang mendukung tujuan ini. Teater di dalam kelas ini tidak hadir sebagai sebuah keterampilan yang dinilai berdasarkan skala praktik berteater semata. Semua kegiatan atau aktivitas pembelajaran teater dirancang secara spesifik untuk meningkatkan kinerja pikiran. Dimensi berpikir yang diacu dari Bloom ini mensyaratkan adanya tingkatan berpikir mulai dari mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Guru dengan demikian harus mengarahkan kegiatannya untuk mendongkrak daya pikir ini. Sementara masih sering kita saksikan di kelas intra kurikuler dimana teater diajarkan dengan metode ceramah untuk bagian yang bersifat pengetahuan dan pembakuan ekspresi artistik untuk bagian yang bersifat keterampilan. Karenanya baik pengetahuan maupun keterampilan sifatnya adalah hafalan. Jadi tidaklah mengherankan jika masih dijumpai ekspresi teater yang wujudnya tipikal dengan penilaian benar-salah. Logika tidak lagi hadir di situ karena interpretasi bersifat tunggal dan wajib diikuti. Padahal dalam proses penyajian ekspresi artistik, teater tidak lepas dari pembangunan logika lakon melalui karakter. Dari sisi inilah kreasi dibangun. Kreativitas selalu memaknakan sebuah kegiatan menciptakan sesuatu yang baru baik bermula dari tak ada atau mengubah yang telah ada. Jika pengetahuan adalah hafalan dan ekspresi artistik tipikal dan bertafsir tunggal yang diajarkan, maka kreativitas mati. Kreasi tidak akan pernah hadir jika logika alpa.

Di dalam kelas ekstra kurikuler yang siswanya penuh minat, pengelolaannya sering seperti sanggar, termasuk di dalamnya model pembelajaran yang diterapkan. Pengalaman-pengalaman lalu pelatih menghiasi ruang kelas dan terkadang ia menempatkan dirinya menjadi patron. Fokus utamanya adalah hasil sehingga siswa-siswa yang dianggap kurang bisa memenuhi target hasil tersisihkan dengan sendirinya. Akhirnya anggota menjadi semakin berkurang seiring berjalannya waktu. Anehnya, kondisi semacam ini terus bertahan. Tidak ada perubahan model atau metode dan tidak ada upaya penelisikan untuk menemukan akar masalah dan jalan keluarnya. Kelas ekstra kurikuler semestinya diselimuti semangat gembira berkarya. Mereka diajak bersama terlibat untuk menghasilkan karya sesuai dengan psikologi perkembangan mereka. Di dalam proses pembelajaran kelas ini memang keterampilan diutamakan, tetapi bukan lah keterampilan bersifat hafalan. Minat dan bakat siswa dipupuk secara khusus di sini. Salah urus bisa jadi membuat patah arang dan berakibat minat menghilang. Kebisaan yang hendak dicapai di kelas ini disesuaikan dengan fakta usia dan problematika hidup siswa. Karena itulah karya-karya baru semestinya hadir di kelas ini karena problematika hidup yang dihadapi siswa bisa dipastikan berubah. Mencari materi pelatihan yang tepat menjadi tantangan pengampu karena setiap anak (siswa) memiliki kekhasan tersendiri. Terlalu mengandalkan pengalaman masa lalu tidaklah mencukupi. Karena itulah pengampu kelas ekstra kurikuler mesti senantiasa belajar. Minat dan bakat tidak bisa dipupuk hanya dengan mimesis.

Di dalam kelas kejuruan, kurikulum (semestinya) sudah disusun sedemikian rupa dengan tujuan melahirkan pekerja profesional di bidangnya sesuai dengan level kualifikasi. Proses pembelajaran di dalam kelas ini diukur berdasarkan kebutuhan dunia kerja. Menjadi problem utama adalah dunia kerja teater yang selalu abu-abu antara panggung atau tv dan layar lebar, serta antara menjadi pemeran atau tim artistik. Masing-masing pilihan ini membawa konsekuensi tersendiri di dalam kelas. Situasi dan kondisi dunia kerja harus dihadirkan dalam proses pembelajaran, mau tidak mau. Ini menjadi kendala utama dengan abu-abunya pilihan. Termasuk posisi abu-abu para pengampu antara dunia kelas dengan dunia kerja. Artinya, dunia nyata pekerjaan itu belum sepenuhnya dipahami. Penyiapan siswa sebagai pekerja dengan segala kemampuan yang dibutuhkan belum sepenuhnya tergambarkan. Bahkan ketika pilihan kerja itu pada akhirnya adalah sebagai seniman, belum pula tergambarkan dengan jelas sisi manajerial yang mesti ditempuh dan dikuasai untuk survive. Usaha-usaha menuju profesionalitas kerja bagi lulusan kejuruan sebenarnya selalu dilakukan. Namun konsep tidak akan mewujudkan apapun tanpa laku nyata, dan hal ini hanya bisa diatasi oleh para pendidik. Siswa kejuruan bukanlah siswa ekstra kurikuler yang masih perlu dipupuk bakatnya. Siswa kejuruan adalah siswa yang mesti dipersiapkan untuk menghadapi kehidupan pelaku (pekerja) teater sesungguhnya, sehingga tindak sekedar memupuk bakat masih jauh dari cukup.

Perlu posisi jelas bagi sekolah kejuruan untuk disinggahi. Menjadi pelaku teater untuk panggung, tv, dan film itu berbeda. Menjadi pemain teater itu berbeda dengan menjadi tim artistik. Kejelasan posisi ini mesti segera ditentukan. Berikutnya perlu menyediakan semua kebutuhan untuk menempati posisi baik itu dari sisi kurikulum, pengetahun, praktika, attitude, dan segala hal yang melingkupinya. Jika profesi pemeran teater panggung yang ditentukan misalnya, maka semua komponen pembelajaran mesti mengarah ke sini. Faktor utamanya adalah kemampuan pengampu kelas, baik kemampuan atas materi ajar maupun kemampuan menyampaikan materi tersebut. Pada posisi ini sudah tidak ada lagi kira-kira dalam artian siswa diberi keterampilan lain sebagai cadangan jika jalur peran panggung tak bisa didapatkan. Oleh karena itu penentuan posisi membutuhkan studi atau riset yang didahului dengan penelusuran besaran permintaan akan profesi pemeran panggung dan kebertahanan profesi tersebut di masyarakat. Akan menjadi suram sekiranya penentuan posisi hanya sekedar mempertahankan sesuatu yang sudah tak lagi diminati (tak lagi hidup). Kerja keras berikutnya adalah menempati posisi ini dengan segala sumber daya yang diperlukan. Sumber daya ini akan menjadi penentu arah tepat luaran yang dihasilkan. Sumber daya ini akan menyiapkan insan pekerja profesional dalam bidangnya, bukan insan yang hanya bisa memiliki kemampuan substansial namun tidak tahu menahu regulasi dan psikologi dunia kerja. Artinya, semua kegiatan pembelajaran dalam kelas kejuruan teater itu fungsinya untuk mempersiapkan siswa dalam melanjutkan hidup di dunia kerja sesuai dengan profesinya. Tentunya tidak hanya kemampuan berteater semata yang diajarkan namun juga soal penting lain yaitu, “bagaimana melakoni hidup dengan kemampuan yang dimiliki”.

==== bersambung====

One thought on “Opini: Teater dan Problematika Pembelajarannya Part-2”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.