Eduteater

Opini: Teater dan Problematika Pembelajarannya Part-3

oleh: Eko Santosa

2. Drama dan Teater

Konten seni teater di sekolah umum memiliki perjalanan lumayan panjang. Sewaktu belum berdiri sendiri sebagai salah satu aspek dalam mata pelajaran seni budaya, istilah teater tidak dipergunakan melainkan drama yang pembahasanya ada di dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Di sini, drama dikaji (dipelajari) sebagai karya sastra yang pada salah satu tahapnya mesti diekspresikan di depan kelas. Pengekspresian drama tentu saja tidak memuat estetika pemeranan sesungguhnya seperti di dalam teater melainkan sebagai pewujud nilai atau moral yang disisipkan melalui dialog para tokoh. Pun itu bukan merupakan drama penuh (full play), tetapi hanya satu atau beberapa penggal adegan. Ekspresi drama di sini lebih merupakan penegasan bahwa sebagai karya sastra, drama memiliki dimensi lain yaitu pelakonan (praktik berperan). Namun demikian, fokusnya tetap pada drama itu sendiri karena seni peran bukan menjadi bagian integral dari pelajaran bahasa.

Rupanya, proses pembelajaran drama yang sudah menahun ini masih mendominasi ruang kelas ketika seni teater sudah berdiri sendiri sebagai salah satu aspek dalam mata pelajaran seni budaya. Di kelas ini, hampir semua pembelajaran teater didekati dengan naskah lakon dan semua pementasan berdasarkan naskah. Wujud pementasan teater selalu bersifat dramatik dengan mengedepankan dialog tokoh di dalamnya. Yang menjadi soal adalah pendekatan dramatik ini seolah-olah mengunci kemungkinan ekspresi lain yang dapat dicapai atau diajarkan di dalam aktivitas pembelajaran seni teater. Model pembelajaran praktiknya berkutat pada hafalan naskah yang kemudian dilakonkan baik di depan kelas atau dalam agenda tertentu sebagai bentuk ujian atau perayaan. Tujuan utamanya pun masih seperti dalam pelajaran bahasa di mana nuansa penyampaian amanatnya tekstual. Aktivitas laku siswa terbatasi oleh teks dengan ekspresi baku atau yang telah dibakukan. Model ini kurang menghadirkan penalaran di kelas melainkan hanya memorizing dan praktika nya mimetik. Hal yang sangat wajar sebenarnya ketika titik berat pembelajaran ada pada bidang kebahasaan, namun menjadi kaku ketika titik beratnya adalah pementasan (ekspresi artistik dalam menyampaikan pesan).

baca juga : Opini: Teater dan Problematika Pembelajarannya Part-2

Ditilik dari sisi lain, di dalam kelas intra kurikuler yang siswanya beragam minat, bakat, dan kemampuan, pilihan dramatik ini tidak mampu mewadahi kekhasan cara belajar masing-masing siswa (teori belajar). Padahal secara umum diketahui bahwa ekspresi teater sangatlah beragam bahkan ada jenis teater yang dapat ditampilkan dengan tanpa berdasar naskah lakon atau tidak menggunakan dialog sama sekali. Untuk teater semacam ini jelas tidak bisa dipelajari dengan pendekatan drama (naskah lakon). Selain itu, keberagaman tampilan teater menyediakan banyak ruang kreasi bagi siswa sehingga bisa menampung semua sisi kecerdasan siswa. Pilihan ruang kreasi ini juga bisa dijadikan alternatif wahana untuk mendayakan dimensi berpikir siswa.

Di dalam perjalanannya, kurikulum seni teater untuk sekolah umum sudah mulai menjabarkan ragam perbedaan ekspresi ini. Namun kungkungan dramatik masih terasa karena hampir semua bentuk teater yang harus diajarkan dilandasi lakon kecuali pantomim. Apakah drama tidak penting di dalam pembelajaran teater? Jawabannya sangatlah penting, namun tidak semua kegiatan pembelajaran teater didasari pada drama (naskah konvensional). Untuk menyampaikan pesan moral tidak selamanya menggunakan dialog verbal realistik. Banyak pilihan ekspresi yang menantang yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan moral sebuah pertunjukan. Bentuk pementasan teater sangat beragam sehingga memungkinkan nalar kreatif berkembang. Teater bisa muncul dalam bentuk teater boneka, gerak, musikal, dan lain sebagainya. Pilihan ekspresi artistik di dalam seni teater inilah yang semestinya dikedepankan sehingga siswa satu dengan yang lain dapat distimulasi untuk saling berkreasi sesuai kemampuan daya pikir, model belajar, dan ketertarikannya. Dengan mengedepankan ekspresi artistik seni teater, maka kelas menjadi produktif karena akan selalu menciptakan karya baru dalam bentuk dan gaya beraneka warna sesuai perkembangan nalar siswa.

Pilihan pengajaran teater berbasis drama dapat diajarkan di kelas ekstra kurikuler secara penuh. Pembelajaran di dalam kelas ini mengedepankan seni peran sesuai dengan perkembangan psikologis siswa. Karena kemampuan peran yang diasah, maka penyampaian pesan tidak hanya bersifat tekstual seperti di dalam pelajaran bahasa namun kontekstual. Artinya, pesan akan tersampai dengan baik jika bersesuaian antara si penyampai pesan, pesan yang disampaikan dan cara menyampaikan pesan. Pesan yang akan disampaikan telah menjadi wilayah sastra dan telah pula tertulis di dalam lakon sehingga peran utama pelatih (guru pengampu) kegiatan ekstra kurikuler adalah mengasah minat bakat siswa dalam menyesuaikan (memerankan) dirinya dengan (sebagai) sosok penyampai pesan dan caranya menyampaikan pesan.

Pilihan teater dramatik (drama realis) yang banyak ditentukan sebagai materi pembelajaran teater di kegiatan ekstra kurikuler sayangnya sering mengabaikan perkembangan psikologis siswa. Hal ini berakibat siswa menemui jalan buntu dalam memerankan karakter tertentu yang tak sesuai realitas kehidupannya. Awam akan dengan mudah mengatakan bahwa hal itu bisa diatasi dengan mengajarkan atau melatihkan kemampuan berimajinasi siswa. Celah kelemahan imajinasi sering terabaikan di sini terutama kaitannya dengan realita. Di dalam lakon realis yang menjadi bahan dasar pementasan teater mensyaratkan adanya kesesuaian lakon dan karakter dalam lakon dengan kenyataan hidup. Dalam konteks ini, imajinasi tidak bisa dihadirkan secara mengambang melayang-layang melainkan harus dilandasi pada kenyataan hidup. Lalu bagaimana imajinasi hadir jika karakter yang akan dimainkan tidak pernah dijumpai dalam realita hidup pemeran? Bagaimana mengimajinasikan karakter yang dimainkan jika peristiwa yang dihadapi karakter itu juga tidak pernah dijumpai dalam realita hidup pemeran? Di sinilah celah besar imajinasi itu berada dan dari sini pulalah mulanya akting mimesis itu dilahirkan. Karena sulitnya pemeran menemukan imajinasi berbasis realita, maka jalan pintas (yang biasa diambil) adalah membentuk pemeran dengan ukuran pelatih (guru pengampu). Ukuran ini didapatkan atas imajinasi pelatih (guru pengampu) berdasar realitas yang dia lakoni selama hidup dan simpulannya terhadap karakter dan lakon yang harus dimainkan. Dari titik inilah lingkaran setan karakter stereotipe dibentuk dan dari titik ini pulalah kreasi itu membatu. Mungkin akan lain halnya jika lakon yang dimainkan sangat dekat dengan keseharian hidup siswa di mana imajinasi menemukan dasar pijakannya sehingga kreasi tak lagi mati.

Problematika drama dan teater seperti di atas menghujam lebih dalam di sekolah kejuruan seni teater. Fokus pembelajaran menentukan luaran (output) yang dihasilkan dan ukuran keberhasilan hanya bisa (boleh) dicatat jika alumni mampu menyelenggarakan hidupnya dengan kemampuan yang didapatkan dari sekolah. Drama dan teater sama-sama dipelajari namun fokusnya yang berbeda. Fokus ini sangat tergantung pilihan dari sekolah kejuruan bersangkutan mengait lapangan pekerjaan tersedia. Kekuatan drama adalah akting realis di mana puncak keberhasilan dari akting adalah “tak akting”. Artinya laku peran di atas panggung atau tv/film nampak bagaikan nyata, natural, tidak dibuat-buat. Sementara kekuatan teater ada pada bentuk dan gaya penyajiannya di atas panggung. Sajian teater tidak terkungkung pada drama melainkan pada konsep yang mendasari pilihan bentuk dan gaya pementasan. Jika kedua hal ini dipilih yaitu drama dan juga teater, maka bisa dipastikan keduanya tidak akan tercapai secara optimal mengingat banyaknya mata pelajaran lain (selain teater) di sekolah kejuruan dan waktu tersedia juga terbatas.

Secara mendasar, fokus pada pembelajaran drama akan melahirkan lulusan yang piawai bermain dalam teater dramatik yang memungkinkan untuk diaplikasikan dalam teater panggung maupun tv/film. Meskipun tentu saja lain wahana lain pula pendekatan, namun pilihan dramatik tidak terlalu jauh penyesuaiannya antara panggung dan tv atau film. Jika fokus pada pembelajaran teater panggung, maka siswa dipersiapkan untuk bisa bermain dalam berbagai bentuk dan gaya produksi teater panggung. Kecakapan tidak hanya melulu soal dramatika (penjiwaan karakter secara dramatik) namun juga menyangkut kecakapan tubuh dan suara secara spesifik misalnya akrobatik, menari, menyanyi, dan gabungan di antaranya. Fokus pada teater panggung memiliki banyak pilihan namun walakin membutuhkan banyak kecakapan yang mesti diajarkan. Semuanya sangat tergantung dari visi sekolah kejuaran seni teater tersebut serta penyediaan sumber daya untuk mencapai visi yang telah ditetapkan. Tentu tidak mudah karena memang drama dan atau teater juga bukan persoalan mudah untuk dilakoni sebagai profesi.

====bersambung===

One thought on “Opini: Teater dan Problematika Pembelajarannya Part-3”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.