Eduteater

Opini: Teater dan Problematika Pembelajarannya Part-4

oleh: Eko Santosa

3. Karya Seni dan Media Pembelajaran

Seni teater dalam kegiatan pembelajaran di sekolah selalu memiliki mata ajar pementasan. Mata ajar ini dianggap sebagai proses kreatif penciptaan atau proses berkarya teater. Anggapan ini tidaklah salah namun harus dilihat dari berbagai perspektif. Sampai hari ini sebagian besar memandang pementasan teater dari perspektif karya seni semata. Hal ini mengakibatkan semacam tuntutan untuk mereplikasi proses berkarya selayaknya seniman. Semua guru atau pengampu menganggap karya pentas siswa sebagai sebuah karya seni dan harus dihargai sebagai karya seni. Prosedur kerjanya pun kemudian mengarah kepada proses penciptaan karya seni. Perspektif ini bertahan di semua jenis kelas (intra, ekstra, dan kejuruan). Kemampuan artistik diukur berdasarkan skill para pemeran dan pendukung pementasan dalam berolah seni. Guru atau pengampu yang berlaku sebagai sutradara juga menganggap dirinya sebagai seniman. Dari perspektif ini, “pendidikan” seolah-olah menjadi terpinggirkan meskipun semua proses dilakukan di sekolah sebagai institusi pendidikan yang sangat penting peranan dan keberadaannya. Bahkan dari banyak pengalaman memberikan gambaran seolah-olah sekolah memberi batasan untuk proses kreatif berkarya seni. Batasan bisa berupa norma dan aturan yang diberlakukan yang dianggap menghambat proses olah seni tersebut. Dari perspektif ini, sekolah seolah-olah tidak hadir di dalam pelahiran karya seni teater selain hanya sebagai penyedia sumber daya manusia dan fasilitas saja.

Perspektif karya seni ini memberikan pengaruh signifikan terhadap peran guru atau pengampu yang ingin menyejajarkan dirinya dengan seniman. Dalam kaitannya dengan kegiatan pembelajaran berbasis kurikulum hal ini memunculkan kendala tersendiri. Kegiatan pembelajaran di sekolah umum mengedepankan proses bukan hasil sehingga penilaian didasarkan pada perkembangan kemampuan siswa khususnya ranah kognitif. Sementara dengan memosisikan diri sebagai seniman orientasinya adalah hasil dengan fokus penilaian pada skill artistik. Fokus ini mempengaruhi model dan metode pembelajaran. Model mimesis, drill skill untuk mencapai keterampilan atau teknik tertentu biasa ditemui sehingga pengampu mata pelajaran sering mengabaikan elemen pedagogis lainnya. Anggapan guru seni sebagai seniman menjadikan struktur kurikulum, kelengkapan perangkat pembelajaran, dan panduan pelaksanaan pembelajaran menjadi dokumen administratif semata. Tujuan akhirnya adalah pada hasil, dan hasil dalam pembelajaran seni teater adalah pementasan sebagai karya seni. Secara umum, anggapan bahwa guru atau pengampu teater disebut berhasil mengajar jika mampu mempersembahkan pentas teater yang baik – sesuai ukuran kesenimanan – masih menjadi narasi besar.

baca juga : Opini: Teater dan Problematika Pembelajarannya Part-3

Narasi ini betah mengeram dalam diri sebagian besar guru seni teater sehingga seringkali dijumpai hambatan psikologis dalam mengelola pelaksanaan kurikulum. Kasus yang umum ditemui adalah adanya anggapan ketidaktepatan struktur kurikulum dengan model pelaksanaan pembelajaran di sekolah yang dimaui oleh guru. Hasil akhir dari kondisi ini adalah muatan pembelajaran yang ada di dalam kurikulum dianggap tidak akan pernah bisa dicapai secara optimal jika dikaitkan antara kuantitas konten dan waktu tersedia. Anggapan ketidaktercapaian ini sebenarnya merupakan wujud nyata dari perspektif teater sebagai karya seni sehingga tolok ukurnya lagi-lagi adalah skill artistik.

Tolok ukur ini sebenarnya bisa diterapkan di dalam kelas ekstra kurikuler dan kejuruan. Walakin, skill artistik yang hendak dicapai dalam kelas ekstra kurikuler dan kejuruan tidak bisa semata-mata menggunakan toloh ukur kesenimanan utamanya dalam hal ketersediaan waktu selama proses serta metoda prosesnya. Siswa sekolah dasar dan menengah tidak dimungkinkan untuk melaksanakan proses latihan malam hari secara rutin plus tidak mungkin pula menjalankan metode pendekatan peran secara penuh dalam kehidupan kesehariannya. Di kelas ekstra kurikuler, karya seni teater yang ditampilkan harus bersesuaian dengan psikologi perkembangan siswa. Di dalam sekolah kejuruan, ukuran yang dipakai adalah produksi sehingga prosedur yang digunakan adalah prosedur kerja produksi. Itupun hanya diperuntukkan bagi siswa tahun akhir di mana proses penciptaan karya berada dalam ruang lingkup produksi. Pada tahap ini pun siswa belumlah menjadi pemeran profesional melainkan sedang berada dalam posisi tawar dengan dunia industri melalui kerja produksi. Artinya, tidak bisa serta merta ukuran kesenimanan diterapkan di dalam proses penciptaan karya seni teater di sekolah kejuruan.

Pementasan teater di sekolah umum semestinya dipandang dari perspektif karya seni sebagai media pembelajaran. Artinya pementasan yang diselenggarakan merupakan bagian dari proses pembelajaran. Dengan ini, tolok ukurnya bukan karya seni yang dihasilkan melainkan proses yang mendasari lahirnya karya seni tersebut. Bisa jadi atau sangat dimungkinkan karya seni yang dihasilkan mendapat nilai jelek menurut standar kesenimanan tapi memiliki nilai baik dalam hal peningkatan level kognisi, sikap, dan keterampilan siswa selama proses dilangsungkan. Dari perespektif ini guru atau pengampu bukanlah seniman melainkan seorang yang bertugas mendidik siswa melalui, dengan, dan dalam seni. Untuk menuju kondisi ini diperlukan perubahan pola pikir. Satu hal yang tidak sederhana namun harus dilakukan.

Perspektif karya seni sebagai media pembelajaran akan membuat pengampu menguraikan materi ajar ke dalam proses penciptaan karya seni. Misalnya di sekolah umum kurikulum menyatakan perlunya pembelajaran penulisan lakon, maka karya seni lakon dalam konteks ini bukan menjadi tujuan akhir melainkan proses menuliskan lakon itulah yang menjadi arus utamanya. Dari proses ini siswa akan belajar mengoptimalkan daya pikirnya mulai dari memahami konsep penulisan lakon, menerapkan teknik menulis lakon, menganalisis dan mengevaluasi draft lakon hingga menciptakan (menuliskan) karya lakon sesuai kaidah penulisan lakon. Optimalisasi daya pikir selama proses menulis ini lebih penting artinya dibanding hasil akhir yaitu karya lakon. Dengan demikian tidak adil kiranya menggunakan skala ukuran sastrawan untuk menilai karya lakon yang dihasilkan dari proses pembelajaran ini. Hasil dari seluruh proses pembelajaran hanyalah merupakan portofolio atau  perkembangan kemampuan yang tecatat melalui sampel produk yang dihasilkan.

Perspektif karya seni sebagai media pembelajaran selayaknya menghiasi ruang kelas intra kurikuler, ekstra kurikuler, dan kejuruan. Dengan berfokus pada proses penciptaan, maka guru atau pengampu seyogianya tidak menyejajarkan dirinya dengan seniman melainkan penyemai aras berpikir tinggi sekaligus mampu mewujudkannya bagi siswa melalui seni (untuk sekolah umum), penuntun perkembangan minat dan bakat seni siswa (untuk kegiatan ekstra kurikuler), dan penghasil calon pekerja seni (untuk sekolah kejuruan). Menganggap karya seni sebagai hasil akhir tentulah kurang bijaksana karena karya seni bukanlah titik henti melainkan titik tolak untuk proses pembelajaran berikutnya.

=== bersambung ===

One thought on “Opini: Teater dan Problematika Pembelajarannya Part-4”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.