Eduteater

Opini: Teater dan Problematika Pembelajarannya Part-6

oleh: Eko Santosa

5. Aktor dan Non-aktor

Model atau metode pelatihan teater sekolah selama ini seolah-olah diturunkan dari model dan metode pelatihan aktor. Jadi tidak terelakkan jika materi yang diajarkan memang bertujuan untuk mencetak siswa piawai bermain teater. Nilai-nilai semacam kepercayaan diri, kerja sama, membangun simpati dan empati serta tanggung jawab menjadi nilai sampingan yang dirayakan setelah tak mungkin tercapainya parameter skill akting siswa tersebut. Artinya nilai-nilai itu bukan menjadi tujuan utama siswa belajar teater. Sementara untuk sekolah umum yang siswanya belum tentu semuanya minat terhadap teater justru nilai-nilai itulah yang penting. Sangat lain tentunya konten dan konteks pelatihan antara intra kurikuler, ekstra kurikuler, dan sekolah kejuruan teater. Karena secara umum materi mengarah pada skill akting, maka perlu kiranya dikembangkan materi untuk non-aktor.

Siswa sekolah umum peserta mata pelajaran teater (intra kurikuler) semestinya mendapatkan materi latihan untuk mengembangkan nilai diri melalui teater. Pelatihan tubuh misalnya, bukan diarahkan untuk menggunakan keterampilan tubuh dalam berperan melainkan bagaimana mengenali kepekaan dan kewaspadaan tubuh melalui latihan-latihan teatrikal. Tubuh di sini bukan dipahami sebagai tubuh pemeran yang mesti nampak estetik di atas panggung melainkan tubuh siswa yang mesti dibangun kulturnya sehingga melahirkan kepekaan-kepakaan terhadap diri sendiri dan lingkungan. Betapa banyak sekarang kita saksikan kejadian yang memperlihatkan bagaimana tubuh tak lagi bersepaham dengan lingkungannya karena si pemilik tubuh tidak menyadari keberadaan tubuhnya. Banyak terjadi orang memaksa terus bekerja meski tubuhnya telah memberi peringatan untuk istirahat dan akhirnya jatuh sakit karena ia abai atau justru sama sekali tak menyadari warning yang diberikan tubuh padanya. Banyak pula terjadi orang saling injak hanya demi mendapatkan sesuatu melalui antrian panjang melelahkan sehingga saling tak sabar dan berebut. Pikiran terlalu mengarahkan pada apa yang akan didapatkan sehingga tubuh tak lagi diperdulikan. Lebih dalam lagi, banyak orang yang tak lagi membudayakan tubuh untuk mengadaptasi keadaan sehingga tubuh tidak tahu harus bagaimana ketika berada dalam antrian, melewati orang-orang yang sedang duduk, mengambil makanan di warung dari belakang seseorang yang sedang makan, atau menggunakan kursi umum untuk diduduki sementara banyak orang berdiri. Hal ini, dalam pendidikan, jauh lebih penting daripada menggunakan tubuh untuk berakting.

baca juga  : Opini: Teater dan Problematika Pembelajarannya Part-5

Penanaman dan pengembangan nilai diri ini mesti lesap ke dalam materi pelatihan sehingga peserta tanpa sadar telah menginternalisasi nilai-nilai tersebut. Hampir semua elemen teater memiliki nilai yang dapat ditanamkan ke dalam diri seseorang. Di dalam konteks teater untuk pendidikan, materi pelatihan teater menjadi media utama. Seperti pada penjelasan mengenai kultur tubuh di atas, jika dilakukan pada semua aspek, maka akan membentuk persona berbudaya. Hal ini sangat tergantung dari visi guru atau pengampu dalam membelajarkan budaya tersebut. Artinya, teater di sekolah umum dalam kegiatan intra kurikuler menjadi media pembentuk pribadi sesuai budaya yang diinginkan. Konsep ini mengarah kepada pelatihan teater untuk non-aktor atau untuk orang-orang yang tidak berkehendak menjadi aktor.

Pola atau sistem pelatihan teater untuk non-aktor dengan tujuan pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai diri dan kehidupan belum banyak dimunculkan. Pelatihan teater di sekolah selama ini selalu memiliki materi keras untuk meningkatkan skill berteater saja. Perlu satu terobosan dan keberanian untuk memunculkan sisi positif yang melekat dalam teater namun bukan perihal elemen pokok kecakapan berteater.  Sisi positif yang sudah ada bersemayam dalam diri seseorang yang perlu dibangkitkan melalui latihan teater. Sisi positif yang dibangkitkan dengan penuh kesadaran dan bukan sebagai efek samping dari sebuah latihan. Konsepsi semacam ini telah dipupuk-kembangkan oleh Viola Spolin dengan mengusung theater game sebagai pembelajaran seni teater di sekolah. Semua hal dasar yang wajib dimiliki oleh seorang pemain teater diajarkan melalui sebuah permainan. Hal-hal dasar ini diajarkan secara teatrikal tanpa harus berasumsi bahwa peserta pelatihan nantinya akan menjadi aktor. Ragam permainan yang ada menyebar mulai dari kesadaran (kemawasan) akan diri sendiri, kerjasama hingga sampai pada kreatifitas. Semua bisa dilatihkan untuk non-aktor namun nilai yang ada di dalamnya juga dapat digunakan oleh para calon aktor untuk meningkatkan potensi dirinya dalam seni peran.

Selain dari apa yang telah dibelajarkan oleh Spolin, khasanah teater terapan membuka kemungkinan luas untuk model pelatihan bagi non-aktor. Berbagai pendekatan dapat dilakukan termasuk di dalamnya pendekatan dramatik namun dengan ukuran yang sama sekali berbeda dengan keaktoran. Bagaimana teater sebagai media penyadaran atau pembangkit kesadaran diri menjadi lebih penting dari teater itu sendiri.  Model pelatihan semacam ini sangat diperlukan dalam mata pelajaran teater di sekolah umum. Orientasi tunggal untuk menjadikan seorang sebagai aktor atau pekerja teater secara tampak mata dengan sendirinya telah gugur karena tidak semua siswa di sekolah itu memiliki minat yang sama. Oleh karena itu kesadaran menemukan atau mencari model teater untuk non-aktor menjadi keniscayaan.

Pada nantinya model dan metode pelatihan teater antara kegiatan intra kurikuler di sekolah umum, ekstra kurikuler, dan sekolah kejuruan akan benar-benar berbeda. Tidak semuanya sama karena memang orientasinya tidak sama. Satu hal penting yang perlu dipikirkan dan diwujudkan adalah pelatihan untuk non-aktor karena memang keberadaannya langka atau bahkan tidak ada. Teater dengan demikian bisa diharapkan untuk memenuhi kebutuhan baik sebagai seni maupun media pendidikan. Ragam model dan metode pelatihan diterapkan sesuai kebutuhan sehingga tidak lagi terjadi penyeragaman antara latihan teater untuk menjadi aktor dan latihan teater non-aktor untuk menemukan kesadaran, nilai, dan mengembangkan potensi diri.

===== bersambung ====

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.