Opini: Teater dan Problematika Pembelajarannya Part-8

oleh: Eko Santosa

7. Kurikulum dan Pengembangan Diri

Kurikulum teater di sekolah memiliki perjalanan panjang. Secara garis besar konteks tidak banyak berubah namun memiliki pengembangan signifikan. Di sekolah kejuruan, dewasa ini seni teater dipisahkan antara pemeranan dan tata artistik yang sebelumnya menjadi satu kesatuan. Otomatis, jabaran kompetensinya menjadi semakin detail. Hal ini dikarenakan siswa yang menempuh pendidikan bidang pemeranan tidak akan mendapatkan materi tata artistik secara khusus, demikian pula sebaliknya. Sementara itu detail dari masing-masing aspek di dalam konten mensyaratkan adanya pendalaman atau spesifikasi materi yang lebih mendasar. Jika sebelumnya konten olah tubuh, misalnya, hanya dijabarkan ke dalam olah tubuh ketahanan, kelenturan, dan keterampilan atau ketangkasan, maka sekarang olah tubuh ketahanan, kelenturan, dan keterampilan itulah yang dijabarkan menjadi sub-sub kompetensi yang mesti diajarkan. Artinya, dengan terpisahnya aspek artistik dari pemeranan, maka pendalaman sub materi dalam setiap aspek menjadi keniscayaan. Jika tidak dijabarkan secara detail, maka waktu tersedia terlalu banyak untuk sedikit materi.

Pemisahan aspek artistik dan pemeranan ini menggambarkan fokus kompetensi yang akan dicapai seturut ketersediaan lapangan pekerjaan. Sebelumnya kompetensi kejuruan yang ingin dicapai adalah teater. Semua pengetahuan dan keterampilan teater diajarkan di sini sehingga terlihat terlalu umum. Tidak ada keahlian khusus. Pengubahan ini tentu saja membawa konsekuensi tersendiri bagi pengajar. Materi pengajaran yang sebelumnya terjabar secara umum harus mendapatkan pendalaman khusus. Pengajar harus mampu menangkap detail setiap kompetensi untuk diberikan secara bertahap sehingga mencapai ketuntasan pada waktunya. Problem utama yang perlu disikapi adalah penjabaran materi yang sudah detail ini ke dalam sub materi pengajaran pada setiap pertemuan. Di sinilah kemampuan guru menyajikan detail materi itu diperlukan.

baca juga : Opini: Teater dan Problematika Pembelajarannya Part-7

Situasi ini mewajibkan pengajar untuk mengembangkan diri dalam menemukan model dan pola pelatihan yang beragam. Setiap sub materi harus dilatihkan sebaik mungkin sehingga kekhususan keterampilan yang diajarkan menemukan tujuannya. Untuk itu diperlukan satu usaha tersendiri bagi pengajar sebab mengandalkan buku wajib atau pengalaman yang pernah dialami tidaklah cukup. Contohnya, dalam pembelajaran olah tubuh ketangkasan menggunakan peranti tangan, seorang pengajar tidak bisa hanya mengajarkan satu teknik dengan satu jenis peranti tangan saja. Ia harus memberikan kekayaan ragam oalh tubuh ketangkasan dengan peranti tangan dalam berbagai macam koreografi sesuai tuntutan adegan. Konsekuensi logis dari konten spesifik adalah ketelitian atau kehati-hatian. Dalam kasus ini, semua seluk beluk teknik penggunaan peranti tangan harus benar-benar dikuasai sehingga tidak mencelakai pemain (siswa).

Berkebalikan dengan kurikulum sekolah kejuruan, teater di sekolah umum non kejuruan diajarkan secara general. Artinya ia tidak sepesifik pada satu bidang artistik tertentu. Secara umum, generalisasi materi terbagi menjadi penulisan lakon, pemeranan, dan pementasan. Tiga bidang ini selalu ada di dalam setiap semester dengan pembedaan pada jenis teater yang akan dipentaskan. Kepiawaian pengajar dituntut di sini karena secara keilmuan, bidang yang diajarkan sama hanya berbeda wujud produknya. Pengajar harus mampu menawarkan teknik atau pendekatan baru dalam setiap bidang per semester. Langkah penulisan lakon misalnya, jika diajarkan secara standar dan bergantung pada format tertentu, maka setiasp proses penulisan lakon siswa akan mengalami pengalaman belajar yang sama. Demikian pula pada bidang pemeranan dan pementasan. Jika tidak dijaga melalui teknik dan pendekatan pembelajaran yang kaya siswa akan mengalami kejenuhan. Kreasi model pembelajaran sangat diperlukan di sini. Pengaja harus memotivasi dirinya untuk kembali belajar sehingga bisa menemukan kekhasan dari setiap pembelajaran dalam bidang yang sama setiap semester. Sebuah tantangan yang tidak mudah namun harus dihadapi.

Di dalam dunia persekolahan, perubahan kurikulum adalah suatu keniscayaan untuk mencapai target atau tujuan yang lebih baik. Perubahan tidak hanya menyangkut format atau hal-hal administratif namun yang terpenting justru nalar dari perubahan tersebut. Pengajar yang bergeming berdiri berdasar pengalaman yang pernah dilalui dan referensi yang pernah dibaca akan kewalahan karena ia akan memaksakan kemampuan yang sebenarnya sudah tidak lagi diperlukan atau memerlukan pembaruan. Akibatnya, perubahan kurikulum apapun tidak akan mengubah cara mengajar pengajar tersebut. Pun demikian dengan luaran yang dihasilkannya. Jika sudah demikian, maka makna peningkatan kualitas pendidikan teater di sekolah menjadi terkaburkan. Oleh karena itu tiada kata lain bagi pengajar teater selain senantiasa belajar sehingga ilmu dan keterampilannya senantiasa terbarukan.

(***)

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: