Eduteater

Opini: Teater dan Problematika Pembelajarannya

oleh: Eko Santosa

Teater sebagai salah satu cabang seni pertunjukan, menarik untuk dicermati. Semua unsur seni dapat dilebur ke dalam pertunjukan teater. Semua media ungkap dapat digunakan dalam menyampaikan nilai (moral) cerita kepada penonton. Banyak pilihan artistik di dalam teater. Banyak kemungkinan tujuan di dalam proses penciptaannya. Karena fleksibilitasnya itu teater bisa dihadirkan bahkan di luar panggung seni yang biasa melingkupinya. Teater yang mengambil inspirasi dari kehidupan dapat dihadirkan dalam kehidupan secara langsung dengan melibatkan partisipasi masyarakat baik sebagai penonton maupun pemain tambahan di dalam konteks teater pemberdayaan. Pada ruang dan waktu lain yang tidak kalah penting, teater dapat hadir di sekolah sebagai media pendidikan. Luasnya cakupan dan jangkauan ini membuat teater senantiasa dapat bertahan di tengah kehidupan masyarakat.

Namun demikian, keluasan teater tidak serta merta mudah diterima dan bahkan di beberapa tradisi tertentu mengalami pembatasan-pembatasan. Hal ini mungkin terjadi karena ketatnya idealisme dalam berkarya, berlakunya norma-norma yang telah ditetapkan pada masa lampau, keterbukaan pikiran yang terbatas, pengakuan-pengakuan yang sifatnya mempribadi atau perkara lain yang membuat pemaknaan teater tetap sempit. Soal pemaknaan ini seringkali membawa dampak langsung pada kehidupan teater. Pemaknaan teater sebagai karya seni pada satu masa bersitegang dengan pemaknaan teater sebagai produk. Yang pertama menekankan pada kepuasan batiniah sementara yang kedua dianggap sebagai bagian integral dari tindakan jual beli yang bersandar pada pemenuhan kebutuhan pesanan atau pasar. Sitegang ini sulit sekali lumer ketika para pelaku dari dua belah pihak tetap pada sudut pandangnya masing-masing. Dari sisi estetika pun tak jarang terseret pada perdebatan receh nan mengharu-biru kehidupan para pelaku teater. Estetika keindahan yang dimaknai sebagai pengejawantahan nilai positif masyarakat sering harus bertabrakan dengan estetika keindahan teater sebagai sebuah keberpihakan. Perdebatan, sitegang ataupun perseteruan ini tak hanya meruyak di panggung tetapi juga mengambil ranah pribadi yang mengakibatkan lahirnya sentimen personal.

Keberbedaan itu sesungguhnya menjadikan seni teater kaya, jika disadari. Dengan demikian tinggal para pelaku menempatkan diri di posisi yang jelas dan menjalani laku teaternya dengan ikhlas. Pertentangan yang terjadi dapat disikapi secara kualitatif dengan saling menunjukkan karya, saling menyodorkan wujud artistik atas gagasan dan pikiran yang ada. Dari kondisi semacam inilah teater tumbuh. Dari kondisi ini pulalah keluasan cakupan dan jangkauan teater itu terlahirkan. Munculnya bentuk atau gerakan baru dalam teater memang selalu menghadirkan pro dan kontra, pun demikian dengan seni lainnya. Namun dengan kesadaran penuh mengenai kealamian pro-kontra ini, pelaku teater justru terberanikan untuk selalu mencipta karya. Hari ini misalnya, kita tidak akan mungkin melihat karya-karya Brecht yang demikian cerdas jika ia tidak menentang konsepsi keindahan realisme yang disodorkan oleh Stanislavsky. Pun demikian kiranya jika realisme tidak menanggapi secara kritis konsepsi keindahan teater presentasional, kita tidak akan pernah risau sekaligus terpesona dengan estetika realisme di dunia teater. Kehadiran bentuk baru bisa saja sebagai akibat dari perkembangan atau pertentangan terhadap bentuk lama. Selama karya baru bermunculan, selama itu pula perbedaan lahir dan nafas hidup seni teater terus berdenyut.

Beragam perbedaan ini membutuhkan penyikapan tertentu. Satu bangunan konsep tidak bisa dibedah dengan pisau sama yang digunakan untuk membedah bangunan konsep lain. Pun demikian dalam pola latihan hingga artistik pementasan. Teater, karena perbedaannya menyediakan banyak ruang kreasi yang dapat menampung berbagai kemampuan di dalamnya bahkan dalam arti bukan untuk profesional. Akan tetapi di dalam pola pengajaran konvensional, kelincahan dan kelajuan perkembangan seni teater di kalangan pelaku seni seringkali ditanggapi secara lambat. Apa yang faktual terjadi dan mendapatkan tanggapan secara riil belum bisa selekasnya mewujud dalam teks-teks pengetahuan baru untuk dipelajari. Belum lagi jika formalitas ruang kelas ini mentradisi di mana hanya pengetahuan yang dianggap telah teruji – diteliti dan atau dibukukan – yang diajarkan. Ruang kelas dengan demikian menutup diri atas cobaan-cobaan yang telah banyak dilakukan di luaran. Teater telah berubah menjadi ilmu pasti di ruang ini. Kemungkinan-kemungkinan dipinggirkan dan penilaian estetika menjadi matematis bahkan subjektif.  Subjektifitas di area pendidikan semacam ini membendakan teks teater. Ia menjadi bacaan mati yang jika dihidupkan pun akan nampak cacat karena karakter-karakter di dalamnya hanya memiliki satu nafas. Keberbagaian telah menggumpal di dalam skala benar-salah. Skala yang hanya diukur dari sisi pengetahuan atau kebisaan pengajar. Bahkan pada tarafnya yang paling banal, kebaruan-kebaruan yang muncul selalu mengalami penolakan sebelum sempat sampai di depan pintu kelas.

Pola pengajaran konvensional ini tidak hanya terjadi di ruang-ruang kelas dalam pendidikan formal namun juga di dalam komunitas-komunitas teater. Apa yang disebut idealisme seringkali disalahartikan dan disesuaikan secara ketat (hanya) dengan kemampuan pemimpin komunitas (yang dituakan atau biasanya pendiri). Apa yang disebut gagasan baru seringkali berupa rumusan “ambil-tiru-modifikasi”, yang tak diketahui sepenuhnya oleh anggota komunitas. Terlebih lagi ketika pemimpin di komunitas ini merupakan alumni kelas formal yang diselenggarakan secara konvensional. Seni teater berubah menjadi mantera-mantera yang mesti dihafal serta tak boleh berubah karena dianggap bisa menghilangkan tuah jika berubah. Apa yang menjadi kewajiban disebut sebagai prestasi, yang sebenarnya hanyalah sebuah proses berkesenian lumrah disebut sebagai karya monumental. Akibat dari kondisi ini adalah merebaknya cerita masa lalu sang pimpinan komunitas dengan segala kebesaran menurut anggapannya dan di dalam perjalanan komunitasnya ia terus menerus berusaha menyeret hari ini dan kemudian hari ke dalam cerita masa lalu. Akhirnya, jelas tidak akan pernah ada hal-hal baru yang dimunculkan. Semuanya hanya berupa pengulangan-pengulangan dengan pernik yang sedikit berbeda. Akibat terbesar dari situasi semacam ini adalah tidak adanya pembelajaran yang sesungguhnya bagi para calon pelaku teater, semua hanya mengikuti patron yang sudah ada atau diadakan secara paksa. Lebih menggetarkan lagi ketika pemimpin komunitas yang alumni kelas formal nan konvensional ini memiliki kesempatan untuk mengajar kelas formal juga. Bisa dibayangkan betapa diam tegaknya seni teater itu pada keangkuhan dan keyakinannya meski banyak pintu kesempatan yang terbuka untuk dimasuki.

Tentu saja situasi dan kondisi pembelajaran teater di atas tidak berlaku untuk semua ruang sekolah dan komunitas atau sanggar. Namun, latar situasi dan kondisi ini telah banyak mempengaruhi proses pembelajaran seni teater dari guru ke murid atau dari pemimpin ke anggotanya. Keterbatasan sering terjadi bukan karena keadaan melainkan memang diinginkan untuk tujuan tertentu. Tulisan ini menguraikan problematika pembelajaran teater di sekolah umum dan sekolah kejuruan teater dari sudut pandang pribadi dan diharapkan dapat sedikit menyingkap tirai pembatas yang ada.

(bersambung)========

One thought on “Opini: Teater dan Problematika Pembelajarannya”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.